Back to Bali – 30 April 2026 | Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, kembali menjadi sorotan publik setelah mengumumkan daftar 23 pemain yang akan mengikuti pemusatan latihan di Jakarta pada 26-30 Mei 2026 menjelang Piala AFF 2026. Keputusan tersebut menimbulkan perdebatan sengit di kalangan suporter dan pengamat, terutama karena sejumlah pemain yang tampil konsisten di BRI Super League, termasuk bek Arema FC Hansamu Yama, tidak masuk dalam skuad. Mengingat peran penting Hansamu selama beberapa musim terakhir, ketidakterpilihan ini menjadi topik hangat yang patut diulas lebih dalam.
Latihan Intensif di Jakarta, Tanpa Pemain Abroad
John Herdman menegaskan bahwa pemusatan latihan ini tidak melibatkan pemain yang berkarier di luar negeri karena turnamen Piala AFF 2026 tidak masuk dalam kalender resmi FIFA. Fokusnya diarahkan pada pemain domestik yang dianggap memiliki kesiapan taktik dan fisik optimal. Namun, keputusan ini juga membuka peluang bagi pemain-pemain lokal yang kurang dikenal untuk bersaing merebut tempat di timnas.
Performansi Hansamu Yama di Arema FC
Hansamu Yama Pranata, yang menjabat sebagai bek utama dan pernah mengemban kapten timnas Indonesia, menghabiskan musim 2025/2026 bersama Arema FC dengan konsistensi yang mengesankan. Selama 24 penampilan, ia mencatat lima intersep krusial, tiga kali menghalau serangan lawan, serta mencetak satu gol penting dalam laga melawan Persija Jakarta. Kepemimpinannya di lini belakang juga terlihat dari peranannya yang sering mengarahkan lini pertahanan, terutama saat Arema berhadapan dengan tim-tim papan atas Liga 1.
Selain statistik defensif, Hansamu juga dikenal karena kemampuan menyerang melalui umpan silang yang akurat, yang membantu Arema mencetak sejumlah gol dari sisi sayap. Keberhasilannya dalam menyeimbangkan tugas defensif dan kontribusi ofensif menjadikannya salah satu bek paling lengkap di kompetisi domestik tahun ini.
Alasan Taktik John Herdman
John Herdman mengungkapkan bahwa pemilihan pemain didasarkan pada skema taktik yang akan diterapkan di Piala AFF. Menurutnya, sistem permainan yang diusung menuntut bek dengan mobilitas tinggi, kemampuan menutup ruang, serta kecepatan transisi yang lebih cepat daripada profil tradisional bek seperti Hansamu. Herdman menambahkan bahwa ia mengutamakan pemain yang memiliki pengalaman bermain di kompetisi internasional atau yang telah terbiasa dengan pola permainan cepat dan pressing tinggi.
Selain itu, Herdman menyoroti pentingnya fleksibilitas taktik dalam menghadapi ragam gaya bermain tim-tim Asia Tenggara. Ia mengindikasikan bahwa pemain-pemain seperti Komang Teguh yang memiliki pengalaman bermain di BRI Super League dengan gaya serba cepat, serta pemain muda berbakat seperti Zanadin Fariz, dipilih karena kemampuannya menyesuaikan diri dengan skema pressing tinggi.
Reaksi Suporter dan Pengamat
Komunitas suporter Timnas Indonesia dan Arema FC tidak tinggal diam. Banyak yang menilai keputusan Herdman terlalu fokus pada aspek taktik tanpa memberikan penghargaan yang cukup pada performa konsisten pemain domestik. Di media sosial, tagar #HansamuMasukTimnas menjadi trending, menandakan keinginan publik untuk melihat bek berpengalaman tersebut kembali membela warna merah putih.
Pengamat sepak bola pun menilai bahwa menyingkirkan pemain berpengalaman seperti Hansamu dapat berisiko mengurangi stabilitas lini belakang timnas, terutama mengingat kurangnya pengalaman pemain muda dalam situasi pertandingan besar. Beberapa pakar berargumen bahwa kombinasi antara pemain senior dan muda seharusnya menjadi strategi utama, bukan sekadar mengutamakan satu profil pemain.
Implikasi untuk Arema FC dan Piala AFF 2026
Ketidakterpilihan Hansamu Yama juga berdampak pada moral Arema FC. Klub harus mencari solusi agar pemain bintang mereka tetap termotivasi meski tidak mendapat panggilan ke timnas. Pelatih Arema, yang belum disebutkan namanya dalam laporan, diperkirakan akan memanfaatkan peran kepemimpinan Hansamu di level klub untuk menjaga konsistensi pertahanan.
Untuk Piala AFF 2026, Indonesia akan mengandalkan skuad yang sebagian besar terdiri dari pemain domestik dengan pengalaman di liga lokal. Keputusan ini dapat menjadi peluang bagi pemain-pemain yang belum pernah merasakan panggung internasional untuk menunjukkan kemampuan mereka. Namun, tantangan utama tetap pada bagaimana menyatukan beragam karakter pemain menjadi satu unit yang solid dan kompetitif.
Secara keseluruhan, keputusan John Herdman mencerminkan pendekatan taktik yang spesifik, namun menimbulkan pertanyaan mengenai keseimbangan antara pengalaman dan potensi muda dalam rangka menyiapkan tim yang kompetitif di Piala AFF. Bagi Hansamu Yama, ketidakterpilihan ini dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan performa dan menunggu kesempatan berikutnya, sementara suporter Indonesia berharap keputusan selanjutnya lebih inklusif terhadap pemain-pemain yang telah membuktikan diri di kompetisi domestik.













