Back to Bali – 07 Mei 2026 | Diego Simeone, pelatih legendaris Atletico Madrid, kembali menjadi sorotan dunia setelah timnya tersingkir dari semifinal Liga Champions oleh Arsenal dengan agregat 2-1. Kemenangan Arsenal tidak hanya membawa kegembiraan bagi pendukung Gunners, namun juga memicu serangkaian insiden yang menyoroti sisi emosional dan kontradiktif sang manajer.
Kontroversi Lintasan Badge
Setelah gol tunggal Bukayo Saka pada menit ke‑90 menutup pertandingan 1-0 di Emirates Stadium, Simeone melangkah menuju terowongan. Alih‑alih menghindari lambang Arsenal yang terletak di antara lapangan dan ruang ganti, ia terlihat menuruni kaki dan melintasi emblem tersebut bersama bek Jose María Giménez. Video yang beredar di media sosial memicu kemarahan suporter Arsenal, mengingat hanya seminggu sebelumnya Simeone secara terbuka mengkritik Ben White karena melakukan hal serupa di Metropolitano.
Spat dengan Ben White
Pada leg pertama di Madrid, ketika White melintasi crest Atletico, Simeone menghampiri bek pertahanan Inggris itu, menepuk pundaknya berulang kali dan terlibat pertengkaran verbal yang berakhir dengan White dipindahkan. Insiden itu menjadi perbincangan hangat karena dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap simbol klub. Kini, dengan menelusuri badge lawan, Simeone dianggap melanggar standar yang ia tetapkan sendiri, menimbulkan tuduhan hipokrisi di kalangan netizen.
Reaksi Simeone Pasca Pertandingan
Meskipun sempat mendapat kartu kuning karena berkeliling area teknis dengan gestur intens, Simeone tampak tenang ketika diwawancarai oleh wartawan. Ia menyatakan, “Saya merasa damai, tim memberikan segalanya. Arsenal memang memanfaatkan peluang besar mereka di babak pertama.” Ia menambahkan bahwa timnya kurang klinis pada leg pertama, sehingga kehilangan kesempatan untuk mengamankan keunggulan.
Selain mengakui kekurangan, Simeone memberi pujian kepada Mikel Arteta, menyebutnya “sangat luar biasa” dalam mengelola Arsenal. “Mereka pantas berada di final. Kami juga bangga dengan cara kami berjuang, meskipun harus kembali ke Madrid dengan hati yang berat,” ujar pelatih berusia 56 tahun itu.
Penghargaan kepada Pemain dan Suporter
Setelah peluit akhir, pendukung Atletico yang hadir di stadion turut bernyanyi bersama suporter Arsenal, menandakan rasa hormat meski kecewa. Antoine Griezmann, yang sebelumnya berharap mengangkat trofi Liga Champions sebelum pindah ke MLS, menahan rasa sedihnya. Penjaga gawang Jan Oblak menegaskan, “Kami sedih bukan hanya untuk Griezmann, tetapi untuk seluruh fans Atleti.”
Implikasi bagi Atletico Madrid
Kekalahan ini menandai kegagalan ketiga Simeone untuk menembus final dalam 15 tahun kepemimpinannya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa klub tetap berada di posisi yang “baik” dalam kompetisi domestik dan Eropa, serta menekankan pentingnya konsistensi serta mentalitas “never give up”.
Di sisi lain, Arsenal kini menatap final di Budapest melawan Paris Saint‑Germain, sambil mengelola beban jadwal yang padat di Premier League. Dengan tiga pertandingan tersisa di liga, Arteta berharap energi kemenangan semalam dapat diterjemahkan menjadi performa berkelanjutan.
Insiden badge, pertengkaran dengan White, dan komentar damai Simeone menciptakan narasi yang kompleks: seorang manajer yang terkenal dengan intensitas tinggi kini harus menghadapi kritik publik atas tindakan yang dianggap bertentangan dengan prinsipnya. Meskipun demikian, sikapnya yang tetap tenang setelah kekalahan menegaskan bahwa ia lebih memilih fokus pada proses tim daripada drama di luar lapangan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Simeone akan mengubah pendekatan taktis dan mentalnya, serta bagaimana ia mengelola hubungan dengan rival‑rival Inggris yang kini menatapnya dengan kecurigaan. Satu hal pasti, nama Diego Simeone akan terus menjadi topik perbincangan, baik di media sosial maupun dalam lingkup strategis sepak bola internasional.













