Drama Cinta dan Kontroversi Jule, Safrie Ramadhan, serta Na Daehoon: Anak Jadi Bahan Candaan?

Back to Bali – 01 Mei 2026 | Jakarta, 30 April 2026 – Sejumlah selebriti Indonesia dan Korea Selatan kembali menjadi sorotan publik setelah terungkap..

3 minutes

Read Time

Drama Cinta dan Kontroversi Jule, Safrie Ramadhan, serta Na Daehoon: Anak Jadi Bahan Candaan?

Back to Bali – 01 Mei 2026 | Jakarta, 30 April 2026 – Sejumlah selebriti Indonesia dan Korea Selatan kembali menjadi sorotan publik setelah terungkap perseteruan pribadi yang melibatkan tiga figur publik: Julia Prastini atau yang lebih dikenal dengan nama Jule, petinju muda Safrie Ramadhan, dan selebgram asal Korea Selatan Na Daehoon. Perseteruan ini tidak hanya mengusik kehidupan pribadi para tokoh, melainkan juga menimbulkan perdebatan sengit di media sosial terkait etika menampilkan anak di ranah hiburan.

Latar Belakang Hubungan Jule dan Safrie

Safrie Ramadhan, seorang petinju profesional yang sempat menorehkan prestasi di tingkat nasional, diketahui menjalin hubungan asmara dengan Jule setelah berpisah dari Na Daehoon. Kedekatan keduanya kian tampak publik ketika Safrie membagikan foto bersama Jule serta kedua anaknya dalam suasana hangat keluarga. Dalam unggahan tersebut, Safrie menambahkan keterangan yang terkesan santai, namun menimbulkan interpretasi berbeda di kalangan netizen.

Reaksi Na Daehoon Terhadap Unggahan Kontroversial

Na Daehoon, yang sebelumnya menjalin pernikahan dengan Jule dan memiliki tiga anak bersama, mengeluarkan pernyataan keras melalui akun Instagram pribadinya. Ia menuding Jule dan Safrie telah menjadikan anak-anak mereka sebagai “bahan candaan” dalam postingan media sosial. Pada salah satu unggahan, Safrie menuliskan, “Kelihatan kan lebih happy sama siapa? *sumpah jokes*”, sementara pada foto lain ia menampilkan Jule yang tertidur bersamaan dengan putranya, disertai caption “Habis niduran anaknya, giliran nidurin emaknya.” Daehoon menilai kedua postingan tersebut tidak pantas, mengingat sensitivitas isu anak di tengah perceraian yang masih menyisakan rasa sakit.

Dalam pernyataan panjangnya, Daehoon menanyakan, “Apakah tidak ada rasa bersalah sedikit pun di hati kalian menghancurkan rumah tangga dengan tiga anak kecil di dalamnya? Apakah menghancurkan hidup mereka bisa disebut sebagai candaan?” Ia menegaskan keinginannya agar Jule tidak lagi melibatkan anak-anak dalam hubungan asmaranya dengan Safrie, serta memperingatkan bahwa jika tindakan serupa terus berlanjut, ia tidak akan segan mengungkap fakta-fakta lain yang selama ini tertutup.

Perspektif Publik dan Dampak Sosial

Netizen terbagi dalam dua kubu. Sebagian mengkritik keras Jule dan Safrie karena dianggap mengabaikan kepentingan anak, sementara yang lain berargumen bahwa orang tua berhak mengabadikan momen kebahagiaan keluarga, selama tidak melanggar privasi. Diskusi ini menyoroti masalah yang semakin sering muncul di era digital: batasan antara kebebasan berekspresi dan perlindungan hak anak.

Para ahli psikologi anak menegaskan bahwa eksposur publik berlebihan dapat mempengaruhi perkembangan emosional anak, terutama bila mereka menjadi “alat” dalam konflik orang dewasa. “Anak-anak membutuhkan ruang aman, bukan panggung pertunjukan,” ujar Dr. Rina Wulandari, pakar psikologi perkembangan.

Langkah Selanjutnya dan Upaya Penyelesaian

  • Na Daehoon menyatakan akan menuntut klarifikasi resmi dari Jule dan Safrie terkait konten yang dianggap menyinggung.
  • Jule belum memberikan komentar resmi, namun sumber terdekat menyebut bahwa ia sedang mempertimbangkan langkah hukum untuk melindungi hak asuh anak.
  • Safrie berjanji akan meninjau kembali kebijakan media sosialnya dan menghindari konten yang dapat menimbulkan interpretasi negatif.

Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana dinamika hubungan pribadi selebriti dapat meluas ke ruang publik, memicu perdebatan etika, serta menimbulkan implikasi hukum. Sementara itu, anak-anak yang menjadi pusat konflik tetap menjadi pihak paling rentan, menuntut perhatian khusus dari semua pihak yang terlibat.

Ke depannya, pengawasan terhadap konten yang melibatkan anak di media sosial diperkirakan akan semakin ketat, baik dari regulator maupun platform digital, demi melindungi generasi muda dari dampak psikologis yang tidak diinginkan.

About the Author

Pontus Pontus Avatar