Back to Bali – 20 April 2026 | Jakarta, 20 April 2026 – Sebuah terobosan signifikan tercapai bagi sektor hortikultura Indonesia ketika 459 ton durian asal Parigi Moutong, Sulaweti Tengah, resmi dilepas ke pasar Tiongkok dengan nilai total mencapai Rp42,5 miliar. Keberhasilan ini menandai langkah strategis pemerintah dalam mendiversifikasi ekspor, yang selama ini masih didominasi oleh komoditas energi dan tambang.
Transmigrasi yang dulu dikenal sebagai program pemindahan penduduk kini bertransformasi menjadi pusat pengembangan ekosistem ekonomi berbasis komoditas unggulan. Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, menegaskan bahwa fokus kini beralih pada penciptaan nilai tambah melalui produk agrikultural yang memiliki daya saing global, khususnya durian premium.
Peningkatan Permintaan Durian di Pasar China
China telah lama menjadi pasar terbesar dunia untuk durian, dengan konsumsi yang terus melonjak setiap tahunnya. Kenaikan daya beli serta tren konsumsi buah tropis premium menjadi faktor utama yang mendorong permintaan. Bagi Indonesia, peluang ini membuka ruang untuk memperluas pangsa pasar yang selama ini dikuasai oleh negara pesaing lain.
Strategi Pemerintah untuk Memperkuat Ekspor Hortikultura
Upaya mendorong ekspor durian merupakan bagian integral dari kebijakan diversifikasi komoditas. Pemerintah menargetkan peningkatan nilai ekspor hortikultura hingga 30 % dalam lima tahun ke depan. Langkah-langkah yang diambil meliputi:
- Penerapan standar kualitas internasional mulai dari budidaya, pemetikan, hingga proses distribusi.
- Peningkatan infrastruktur logistik, termasuk pembangunan fasilitas cold storage dan jaringan transportasi berpendingin.
- Penguatan kerja sama bilateral dengan China untuk mempermudah prosedur kepabeanan dan mengurangi hambatan non‑tarif.
- Dukungan pembiayaan bagi petani melalui lembaga keuangan negara dan program subsidi pupuk organik.
Kualitas Produk sebagai Kunci Persaingan
Durian Parigi Moutong dikenal dengan cita rasa manis‑asaman yang seimbang serta daging buah yang tebal dan beraroma khas. Untuk memenuhi standar ekspor ketat, petani diwajibkan mengikuti protokol pemeliharaan yang mencakup penggunaan bibit unggul, pengendalian hama terpadu, serta penanganan pasca‑panen yang cepat. Pemerintah bersama lembaga penelitian agrikultur memberikan pelatihan intensif agar para pelaku usaha dapat menjaga konsistensi kualitas.
Logistik dan Penanganan Khusus
Durian segar memiliki masa simpan yang terbatas dan mudah rusak bila tidak ditangani dengan tepat. Oleh karena itu, pengembangan fasilitas penyimpanan dingin di pelabuhan-pelabuhan utama serta peningkatan konektivitas antarwilayah menjadi prioritas. Dengan adanya jaringan transportasi berpendingin, durian dapat tiba di pelabuhan tujuan dalam kondisi optimal, sehingga mengurangi tingkat kerusakan dan meningkatkan nilai jual.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Ekspor durian senilai Rp42,5 miliar tidak hanya menambah devisa negara, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat di kawasan transmigrasi. Peningkatan pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja di sektor pengolahan dan logistik, serta pengembangan usaha mikro kecil menengah (UMKM) di sekitar daerah produksi menjadi indikator keberhasilan program.
Para pelaku industri memperkirakan bahwa jika pengelolaan terus dioptimalkan, durian dapat menjadi komoditas unggulan baru yang menyumbang hingga 10 % dari total ekspor hortikultura Indonesia dalam jangka menengah. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menjadikan sektor pertanian sebagai motor pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, peningkatan standar kualitas, serta jaringan logistik yang memadai, durian Parigi Moutong siap menembus pasar global, khususnya China, dan menjadi simbol keberhasilan transformasi transmigrasi menjadi pusat ekonomi produktif.













