Back to Bali – 26 April 2026 | Rotterdam, 25 April 2026 – Feyenoord menambah koleksi poin penting dalam persaingan ketat untuk peringkat kedua Eredivisie setelah berhasil mengalahkan FC Groningen dengan skor meyakinkan 3-1 di De Kuip. Kemenangan ini tidak hanya memperkuat posisi klub di papan atas klasemen, tetapi juga memberikan suntikan kepercayaan bagi pelatih sekaligus kapten Robin van Persie menjelang tiga pertemuan terakhir musim ini.
Gairah penonton di De Kuip terasa menggelegar sejak peluit pertama. Jordan Bos membuka keunggulan Feyenoord pada babak pertama, memanfaatkan ruang di sisi kanan pertahanan Groningen. Gol tersebut memberi tim tuan rumah dorongan moral yang signifikan, terutama mengingat tekanan persaingan dengan klub-klub papan atas yang masih berjuang meraih tiket Liga Champions.
Detail Laga dan Gol
Setelah gol Bos, Ayase Ueda mempertegas keunggulan dengan dua gol beruntun. Serangan pertama Ueda datang dari serangan balik cepat; ia menerima umpan panjang dari tengah lapangan, menembus pertahanan Groningen, dan menempatkan bola ke sudut bawah gawang dengan tembakan keras. Gol kedua Ueda terjadi pada menit ke-65, ketika ia memanfaatkan kebingungan di kotak penalti setelah kesalahan penguasaan bola oleh gelandang Groningen. Kedua gol tersebut menegaskan dominasi Feyenoord di lini serang.
Groningen tidak tinggal diam. Mereka berhasil mencetak satu gol balasan melalui Thom van Bergen pada menit ke-78, yang memanfaatkan kesalahan penempatan bek kanan Feyenoord. Gol tersebut sempat menambah ketegangan, namun Feyenoord kembali mengamankan kemenangan lewat gol ketiga yang dicetak oleh Ueda pada menit ke-86, menyegel hasil akhir 3-1.
Strategi Pelatih Robin van Persie
Di balik kemenangan ini, Robin van Persie menarik perhatian media dengan metode pelatihan yang terkesan eksentrik. Menjelang pertandingan melawan Groningen, Van Persie mengungkapkan bahwa timnya sempat melakukan simulasi suara lawan sebagai bagian dari persiapan mental. “Kami tidak memiliki layar besar di stadion 1908, namun kami kadang‑kadang melatih dengan suara tim lawan untuk menambah fokus pemain,” ujarnya dalam konferensi pers pasca laga.
Van Persie juga menyebutkan bahwa ia terinspirasi dari rekan pelatih Mikel Arteta di Arsenal, yang pernah menggunakan lampu cahaya berwarna untuk menciptakan ikatan visual antar pemain. “Saya pernah melihat video Arteta menyalakan bola cahaya, saya belum mencobanya, tapi ide dasarnya sama: menciptakan rasa kebersamaan dan motivasi menjelang pertandingan,” kata Van Persie. Metode ini dianggap kontroversial oleh sebagian pundit, namun bagi Van Persie, hal tersebut merupakan upaya menambah sentuhan psikologis pada pemain sebelum menghadapi lawan kuat.
Implikasi Klasemen
Kemenangan ini menempatkan Feyenoord pada posisi ketiga dengan 68 poin, selisih dua poin dari pemimpin liga yang masih memegang posisi pertama. Tiga pertandingan tersisa—melawan FC Twente (peringkat empat), NEC (peringkat tiga), dan satu laga lagi melawan lawan yang belum ditentukan—menjadi krusial untuk mengamankan tiket Liga Champions.
Jika Feyenoord mampu mempertahankan performa serupa, peluang mereka untuk menutup jarak dengan pemimpin menjadi semakin besar. Namun, konsistensi tetap menjadi tantangan, terutama mengingat jadwal yang padat dan persaingan ketat dari klub-klub seperti Ajax, PSV, dan tentu saja FC Twente yang tengah menunjukkan peningkatan tajam.
Di sisi lain, FC Groningen harus menerima kekalahan ini sebagai pelajaran. Tim Belanda tersebut kini berada di posisi menengah klasemen dan harus memperbaiki pertahanan bila ingin menghindari ancaman degradasi di sisa musim.
Secara keseluruhan, kemenangan 3-1 Feyenoord atas Groningen menegaskan bahwa klub ini masih memiliki ambisi kuat untuk menempati posisi dua atau bahkan memimpin klasemen pada akhir musim. Metode pelatihan inovatif Van Persie, meskipun kontroversial, tampaknya memberikan dorongan mental yang diperlukan bagi para pemain untuk tetap fokus dan produktif di lapangan.
Dengan sisa tiga pertandingan yang menantang, mata para penggemar dan analis sepak bola kini tertuju pada kemampuan Feyenoord mengubah tekanan menjadi peluang emas, sambil menunggu apakah pendekatan psikologis Van Persie akan membuahkan hasil yang diharapkan.













