Back to Bali – 23 April 2026 | JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan pada Rapat Dewan Gubernur virtual tanggal 22 April 2026 bahwa ekonomi Indonesia tetap tahan menghadapi gejolak geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah.
Fundamental Ekonomi yang Kokoh
Menurut Perry, beberapa indikator utama menunjukkan fondasi ekonomi yang kuat. Inflasi pada Maret 2026 tercatat 3,48 % secara tahunan, jauh di bawah target jangka menengah. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) berada di atas 5 % tahun ini, didorong oleh ekspor non‑migas, konsumsi rumah tangga, dan investasi infrastruktur.
Stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi bukti ketahanan. Pada Kamis, 23 April 2026, kurs rupiah berada di kisaran Rp17.293 per dolar AS, hanya sedikit di atas level terendah Rp17.300 yang sempat tercatat. Selama tahun berjalan, depresiasi kumulatif rupiah sebesar 3,54 % sejalan dengan pergerakan kawasan Asia‑Pasifik.
Cadangan Devisa dan Kebijakan Moneter
Bank Indonesia mengandalkan cadangan devisa sebesar US$148,2 miliar, yang dianggap memadai untuk menahan tekanan nilai tukar. “Kami senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur,” ujar Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti dalam sambutan resmi.
BI juga melakukan intervensi spot di pasar valuta asing ketika diperlukan, serta menyesuaikan likuiditas melalui operasi pasar terbuka untuk menjaga kestabilan suku bunga.
Uji Ketahanan Perbankan (Stress Test)
- Stress test terakhir menunjukkan sistem perbankan Indonesia mampu menahan guncangan eksternal, termasuk konflik Iran‑Israel‑AS.
- Rasio kecukupan modal (CAR) rata‑rata bank tetap di atas standar Basel III.
- Kredit berkembang dengan laju 8‑12 % tahun ini, menandakan permintaan yang sehat.
Dengan dasar kuat tersebut, Perry menegaskan bahwa perbankan nasional siap memberikan dukungan likuiditas bagi sektor riil meski situasi geopolitik memicu volatilitas pasar global.
Faktor-faktor Pendukung Lainnya
Beberapa faktor tambahan yang memperkuat ketahanan ekonomi antara lain:
- Defisit transaksi berjalan yang tipis, diproyeksikan antara 1,3‑5 % PDB, menurunkan tekanan pada neraca pembayaran.
- Imbal hasil obligasi pemerintah yang kompetitif, menarik aliran modal asing.
- Kebijakan fiskal yang konsisten, dengan defisit anggaran berada di bawah 3 % PDB.
Langkah BI Menghadapi Gejolak Global
Untuk menghadapi ketidakpastian, BI telah menyiapkan rangkaian kebijakan:
- Penguatan intervensi di pasar valuta asing pada saat volatilitas tinggi.
- Peningkatan cadangan devisa dalam mata uang dolar AS sebagai buffer.
- Pelaksanaan stress test rutin pada perbankan guna mengidentifikasi kerentanan.
- Koordinasi dengan otoritas fiskal untuk menjaga defisit anggaran tetap terkendali.
Semua langkah tersebut dirancang secara terukur, menghindari aksi berlebihan yang dapat mengganggu pasar.
Secara keseluruhan, pernyataan Perry Warjiyo mencerminkan keyakinan bahwa fundamental ekonomi Indonesia – inflasi rendah, pertumbuhan tinggi, nilai tukar stabil, dan sistem perbankan yang kuat – memberikan bantalan yang cukup untuk menahan guncangan eksternal. Dengan kebijakan moneter yang responsif dan cadangan devisa yang memadai, Bank Indonesia siap menjaga stabilitas makroekonomi di tengah gejolak global.













