Back to Bali – 30 April 2026 | Perang yang berkecamuk di Timur Tengah pada April 2026 telah memicu lonjakan tajam harga minyak mentah dunia, memaksa Indonesia menghadapi tekanan fiskal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kenaikan harga Brent mencapai US$180 per barel memicu beban tambahan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan menimbulkan efek domino pada harga bahan bakar minyak (BBM), LPG, serta barang konsumen sehari-hari seperti plastik kresek.
Lonjakan Harga Minyak Dunia Akibat Konflik di Timur Tengah
Ketegangan di Selat Hormuz menurunkan pasokan minyak dan meningkatkan ketidakpastian pasar. Menurut data International Energy Agency yang dikutip Institute for Essential Services Reform, setiap kenaikan US$1 pada harga Indonesia Crude Price (ICP) dapat menambah defisit APBN sebesar Rp6,8 triliun. Jika harga ICP stabil di kisaran US$95‑100 hingga akhir tahun, beban tambahan diproyeksikan mencapai Rp170‑204 triliun, atau lebih dari 3 persen dari total APBN.
Dampak pada Harga BBM dan LPG di Tanah Air
Meski pemerintah menahan kenaikan harga BBM seperti Pertamax dan Pertamax Green, tekanan fiskal memaksa otoritas mempertimbangkan penyesuaian kembali. CEO IESR, Fabby Tumiwa, menyatakan bahwa kebijakan menahan harga BBM berpotensi menambah utang publik jika harga minyak terus tinggi. Di sisi lain, harga LPG yang menjadi bahan bakar utama untuk rumah tangga dan industri juga terdorong naik, menambah beban biaya hidup masyarakat.
Kenaikan Harga Plastik Kresek di Bali Mencapai 100 Persen
Pengaruh naiknya biaya energi tidak hanya terasa pada sektor transportasi dan rumah tangga. Produsen plastik kresek di Bali melaporkan kenaikan biaya bahan baku sebesar hampir dua kali lipat. Harga satu kilogram plastik kresek yang sebelumnya Rp5.000 kini melambung menjadi Rp10.000. Kenaikan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah, yang merupakan komponen utama dalam produksi polietilena, serta kenaikan tarif energi listrik akibat beban tambahan pada jaringan listrik nasional.
Para pedagang dan pengusaha wisata di Bali mengeluhkan dampak langsung pada margin keuntungan. Banyak usaha kecil terpaksa menaikkan harga jual plastik kresek atau beralih ke alternatif yang lebih mahal, seperti kantong kertas atau tas kanvas, yang pada gilirannya meningkatkan biaya operasional.
Tanggapan Pemerintah dan Langkah Transisi Energi
Pemerintah menegaskan komitmen pada transisi energi sebagai solusi jangka panjang. Beberapa langkah yang diusulkan meliputi:
- Mempercepat elektrifikasi transportasi publik dengan mengintegrasikan kendaraan listrik berbasis baterai.
- Mengoptimalkan program subsidi energi agar tepat sasaran, mengalihkan subsidi BBM ke subsidi listrik bagi rumah tangga berpenghasilan rendah.
- Mendorong investasi pada pembangkit listrik tenaga angin dan surya untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
- Menetapkan kebijakan pajak karbon yang dapat menstabilkan harga bahan baku plastik.
Ekonom Teuku Riefky menekankan bahwa reformasi subsidi berbasis penerima manfaat, bukan produk, akan menurunkan beban fiskal sekaligus melindungi konsumen paling rentan.
Dengan tekanan harga minyak yang berulang, para analis memperkirakan bahwa tanpa percepatan transisi energi, Indonesia akan terus menghadapi beban tambahan pada APBN setiap kali pasar energi global mengalami gejolak.
Kesimpulannya, perang di Timur Tengah telah menimbulkan efek meluas mulai dari harga BBM, LPG, hingga plastik kresek di Bali yang melonjak 100 persen. Kebijakan penyesuaian harga dan percepatan adopsi energi terbarukan menjadi kunci untuk menstabilkan fiskal negara dan melindungi daya beli masyarakat.













