Back to Bali – 06 Mei 2026 | Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hashim Djojohadikusumo, menegaskan bahwa kecukupan pasokan pupuk menjadi kunci utama percepatan pencapaian target swasembada beras di Indonesia. Dalam sebuah pertemuan dengan para pelaku industri pertanian dan perwakilan pemerintah, Hashim menguraikan langkah-langkah konkret yang telah diambil untuk memastikan stabilitas suplai pupuk, sekaligus menyoroti implikasi positifnya terhadap harga pangan dan kestabilan nilai tukar.
Pasokan Pupuk yang Memadai, Dampak Langsung pada Produksi Padi
Menurut Hashim, pemerintah bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Kementerian Pertanian berhasil meningkatkan produksi pupuk dalam negeri sebesar 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh investasi baru pada pabrik-pabrik pemrosesan nitrogen, fosfat, dan kalium, serta dukungan kebijakan fiskal yang mempermudah akses kredit bagi petani.
“Ketika petani memiliki akses mudah ke pupuk berkualitas, produktivitas lahan meningkat secara signifikan. Hal ini mempercepat realisasi target swasembada beras yang seharusnya tercapai pada 2028 menjadi lebih awal,” ujar Hashim dalam sambutannya.
Sinergi Antara Sektor Keuangan dan Pertanian
Dalam konteks makroekonomi, Hashim menyinggung kondisi pasar modal dan nilai tukar yang sedang tertekan. Ia mengutip laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menyatakan bahwa meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Rupiah mengalami tekanan, sektor jasa keuangan tetap stabil berkat kebijakan likuiditas yang tepat. Stabilitas ini, kata Hashim, memberikan ruang bagi lembaga keuangan untuk memberikan pembiayaan agrikultur dengan suku bunga yang kompetitif.
“Kondisi pasar modal yang fluktuatif tidak seharusnya menghambat pembiayaan sektor pertanian. Justru, stabilitas sektor keuangan menjadi landasan penting untuk menyalurkan dana ke petani melalui skema kredit bersubsidi,” tambahnya.
Peran Teknologi dalam Meningkatkan Efisiensi Distribusi Pupuk
Hashim juga menyoroti peran teknologi informasi dalam memodernisasi rantai pasok pupuk. Dengan mengintegrasikan data geospasial dan platform digital, pemerintah dapat memetakan kebutuhan pupuk secara real‑time, mengurangi kehilangan stok, dan mempercepat distribusi ke daerah terpencil.
“Inisiatif lelang pita frekuensi Komunikasi Digital (Komdigi) yang melibatkan perusahaan telekomunikasi seperti Indosat akan memperkuat jaringan internet di wilayah pertanian. Hal ini memungkinkan petani mengakses layanan pertanian berbasis aplikasi, termasuk pemesanan pupuk secara daring,” jelas Hashim.
Implikasi Terhadap Pendidikan dan Kualitas SDM
Selain fokus pada produksi, Hashim menegaskan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan pertanian. Ia mengingatkan bahwa ketimpangan sarana pendidikan di daerah pedesaan dapat menghambat adopsi teknologi baru. Pemerintah berkomitmen untuk memperbaiki infrastruktur pendidikan, termasuk penyediaan laboratorium pertanian dan pelatihan praktis bagi mahasiswa agronomi.
“Sumber daya manusia yang terdidik akan menjadi motor penggerak inovasi di sektor pertanian. Tanpa investasi pada pendidikan, upaya peningkatan produksi akan terhambat,” ujar Hashim.
Prospek Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Data terbaru menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal terakhir, melampaui ekspektasi lembaga internasional. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspor komoditas, peningkatan konsumsi domestik, dan kebijakan stimulus fiskal. Hashim menilai bahwa keberhasilan program swasembada beras akan memperkuat ketahanan pangan, sekaligus menambah kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Ketika kebutuhan pangan nasional terpenuhi secara domestik, beban impor berkurang, yang pada gilirannya menstabilkan neraca perdagangan dan nilai tukar,” ia menambahkan.
Secara keseluruhan, strategi Hashim Djojohadikusumo menekankan kolaborasi lintas sektoral—antara kementerian, lembaga keuangan, perusahaan teknologi, dan institusi pendidikan—untuk menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan, produktif, dan tangguh menghadapi tantangan global.













