Back to Bali – 27 April 2026 | Honda kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan pengendara moped Indonesia setelah perusahaan otomotif asal Jepang tersebut mengumumkan penghentian produksi varian Cross Cub 50. Keputusan itu menandai berakhirnya satu model ikonik yang selama ini dikenal dengan gaya petualang dan desain minimalis. Penghentian produksi dijadwalkan selesai pada Oktober 2025, setelah semua stok habis terjual. Sebagai gantinya, Honda menyiapkan Cross Cub 110 Lite, sebuah varian dengan mesin berkapasitas lebih besar yang diharapkan mampu mengisi kekosongan pasar moped kelas 1.
Sejarah Singkat Honda Cross Cub 50
Cross Cub pertama kali diluncurkan dengan mesin 50 cc, menargetkan segmen moped yang mengutamakan efisiensi bahan bakar, kelincahan, dan kemudahan penggunaan di perkotaan. Motor ini menonjolkan tampilan petualang tanpa pelindung lampu depan atau pelindung kaki, memberikan kesan simpel namun tangguh. Versi 50 cc dilengkapi roda 14 inci di depan dan belakang, yang menghasilkan tinggi jok hanya 740 mm—ukuran ideal bagi pengendara berpostur pendek atau yang menginginkan posisi berkendara yang rendah.
Fitur Khusus dan Edisi Spesial
Salah satu keunikan Cross Cub adalah edisi spesial bertema Kumamoto, atau lebih dikenal sebagai Kumamon. Versi ini menampilkan jok bermotif kamuflase, emblem eksklusif, serta kunci khusus yang menambah nilai koleksi bagi para penggemar motor. Edisi tersebut mempertegas identitas motor sebagai barang yang tidak sekadar alat transportasi, melainkan juga barang fashion yang dapat dipersonalisasi.
Spesifikasi Teknis Cross Cub 50
- Mesin: 1 silinder, 4‑tak, pendingin udara
- Kapasitas: 49 cc
- Daya maksimum: 3,7 PS pada 7.500 rpm
- Roda: 14 inci (depan & belakang)
- Tinggi jok: 740 mm
Spesifikasi tersebut menjadikan Cross Cub 50 pilihan populer bagi pengguna yang mengutamakan kepraktisan, konsumsi bahan bakar rendah, serta biaya perawatan yang terjangkau.
Alasan Penghentian Produksi
Honda menyatakan bahwa keputusan menghentikan produksi Cross Cub 50 merupakan bagian dari strategi restrukturisasi portofolio moped kelas 1. Permintaan pasar yang semakin mengarah pada mesin berkapasitas menengah (110 cc‑120 cc) menjadi faktor utama. Selain itu, regulasi emisi yang semakin ketat menuntut peningkatan efisiensi pembakaran, yang lebih mudah dicapai pada mesin berkapasitas sedikit lebih besar.
Cross Cub 110 Lite: Apa yang Diharapkan?
Cross Cub 110 Lite dirancang untuk melanjutkan warisan desain petualang Cross Cub, namun dengan mesin 110 cc yang menawarkan tenaga lebih besar serta torsi yang lebih memadai untuk menaklukkan jalur perkotaan yang padat. Beberapa perkiraan spesifikasi awal mencakup:
- Mesin: 1 silinder, 4‑tak, pendingin udara, 110 cc
- Daya maksimum: sekitar 8‑9 PS
- Roda: 17 inci (depan) & 14 inci (belakang)
- Fitur tambahan: sistem pengereman yang lebih baik, panel instrumen digital, dan desain lampu LED
Perubahan ukuran roda, terutama pada bagian depan, diharapkan meningkatkan stabilitas pada kecepatan tinggi sekaligus mempertahankan karakteristik ringan yang menjadi keunggulan Cross Cub sebelumnya.
Dampak terhadap Konsumen dan Dealer
Penghentian produksi Cross Cub 50 memberi tantangan bagi dealer yang masih menyimpan stok. Honda menekankan bahwa layanan purna jual, termasuk suku cadang, akan tetap tersedia selama minimal lima tahun setelah produksi dihentikan. Bagi konsumen setia, transisi ke Cross Cub 110 Lite menjadi pilihan logis untuk mempertahankan kesamaan estetika sekaligus memperoleh performa yang lebih baik.
Reaksi Penggemar
Komunitas motor di Indonesia menunjukkan beragam reaksi. Sebagian mengungkapkan rasa kehilangan karena Cross Cub 50 telah menjadi ikon budaya motor moped, terutama di kalangan anak muda yang menganggapnya sebagai “motor pertama”. Namun, banyak pula yang menyambut baik peluncuran Cross Cub 110 Lite, menganggapnya sebagai evolusi alami yang menyesuaikan dengan kebutuhan mobilitas modern.
Secara keseluruhan, keputusan Honda untuk menghentikan produksi Cross Cub 50 dan memperkenalkan Cross Cub 110 Lite mencerminkan adaptasi perusahaan terhadap dinamika pasar dan regulasi lingkungan. Meskipun era 50 cc berakhir, warisan desain petualang yang sederhana dan fungsional tetap hidup lewat generasi baru yang lebih bertenaga.













