Indonesia Menjadi Penyumbang Emisi Metana Terbesar Kedua di Asia Tenggara: Data IEA Buka Tabir Krisis Lingkungan

Back to Bali – 08 Mei 2026 | Jakarta – Laporan Global Methane Tracker 2026 yang dirilis oleh International Energy Agency (IEA) mengungkapkan Indonesia berada..

3 minutes

Read Time

Indonesia Menjadi Penyumbang Emisi Metana Terbesar Kedua di Asia Tenggara: Data IEA Buka Tabir Krisis Lingkungan

Back to Bali – 08 Mei 2026 | Jakarta – Laporan Global Methane Tracker 2026 yang dirilis oleh International Energy Agency (IEA) mengungkapkan Indonesia berada di posisi kedua sebagai penyumbang emisi metana terbesar di kawasan Asia Tenggara, setelah India. Angka total emisi metana dari sektor energi fosil pada tahun 2025 diperkirakan melampaui tiga juta ton, dengan kontribusi paling signifikan berasal dari aktivitas pertambangan batu bara, diikuti oleh produksi minyak dan gas bumi.

Skala Emisi dan Posisi Global

Secara global, sektor bahan bakar fosil menyumbang sekitar 35 % dari total emisi metana, setara dengan 124 juta ton per tahun. Tiongkok menempati posisi teratas dengan 25 juta ton, sementara Indonesia menempati peringkat kedelapan dunia. Di tingkat regional, Indonesia berada di urutan kedua setelah India, yang hampir mencapai empat juta ton emisi.

Penyebab Utama di Indonesia

Data IEA menyoroti tiga faktor utama yang mendorong tingginya emisi metana di Indonesia:

  • Pertambangan batu bara: Menyumbang lebih dari 60 % dari total 13 juta ton emisi metana pada 2025. Aktivitas ini menghasilkan methane leakage yang signifikan karena kurangnya sistem penangkapan dan pengukuran.
  • Minyak dan gas bumi: Proses ekstraksi, transportasi, serta pemrosesan menghasilkan kebocoran metana yang tidak terdeteksi secara optimal.
  • Keterbatasan data dan faktor emisi: Pemerintah masih mengandalkan faktor emisi standar yang jauh lebih rendah dibandingkan intensitas sebenarnya. IEA memperkirakan intensitas metana Indonesia 12,5 kali lebih tinggi dari faktor yang dipakai pemerintah.

Pernyataan Para Pakar

Tim Gould, Kepala Ekonom Energi IEA, menekankan bahwa peningkatan ambisi pengurangan metana di banyak negara belum diikuti dengan kebijakan yang memadai. “Penetapan target hanyalah langkah awal; implementasi yang konsisten dan pengukuran yang akurat sangat penting,” ujarnya dalam konferensi pers pada 7 Mei 2026.

Dody Setiawan, Senior Analis Iklim dan Energi untuk Indonesia pada EMBER, menambahkan bahwa data emisi metana dari tambang batu bara (Coal Mine Methane/CMM) yang dilaporkan pemerintah masih sangat terbatas. Ia mengusulkan pengembangan faktor emisi khusus wilayah serta sistem inventarisasi yang transparan untuk meningkatkan akuntabilitas perusahaan tambang.

Dampak Lingkungan dan Ekonomi

Metana memiliki potensi pemanasan global yang hampir 30 kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam jangka waktu 20 tahun. Oleh karena itu, tingginya emisi metana dari sektor energi fosil dapat memperparah perubahan iklim, mengancam target net‑zero Indonesia, serta menimbulkan biaya ekonomi terkait mitigasi iklim di masa depan.

Di sisi lain, sektor batu bara dan minyak masih menjadi tulang punggung energi nasional, menyumbang lebih dari 30 % kebutuhan listrik negara. Upaya mengurangi emisi metana harus seimbang dengan kebutuhan energi, namun IEA menilai bahwa teknologi penangkapan metana (methane capture) dan pemanfaatannya sebagai bahan bakar alternatif dapat menjadi solusi yang mengurangi kerugian ekonomi sekaligus menurunkan emisi.

Langkah Pemerintah dan Industri

Berbagai kebijakan telah diumumkan sejak awal 2026, termasuk rencana penetapan standar pengukuran emisi metana di semua fasilitas produksi fosil, serta insentif fiskal bagi perusahaan yang mengadopsi teknologi penangkap metana. Pertamina, sebagai perusahaan energi terbesar, menyatakan akan meningkatkan investasi pada proyek pengurangan emisi metana di beberapa lapangan minyak dan gas utama.

Namun, para pengamat memperingatkan bahwa implementasi kebijakan masih memerlukan koordinasi lintas lembaga, transparansi data, serta dukungan finansial yang memadai. Tanpa mekanisme verifikasi independen, angka pengurangan yang dilaporkan dapat menjadi sekadar angka target.

Dengan tekanan internasional yang semakin kuat, terutama menjelang konferensi iklim COP29 di Azerbaijan, Indonesia diharapkan memperkuat komitmennya terhadap pengurangan metana. Langkah konkret seperti audit rutin, pelaporan publik, dan penerapan standar internasional dapat meningkatkan kepercayaan investor serta membuka peluang pembiayaan hijau.

Secara keseluruhan, laporan IEA menegaskan bahwa Indonesia berada pada persimpangan penting antara pertumbuhan energi dan keberlanjutan iklim. Pengelolaan emisi metana yang lebih efektif tidak hanya akan mengurangi kontribusi negara terhadap pemanasan global, tetapi juga dapat memperkuat ketahanan energi dan membuka pasar baru bagi teknologi bersih.

About the Author

Kanya Virtudes Virtudes Avatar