Back to Bali – 15 April 2026 | Penutupan Menantea, kedai minuman kekinian yang didirikan oleh influencer muda Jerome Polin bersama kakaknya Jehian Panangian, menjadi sorotan media setelah perusahaan mengaku mengalami kerugian hingga Rp 38 miliar. Keputusan menutup gerai secara permanen pada 25 April 2026 mengungkap betapa beratnya tantangan operasional dan keuangan yang dihadapi oleh para kreator yang terjun ke dunia bisnis.
Namun, kisah Jerome Polin bukanlah kasus tunggal. Beberapa artis lain yang pernah menggelar usaha di berbagai bidang kini harus mengakui kegagalan dan menutup pintu usaha mereka. Berikut rangkaian kisah empat artis yang mengalami nasib serupa, lengkap dengan faktor penyebab dan pelajaran yang dapat diambil.
1. Raffi Ahmad & Rani Merdeka: Restoran yang Tersandung Masalah Manajemen
Pasangan selebritas Raffi Ahmad dan Nagita Slavina meluncurkan jaringan restoran “Rani Merdeka” pada 2019. Meskipun awalnya ramai dikunjungi berkat popularitas pasangan tersebut, restoran mulai mengalami penurunan penjualan sejak 2022. Menurut laporan internal, masalah utama terletak pada kurangnya standar operasional, ketidaktepatan dalam pengelolaan persediaan, dan kegagalan dalam menyesuaikan menu dengan selera konsumen yang berubah. Akhirnya, pada akhir 2024, seluruh cabang Rani Merdeka ditutup dan asetnya dijual untuk menutupi utang kepada supplier.
2. Nia Ramadhani: Kafe “Kopi Nia” yang Gagal Menarik Pelanggan
Aktris Nia Ramadhani membuka kafe “Kopi Nia” di kawasan Jakarta Selatan pada 2020, mengusung konsep tempat nongkrong Instagramable. Meskipun sempat mendapatkan tren kunjungan, kafe tersebut tidak mampu mempertahankan arus pelanggan setelah hype awal memudar. Penyebabnya meliputi harga yang dianggap terlalu premium, lokasi yang kurang strategis, serta kurangnya diversifikasi produk. Pada pertengahan 2025, Nia memutuskan untuk menutup kafe tersebut dan mengalihkan fokus kembali ke karier akting.
3. Cinta Laura: Brand Fashion “CintaWear” yang Terlilit Masalah Pajak
Model dan aktris Cinta Laura meluncurkan lini pakaian “CintaWear” pada 2021 dengan target pasar milenial. Selama dua tahun pertama, brand tersebut mencatat pertumbuhan penjualan yang cukup stabil. Namun, pada 2023 otoritas pajak menelusuri laporan keuangan CintaWear dan menemukan ketidaksesuaian dalam pelaporan PPN serta penghasilan yang tidak tercatat dengan benar. Akibat denda pajak yang besar dan biaya audit yang tinggi, Cinta Laura memutuskan untuk menghentikan produksi dan menutup brand fashionnya pada akhir 2024.
4. Denny Sumargo: Restoran “Sumargo Kitchen” yang Terkena Dampak Pandemi
Musisi sekaligus chef Denny Sumargo membuka “Sumargo Kitchen” pada 2019, menonjolkan menu fusion Indonesia‑Barat. Bisnis ini sempat meraih penghargaan kuliner lokal, namun pandemi COVID‑19 yang melanda pada 2020 menghentikan layanan makan di tempat selama berbulan‑bulan. Meskipun kemudian beralih ke layanan delivery, penurunan volume penjualan tidak dapat diimbangi dengan biaya operasional tetap. Pada 2022, Denny mengumumkan penutupan restoran tersebut dan mengalihkan usahanya ke bisnis katering skala kecil.
Kasus-kasus di atas menegaskan bahwa popularitas di dunia hiburan tidak otomatis menjamin kesuksesan dalam menjalankan usaha. Faktor-faktor seperti riset pasar yang mendalam, manajemen keuangan yang disiplin, kepatuhan pajak, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan tren konsumen menjadi kunci utama. Bagi para kreator yang ingin berbisnis, belajar dari kegagalan Jerome Polin dan empat artis lainnya dapat menjadi pijakan penting untuk merencanakan strategi yang lebih matang dan menghindari jebakan serupa di masa depan.
Kesimpulannya, meski dunia bisnis menawarkan peluang besar bagi publik figur, keberhasilan tidak datang tanpa persiapan yang matang. Ke depannya, diharapkan lebih banyak selebritas yang mengedepankan profesionalisme dan konsultasi ahli sebelum meluncurkan usaha, sehingga cerita penutupan dapat berkurang dan ekosistem bisnis kreatif Indonesia semakin kuat.













