Back to Bali – 06 Mei 2026 | Gorontalo – Pada sore hari tanggal 15 Mei 2024, sejumlah rombongan siswa SMA di Kota Gorontalo menggelar konvoi kelulusan yang berujung pada kemacetan parah di beberapa ruas utama kota. Aksi seremonial yang dimaksudkan untuk merayakan kelulusan justru memicu kepanikan lalu lintas, sehingga aparat kepolisian setempat terpaksa melakukan intervensi dan membubarkan konvoi tersebut.
Rombongan konvoi yang terdiri dari lebih dari 150 kendaraan, termasuk mobil pribadi, motor, serta beberapa bus sewaan, berangkat dari beberapa sekolah menengah atas sekaligus. Para siswa mengemas kendaraan mereka dengan spanduk, balon, dan atribut kelulusan, lalu berarak dari arah Selamat Raya menuju Alun-Alun Kota. Selama proses perjalanan, para pengendara tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas, melanggar lampu merah, dan memotong jalur kendaraan lain.
Akibat Kemacetan dan Tindakan Polisi
Akibat tindakan tersebut, jalan utama seperti Jalan Sudirman, Jalan R. A. Kartini, dan Jalan Siliwangi mengalami kemacetan total selama lebih dari dua jam. Warga sekitar melaporkan kebisingan yang mengganggu, serta kesulitan mengakses rumah sakit dan fasilitas umum. Pihak kepolisian yang dipimpin oleh Kapolres Gorontalo, Kombes Pol. Irwan Maulana, menerima laporan darurat dari Dinas Perhubungan setempat dan segera menurunkan unit pengatur lalu lintas.
Setelah menilai situasi, Kapolres Irwan memutuskan untuk membubarkan konvoi dengan alasan keamanan publik dan kelancaran arus kendaraan. Petugas menyampaikan peringatan kepada para pelaku, menegaskan bahwa tindakan semacam ini melanggar Undang-Undang Lalu Lintas serta menimbulkan risiko kecelakaan serius. Beberapa pemimpin OSIS sekolah pun diminta untuk menenangkan anggotanya dan menghentikan proses konvoi.
Reaksi Siswa dan Orang Tua
Siswa-siswa yang terlibat menanggapi keputusan polisi dengan kekecewaan, namun sebagian besar menyadari pentingnya kepatuhan pada peraturan. Seorang perwakilan kelas SMA Negeri 1 Gorontalo, Rina Sari, menyatakan, “Kami memang ingin merayakan kelulusan bersama, namun tidak bermaksud mengganggu lalu lintas. Kami akan mengevaluasi cara kami merayakan di masa mendatang.” Orang tua sebagian besar mengapresiasi tindakan tegas polisi, mengingatkan bahwa keselamatan publik harus menjadi prioritas utama.
Perbandingan dengan Kasus Serupa di Boalemo
Beberapa hari sebelumnya, di Kabupaten Boalemo, Gorontalo, terjadi insiden serupa ketika sekelompok siswa SMA menggelar aksi konvoi dan coret-coret kemeja di jalan raya. Polisi Boalemo juga membubarkan aksi tersebut setelah terjadi kemacetan dan protes warga. Kasus ini menambah tekanan pada otoritas provinsi untuk meninjau kembali kebijakan perayaan kelulusan di wilayah tersebut.
Kapolres Seluma, yang berada di wilayah sebelah barat Gorontalo, mengumumkan kesiapan mereka untuk menindak tegas pelajar yang melakukan konvoi serupa menjelang pengumuman kelulusan. Pernyataan tersebut menunjukkan pola respons yang konsisten dari kepolisian regional dalam menangani fenomena konvoi kelulusan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.
Langkah Pemerintah Daerah
- Pengkajian ulang regulasi perayaan kelulusan di lingkungan sekolah.
- Penyuluhan intensif kepada siswa, guru, dan orang tua mengenai pentingnya mematuhi aturan lalu lintas.
- Penetapan zona khusus perayaan yang tidak mengganggu arus lalu lintas utama.
Gubernur Gorontalo, Dr. Rusli Syahputra, melalui juru bicara pemerintah provinsi, menegaskan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kepolisian untuk menyusun pedoman perayaan kelulusan yang lebih terstruktur. Kebijakan ini diharapkan dapat mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
Secara keseluruhan, konvoi kelulusan di Gorontalo menyoroti ketegangan antara keinginan generasi muda untuk merayakan pencapaian akademik dan kebutuhan masyarakat akan ketertiban serta keselamatan jalan. Penanganan tegas oleh aparat kepolisian menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menegakkan hukum, sementara respons positif dari siswa dan orang tua memberi sinyal bahwa dialog konstruktif dapat menghasilkan solusi yang lebih baik.
Ke depan, diharapkan semua pihak dapat bekerja sama menciptakan tradisi kelulusan yang aman, tertib, dan tetap menggembirakan tanpa mengorbankan kenyamanan warga maupun kelancaran transportasi umum.













