Back to Bali – 22 April 2026 | Letjen Djon Afriandi, yang kini menjabat sebagai Panglima Komando Pasukan Khusus (Kopassus), kembali menjadi sorotan publik. Sejumlah unggahan di media sosial mengklaim bahwa sang panglima pernah menampar Seskab (Sekretaris Kabinet) Letkol Teddy Indra Wijaya. Klaim tersebut kemudian dibantah secara tegas oleh Kopassus, yang menyatakan bahwa berita itu hanyalah hoaks yang sengaja disebarkan. Di balik kontroversi itu, karier militer Djon Afriandi menunjukkan jejak yang luar biasa, mulai dari lulusan Akademi Militer 1995 hingga peraih penghargaan tertinggi bagi perwira muda, Adhi Makayasa.
Awal Karier dan Pendidikan Militer
Djon Afriandi menapaki dunia militer setelah lulus dari Akademi Militer (Akmil) pada tahun 1995. Sebagai bagian dari angkatan kelas yang dikenal produktif, ia menempuh pendidikan lanjutan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD) serta Sekolah Tinggi Komando (STK) TNI AD. Selama masa pendidikan, ia menunjukkan prestasi akademik dan kepemimpinan yang menonjol, yang kemudian membuka peluang penempatan di unit-unit elit.
Pencapaian di Kopassus
Setelah menapaki jenjang karier di berbagai satuan, Djon Afriandi ditugaskan ke Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pada awal 2000-an. Ia mengisi berbagai posisi strategis, termasuk sebagai Komandan Batalyon 5/Intai Tempur (Kopassus) dan Kepala Subdit Intelijen. Pada tahun 2010-an, ia dipercaya memimpin Resimen 3/Kopassus, sebuah satuan yang bertanggung jawab atas operasi khusus di wilayah strategis Indonesia.
Pengalaman lapangan yang luas, baik dalam operasi kontra-terorisme maupun misi kemanusiaan, menegaskan reputasinya sebagai perwira yang handal dan berdedikasi. Pada tahun 2022, Djon Afriandi resmi diangkat menjadi Panglima Kopassus, menggantikan pendahulunya yang pensiun.
Penghargaan Adhi Makayasa
Salah satu puncak prestasi Djon Afriandi tercapai ketika ia menerima penghargaan Adhi Makayasa, yang diberikan kepada perwira muda paling berprestasi di Angkatan Darat. Penghargaan tersebut menandai keberhasilannya menembus standar tertinggi dalam hal integritas, kepemimpinan, dan kemampuan taktis. Prestasi ini diraih pada masa ketika Letkol Teddy Indra Wijaya masih menjabat sebagai Seskab, sekitar enam tahun yang lalu, menegaskan bahwa Djon Afriandi telah lama menjadi figur yang dihormati di lingkungan militer.
Kontroversi Hoaks Tampar Seskab Teddy
Pada akhir pekan lalu, sebuah video yang memperlihatkan seorang pria berpakaian seragam militer tampak menampar seorang pejabat muncul di berbagai platform media sosial. Video tersebut dengan cepat diidentifikasi sebagai Letjen Djon Afriandi yang menampar Letkol Teddy Indra Wijaya. Klaim tersebut menyebar luas, menimbulkan perdebatan sengit di kalangan netizen.
Kopassus segera merespons dengan mengeluarkan pernyataan resmi. Menurut pernyataan tersebut, video yang beredar adalah hasil manipulasi digital yang tidak mencerminkan fakta. Pihak Kopassus menegaskan bahwa Djon Afriandi tidak pernah terlibat dalam tindakan fisik terhadap Letkol Teddy, dan menyebut penyebaran video tersebut sebagai upaya sengaja untuk menodai reputasi institusi militer.
Selain itu, Kementerian Pertahanan menambahkan bahwa pihak berwenang sedang melakukan penyelidikan terhadap sumber video dan menilai potensi pelanggaran hukum terkait penyebaran konten palsu. Hingga kini, tidak ada bukti konkret yang mendukung klaim bahwa Letjen Djon Afriandi melakukan tindakan kekerasan terhadap Letkol Teddy.
Reaksi Publik dan Implikasi Politik
Berbagai kalangan menanggapi isu ini dengan beragam pandangan. Sebagian mengkritik cepatnya penyebaran hoaks di era digital, sementara yang lain menilai bahwa isu tersebut mencerminkan ketegangan antara institusi militer dan politik. Namun, mayoritas analis sepakat bahwa kasus ini memperlihatkan pentingnya verifikasi informasi sebelum disebarluaskan.
Dalam konteks politik, pernyataan Kopassus yang tegas dapat dianggap sebagai upaya melindungi citra institusi dari disinformasi yang berpotensi mengganggu stabilitas hubungan sipil-militer. Sebagai panglima tertinggi Kopassus, Djon Afriandi kini harus menavigasi tantangan tersebut sekaligus mempertahankan fokus pada tugas utama pasukan khusus.
Secara keseluruhan, jejak karier Letjen Djon Afriandi tetap bersinar meskipun dihadapkan pada rumor yang tidak berdasar. Dari lulusan Akmil 1995 hingga penghargaan Adhi Makayasa dan jabatan sebagai Panglima Kopassus, ia telah menunjukkan dedikasi dan profesionalisme yang tinggi. Hoaks yang beredar tidak mengubah fakta bahwa kontribusinya terhadap pertahanan negara tetap signifikan.
Ke depan, diharapkan pihak berwenang dapat meningkatkan literasi digital masyarakat agar kasus serupa dapat diminimalisir. Sementara itu, Letjen Djon Afriandi terus melanjutkan tugasnya memimpin Kopassus, berfokus pada keamanan nasional dan kesiapan operasi khusus yang menjadi kunci bagi pertahanan Indonesia.













