Back to Bali – 19 April 2026 | Di tengah hiruk-pikuk musim haji tahun 2026, sebuah nama mencuri perhatian publik di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Mbah Mardijiyono, seorang warga Bantul yang kini menginjak usia 103 tahun, resmi terdaftar sebagai jemaah haji tertua pada gelombang ini. Keberanian dan semangatnya menembus batas usia menegaskan bahwa ibadah haji bukan sekadar ritual, melainkan panggilan spiritual yang tak mengenal batas umur.
Latar Belakang Sang Jemaah Tertua
Mbah Mardijiyono lahir pada 12 Februari 1923, tepatnya di sebuah desa tradisional di Kabupaten Bantul. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nilai-nilai keagamaan, tradisi, dan kearifan lokal. Menjalani masa muda di era kolonial, ia menyaksikan pergolakan politik sekaligus perubahan sosial yang memengaruhi pandangannya terhadap kehidupan.
Selama lebih dari satu abad, Mardijiyono menyaksikan transformasi Indonesia, dari perjuangan kemerdekaan hingga era globalisasi. Pengalaman hidupnya yang luas membentuk karakter yang tegar, rendah hati, dan selalu bersyukur. Meski telah melewati ribuan hari, tekadnya untuk menunaikan haji tidak pernah pudar.
Proses Pendaftaran dan Persiapan
Proses pendaftaran jemaah haji bagi Mbah Mardijiyono dimulai sejak awal tahun 2025, ketika Kementerian Agama membuka kuota khusus bagi lansia yang ingin menunaikan ibadah. Tim khusus dari Kementerian Agama DIY-Jateng melakukan pemeriksaan medis menyeluruh untuk memastikan kelayakan fisik, termasuk tes jantung, tekanan darah, dan kemampuan mobilitas.
- Usia: 103 tahun
- Status kesehatan: Stabil, dengan pengawasan rutin dokter spesialis geriatri
- Persiapan mental: Pendampingan rohani oleh tokoh agama setempat
- Pengaturan transportasi: Fasilitas khusus di bandara dan maskapai
Setelah dinyatakan layak, Mbah Mardijiyono mendapatkan tiket haji dengan fasilitas prioritas. Keluarganya, yang terdiri dari tiga anak, lima cucu, dan sepuluh cicit, turut membantu mengatur logistik, termasuk pengadaan perlengkapan ibadah yang disesuaikan dengan kebutuhannya.
Makna Spiritual dan Sosial
Bagi Mardijiyono, menunaikan haji pada usia 103 tahun bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan simbol pengabdian kepada Allah SWT dan dedikasi kepada generasi berikutnya. Ia berharap kisahnya dapat menginspirasi anak cucunya serta masyarakat luas untuk terus menjaga iman dan semangat beribadah, tanpa terhalang batas usia.
Di sisi lain, keberadaan jemaah haji tertua ini memberikan dampak sosial yang signifikan. Masyarakat setempat menggelar acara penyambutan di bandara, lengkap dengan upacara adat Jawa yang melibatkan gamelan, tari tradisional, dan pemberian selamat dari para tokoh agama. Momen tersebut menjadi ajang persatuan, memperkuat ikatan antar generasi, serta menegaskan nilai kebersamaan dalam menjalankan kewajiban agama.
Reaksi Publik dan Media
Berita tentang Mbah Mardijiyono menyebar cepat melalui media sosial, televisi, dan portal berita lokal. Warga internet mengirimkan ribuan komentar yang mengungkapkan rasa kagum, doa, dan harapan agar beliau sehat selama perjalanan. Beberapa tokoh publik juga mengirimkan pesan dukungan, menyoroti pentingnya menghormati para lansia dalam melaksanakan ibadah.
Selain itu, lembaga sosial dan organisasi keagamaan berencana mengadakan program beasiswa haji bagi lansia yang kurang mampu, terinspirasi oleh semangat Mardijiyono. Inisiatif ini diharapkan dapat memperluas kesempatan bagi generasi senior untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Persiapan di Tanah Suci
Setibanya di Tanah Suci, Mbah Mardijiyono akan ditemani oleh tim medis khusus yang siap memberikan penanganan cepat bila diperlukan. Ia dijadwalkan mengikuti rangkaian ibadah secara bertahap, dimulai dengan thawaf, sai, dan wukuf di Arafah, dengan penyesuaian kecepatan sesuai kondisi fisiknya.
Selama berada di Mekah dan Madinah, beliau juga berkesempatan berinteraksi dengan jemaah lain, berbagi pengalaman hidup, serta menyampaikan nasihat tentang pentingnya kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur dalam menjalani hidup.
Keberangkatan Mbah Mardijiyono tidak hanya menambah catatan sejarah jemaah haji tertua, melainkan juga mengajarkan bahwa usia bukanlah penghalang untuk menunaikan panggilan hati. Semangatnya menjadi teladan bagi seluruh umat, mengingatkan bahwa setiap langkah dalam kehidupan, sekecil apa pun, dapat menjadi amal jariyah yang abadi.













