Back to Bali – 17 April 2026 | Sejak episode pertama drama Korea Perfect Crown ditayangkan, karakter Seong Hui Ju yang diperankan oleh IU langsung menjadi sorotan publik. Penampilannya pada pesta ulang tahun Raja Yi Yoon—sebuah acara resmi di istana—menarik perhatian karena ia mengenakan setelan berwarna merah yang mencolok, selaras dengan mobil sport berwarna sama yang ia kendarai.
Warna merah dalam konteks kerajaan yang digambarkan dalam drama tersebut memiliki makna historis yang kuat. Pada era Dinasti Joseon, merah secara eksklusif dipakai oleh sang raja sebagai simbol kekuasaan dan keagungan. Meskipun Perfect Crown berlatar dunia alternatif di mana kerajaan Korea masih eksis di era modern, sebagian aturan tradisional tetap dipertahankan, termasuk larangan bagi tamu atau bangsawan non‑raja untuk memakai warna merah di dalam istana.
Sejarah Simbolisme Merah di Istana
Dalam tradisi kerajaan Korea, warna merah tidak sekadar pilihan estetika. Ia melambangkan otoritas tertinggi, sehingga pemakaian warna tersebut oleh siapa pun selain raja dapat dianggap sebagai pelanggaran etika atau bahkan tantangan terhadap kedaulatan monarki. Drama ini menegaskan bahwa, meski dunia telah bergeser ke zaman modern, beberapa norma kuno masih dipertahankan sebagai bagian dari protokol resmi.
Faktor-Faktor yang Memicu Kontroversi
- Pelanggaraan Norma Tradisional: Hui Ju, sebagai tamu non‑bangsawan, melanggar aturan tak tertulis dengan tampil serba merah. Hal ini memicu perdebatan di kalangan netizen antara pendukung tradisi dan pendukung kebebasan berekspresi.
- Latarnya yang Modern: Drama menampilkan kerajaan yang beradaptasi dengan teknologi dan gaya hidup kontemporer. Kehadiran mobil sport dan fashion streetwear menambah kontras antara modernitas dan tradisi.
- Strategi Pemasaran: Dalam cerita, Hui Ju sengaja menggunakan pakaian merah sebagai media promosi. Ia menginstruksikan timnya untuk menyebarkan tagar dan artikel terkait penampilannya, yang kemudian berhasil meningkatkan penjualan produk serupa secara cepat.
- Status Sosial Hui Ju: Meskipun berasal dari keluarga konglomerat kaya, Hui Ju bukan keturunan bangsawan. Ia bahkan dianggap anak haram karena lahir di luar pernikahan sah ayahnya, Seong Hyeon Guk, pimpinan Castle Group. Status ini membuat penampilannya yang mencolok dipandang sebagai upaya menantang hierarki sosial.
Reaksi Publik dan Media Sosial
Setelah episode pertama tayang, media sosial dipenuhi diskusi hangat. Sebagian pengguna memuji keberanian Hui Ju dalam menantang norma, menyebutnya sebagai simbol modernitas yang relevan di era sekarang. Sebaliknya, kelompok lain mengkritik tindakan tersebut sebagai bentuk tidak menghormati tradisi kerajaan, bahkan menyebutnya “provokatif” dan “tidak pantas” bagi seorang tamu di istana.
Berita daring dan portal hiburan melaporkan bahwa penjualan pakaian berwarna merah serta aksesoris serupa melonjak drastis dalam 24 jam setelah penayangan. Fenomena ini menegaskan kekuatan influencer dalam dunia hiburan Korea, di mana pilihan fashion dapat memicu tren konsumsi massal.
Makna Lebih Dalam di Balik Kontroversi
Kontroversi baju merah Hui Ju bukan sekadar soal warna, melainkan mencerminkan ketegangan antara dua dunia: tradisi yang dijaga ketat dan modernitas yang tak dapat dihindari. Drama ini menggunakan konflik visual tersebut untuk menyoroti isu-isu sosial seperti diskriminasi kelas, hak atas ekspresi pribadi, dan dinamika kekuasaan dalam struktur monarki yang masih bertahan.
Dengan menempatkan karakter yang berstatus “setengah” di antara kelas atas dan rakyat biasa, penulis cerita ingin menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak selalu mulus. Hui Ju menjadi perwujudan ambisi pribadi yang terpaksa berhadapan dengan batasan‑batasan kuno yang masih hidup dalam benak masyarakat.
Secara keseluruhan, pemilihan pakaian merah oleh Seong Hui Ju berhasil menimbulkan perdebatan luas, sekaligus menjadi alat naratif yang kuat untuk menggambarkan transformasi nilai‑nilai tradisional dalam era kontemporer. Kontroversi ini memperkaya alur Perfect Crown dan memberikan penonton bahan diskusi mengenai relevansi protokol kerajaan di zaman modern.
Dengan demikian, baju merah Hui Ju tidak hanya sekadar pilihan fashion, melainkan simbol persilangan antara warisan sejarah dan aspirasi modern yang masih terus dipertaruhkan dalam setiap adegan drama.













