Perajin Tedung Klungkung Meningkatkan Produksi dengan Bantuan BRImo

Back to Bali – 19 Juni 2026 | Di Desa Paksebali, Kabupaten Klungkung, para perajin tedung masih menjaga eksistensi kerajinan tradisional yang menjadi bagian penting dari kebutuhan upacara adat Hindu di Bali. Salah satu pelaku usaha yang konsisten mempertahankan tradisi tersebut adalah Anak Agung Gede Anom Suwastika, perajin tedung asal kawasan Puri Satria Kanginan. Usaha…

2 minutes

Read Time

Perajin Tedung Klungkung Meningkatkan Produksi dengan Bantuan BRImo

Back to Bali – 19 Juni 2026 | Di Desa Paksebali, Kabupaten Klungkung, para perajin tedung masih menjaga eksistensi kerajinan tradisional yang menjadi bagian penting dari kebutuhan upacara adat Hindu di Bali. Salah satu pelaku usaha yang konsisten mempertahankan tradisi tersebut adalah Anak Agung Gede Anom Suwastika, perajin tedung asal kawasan Puri Satria Kanginan.

Usaha yang kini digelutinya bukanlah bisnis baru. Keterampilan membuat tedung telah diwariskan turun-temurun dalam keluarganya. Setelah menyelesaikan karier di dunia perhotelan beberapa tahun lalu, Suwastika memutuskan kembali menekuni usaha keluarga yang telah dikenalnya sejak kecil.

Di rumah produksinya, aktivitas pembuatan tedung masih berlangsung setiap hari. Berbagai ukuran tedung diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pasar, mulai dari ukuran 90 sentimeter hingga satu seperempat meter. Produk-produk tersebut dipasarkan ke sejumlah pasar tradisional di Bali, termasuk Pasar Sanglah, Pasar Kreneng, hingga Pasar Kumbasari di Denpasar.

Permintaan cenderung meningkat menjelang hari raya keagamaan. Pada periode normal, produksi mencapai sekitar 20 unit per hari, namun saat mendekati Hari Raya Galungan jumlahnya bisa berlipat ganda.

Tantangan terbesar yang dihadapi para perajin adalah ketersediaan bahan baku. Kayu dan bambu berkualitas untuk rangka tedung semakin sulit diperoleh, terutama saat musim penghujan. Kondisi tersebut kerap memengaruhi kelancaran produksi.

Untuk menjaga keberlangsungan produksi, Suwastika memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI senilai Rp100 juta. Dana tersebut digunakan sebagai modal untuk membeli bahan baku dalam jumlah lebih besar sehingga kebutuhan produksi tetap terpenuhi saat permintaan meningkat.

Transformasi digital juga mulai dirasakan manfaatnya oleh para pelaku usaha tradisional. Saat ini transaksi pembayaran dengan pelanggan sebagian besar dilakukan secara non-tunai melalui aplikasi BRImo, sehingga proses pembayaran menjadi lebih praktis dan efisien.

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menilai usaha pembuatan tedung memiliki potensi ekonomi yang terus tumbuh karena kebutuhan masyarakat Bali terhadap sarana upacara adat relatif stabil sepanjang tahun.

About the Author

Zillah Willabella Avatar