Back to Bali – 24 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak ke arah penurunan pada pembukaan perdagangan Jumat, 24 April 2026, seiring dengan pelemahan tajam mata uang Rupiah yang hampir menembus level Rp 17.300 per dolar AS. Penurunan ini menambah kekhawatiran investor mengenai likuiditas pasar domestik dan dampak geopolitik yang masih berlangsung.
Faktor Fundamental yang Mendorong Penurunan IHSG
Analisis teknikal Phintraco Sekuritas menyoroti sinyal bearish pada Stochastic RSI yang berada di area pivot, mengindikasikan potensi kelanjutan pelemahan. Analis tersebut memperkirakan IHSG dapat menutup gap down di level 7.308 poin. Penurunan ini dipicu oleh sentimen negatif yang muncul setelah Rupiah melemah ke level Rp 17.300 per dolar AS, kemudian berakhir pada penutupan spot Rp 17.286. Menurut Phintraco, level tersebut mencatatkan penutupan terburuk bagi Rupiah dalam sejarah, sekaligus menandai pelemahan paling dalam di kawasan Asia.
Selain tekanan mata uang, faktor eksternal seperti penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan menjaga harga minyak dunia di level tinggi. Harga minyak yang tetap tinggi menimbulkan ekspektasi inflasi yang lebih kuat dan memperlebar defisit anggaran belanja pemerintah. Kondisi tersebut menambah beban pada neraca perdagangan Indonesia dan memperkuat tekanan pada nilai tukar.
Proyeksi Lembaga Lain
MNC Sekuritas memberikan pandangan serupa dengan memperkirakan IHSG akan menguji rentang koreksi terdekat antara 7.245 hingga 7.354 poin. Analis MNC menilai bahwa indeks masih rawan bergerak terkoreksi, terutama jika tekanan geopolitik dan nilai tukar tidak segera stabil.
Saham Rekomendasi Analis pada Jumat 24/4
Berbagai saham dipilih oleh kedua lembaga sebagai kandidat yang memiliki potensi untuk bertahan atau bahkan menguat dalam kondisi pasar yang bergejolak.
- Phintraco Sekuritas: BBTN (Bank Tabungan Negara), ELSA (Elang Mahkota Nusantara), INDY (Indika Energy), TSPC (Tata Solusi Perkasa), MYOR (Mayora Indah).
- MNC Sekuritas: ADRO (Adaro Energy), INKP (Indah Kiat Pulp & Paper), OASA (Olam International), WIFI (Indika WiFi).
Daftar di atas mencerminkan kombinasi antara sektor perbankan, energi, konsumer, serta infrastruktur yang dipandang memiliki fundamental kuat meski berada dalam lingkungan pasar yang menantang.
Implikasi Bagi Investor
Investor institusional dan ritel dihadapkan pada pilihan strategis: mempertahankan eksposur pada saham-saham defensif, mengalihkan dana ke instrumen pasar uang, atau menunggu sinyal pembalikan teknikal. Risiko nilai tukar tetap menjadi variabel utama, terutama jika Rupiah tidak mampu kembali ke level di bawah Rp 17.200 dalam beberapa minggu mendatang.
Sejumlah analis menekankan pentingnya diversifikasi portofolio dan pemantauan indikator inflasi global, terutama data CPI Amerika Serikat dan kebijakan suku bunga Federal Reserve, yang secara tidak langsung memengaruhi arus modal ke pasar Asia.
Secara keseluruhan, meskipun IHSG diproyeksi melemah pada hari Jumat, pasar tetap menunjukkan dinamika yang dipengaruhi oleh interaksi antara faktor domestik—seperti nilai tukar Rupiah—dan faktor eksternal, terutama harga minyak dan kebijakan moneter global. Investor yang mampu menyesuaikan strategi dengan cepat dan memanfaatkan peluang pada saham rekomendasi dapat mengurangi dampak volatilitas dalam jangka pendek.













