Tragedi di Sungai Bulango: Dua Bocah Hanyut, Keluarga Curiga, dan Profil Mengharukan Sang Korban

Back to Bali – 20 April 2026 | Gorontalo, 19 April 2026 – Dua anak sekolah dasar dari Desa Bulango, Gorontalo, dilaporkan hanyut pada Jumat..

Tragedi di Sungai Bulango: Dua Bocah Hanyut, Keluarga Curiga, dan Profil Mengharukan Sang Korban

Back to Bali – 20 April 2026 | Gorontalo, 19 April 2026 – Dua anak sekolah dasar dari Desa Bulango, Gorontalo, dilaporkan hanyut pada Jumat malam setelah bermain di tepi Sungai Bulango yang dikenal deras pada musim hujan. Kejadian ini menimbulkan keprihatinan luas serta menimbulkan kecurigaan di kalangan keluarga korban terkait faktor keamanan dan pengawasan.

Latar Belakang Kejadian

Pukul 19.45 WIB, dua anak berusia 9 dan 11 tahun, yang dikenal sebagai sahabat sejak kelas satu, memutuskan untuk bermain air di sebuah spot yang biasa mereka kunjungi. Menurut saksi mata, anak‑anak tersebut tampak ceria dan tidak memakai pelampung. Saat hujan lebat mulai turun, arus sungai meningkat secara signifikan, menyebabkan mereka terpisah dan terbawa arus kuat.

Pihak kepolisian setempat segera dikerahkan bersama tim SAR dan relawan desa. Pencarian intensif selama tiga hari menghasilkan penemuan mayat kedua anak pada Senin pagi, tepatnya di tepi sungai yang sama. Identitas korban diungkap sebagai Aliandra Elmira Ramadhani (9 tahun) dan teman sebayanya, Dimas Pratama (11 tahun).

Profil Korban: Aliandra Elmira Ramadhani

Aliandra, yang tinggal bersama orang tua di Desa Bulango, dikenal sebagai anak yang rajin salat lima waktu dan aktif mengaji di majelis taklim setempat. Guru kelasnya menyebutnya sebagai siswa yang tekun, selalu membantu teman, dan berprestasi dalam pelajaran agama. Kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya meliputi pramuka dan pencak silat, yang menunjukkan kedisiplinan serta rasa tanggung jawab yang tinggi.

Orang tuanya menggambarkan Aliandra sebagai “bunga hati” keluarga, yang selalu membantu pekerjaan rumah tanpa diminta. Meskipun demikian, kecintaan Aliandra pada alam membuatnya sering bermain di sekitar sungai, sebuah kebiasaan yang kini menjadi sorotan publik.

Reaksi Keluarga dan Kecurigaan

Keluarga korban mengaku sempat curiga sebelum kejadian, mengingat beberapa kali peringatan tentang bahaya arus deras yang diberikan oleh tokoh masyarakat dan petugas keamanan sungai. Ibu korban, Siti Nurhaliza, menyatakan bahwa mereka telah berulang‑ulang meminta pihak desa untuk menandai zona bahaya atau menutup akses ke area yang rawan. Namun, hingga saat itu tidak ada tindakan konkret yang diambil.

Ayah korban, Ahmad Fauzi, menambahkan bahwa pada malam kejadian tidak ada pengawasan orang dewasa yang memadai. “Kami selalu mengingatkan anak‑anak untuk tidak bermain terlalu jauh dari pinggir, tetapi mereka tetap saja mengabaikan peringatan karena rasa penasaran,” ujarnya.

Keluhan tersebut memicu pihak berwenang untuk membuka penyelidikan administratif terkait kelalaian fasilitas publik dan kurangnya signage peringatan. Sementara itu, kepolisian menyatakan bahwa penyelidikan utama tetap mengarah pada faktor alam dan kecelakaan, namun tidak menutup kemungkinan adanya faktor lain yang berkontribusi.

Upaya Penyelamatan dan Respons Pemerintah

Setelah penemuan mayat, Dinas Sosial Gorontalo segera menyalurkan bantuan darurat kepada keluarga korban, termasuk bantuan psikologis bagi orang tua dan saudara yang masih hidup. Pemerintah Kabupaten Gorontalo juga berjanji akan memperbaiki infrastruktur sungai, menambah papan peringatan, serta meningkatkan patroli keamanan di area rawan.

Gubernur Gorontalo, Dr. H. Rusdy Masturi, menegaskan komitmen daerah untuk menghindari tragedi serupa di masa mendatang. “Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap semua titik berisiko di wilayah kami. Keselamatan warga, terutama anak‑anak, adalah prioritas utama,” katanya dalam konferensi pers.

Respons Masyarakat dan Langkah Ke Depan

Warga setempat menggelar doa bersama di masjid desa sebagai bentuk penghormatan dan dukungan kepada keluarga korban. Beberapa LSM lingkungan juga mengusulkan program edukasi keselamatan air bagi anak‑anak, termasuk pelatihan dasar renang dan penggunaan pelampung.

Para ahli keselamatan air menekankan pentingnya edukasi dini serta penyediaan fasilitas yang memadai. “Anak‑anak harus diajari cara membaca kondisi aliran air, dan orang tua harus selalu mengawasi kegiatan mereka, terutama di wilayah yang rawan banjir,” ujar Dr. Lina Hartati, pakar kebencanaan Universitas Hasanuddin.

Kasus ini menjadi pengingat keras bagi seluruh komunitas untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya aliran sungai, terutama pada musim hujan. Diharapkan langkah‑langkah preventif yang diusulkan dapat mengurangi risiko kecelakaan serupa di masa depan.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah, lembaga sosial, dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan tragedi yang menimpa dua bocah di Sungai Bulango tidak terulang kembali, serta keluarga yang ditinggalkan dapat menemukan ketenangan dan dukungan moral yang mereka butuhkan.

About the Author

Marshauwn Marshauwn Agatho Avatar