Back to Bali – 22 April 2026 | Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini memantau dengan ketat varian baru virus SARS‑CoV‑2 yang diberi nama kode BA.3.2 dan populer sebagai “Cicada”. Varian ini pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada November 2024, namun baru menyebar secara signifikan pada September 2025. Hingga kini, kasus terkonfirmasi telah dilaporkan di lebih dari dua puluh tiga negara, termasuk Amerika Serikat, Hong Kong, Mozambik, dan Inggris.
Profil Varian Cicada
Penamaan “Cicada” diambil dari serangga tonggeret yang menghabiskan waktu lama di dalam tanah sebelum muncul kembali. Analogi ini mencerminkan cara varian BA.3.2 muncul kembali setelah periode relatif tenang dalam rangkaian mutasi virus. Secara genetik, varian ini menampilkan sejumlah mutasi pada protein spike yang belum pernah terlihat pada varian sebelumnya, namun sejauh ini tidak ada bukti kuat bahwa mutasi tersebut meningkatkan tingkat keparahan penyakit.
Penularan dan Penyebaran Global
Data yang dirilis oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menunjukkan bahwa varian Cicada telah terdeteksi di 25 negara bagian AS melalui empat sampel swab hidung turis, lima sampel klinis pasien, dan 132 sampel air limbah. Penemuan di air limbah menandakan adanya penularan komunitas yang belum terdeteksi secara klinis. WHO menempatkan varian ini dalam kategori “pemantauan”, yang berarti potensi dampak terhadap kesehatan masyarakat masih sedang dievaluasi.
Kekhawatiran Khusus pada Anak-anak
Berbagai studi awal mengindikasikan bahwa anak-anak tampak lebih rentan terhadap infeksi BA.3.2 dibandingkan orang dewasa. Peneliti dari New York, Ryan Hisner, melaporkan bahwa proporsi kasus positif pada kelompok usia 0‑17 tahun lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 18‑65 tahun. Profesor Ravindra Gupta dari Cambridge Institute of Therapeutic Immunology and Infectious Diseases menambahkan bahwa sistem kekebalan anak yang masih dalam proses perkembangan belum terbiasa menghadapi mutasi baru ini.
Beberapa hipotesis dijabarkan untuk menjelaskan fenomena tersebut:
- Kekebalan adaptif pada anak masih terbatas karena paparan virus yang lebih sedikit selama masa pertumbuhan.
- Mutasi pada protein spike varian Cicada dapat meningkatkan afinitas terhadap reseptor ACE2 pada sel epitelik saluran pernapasan anak.
- Faktor lingkungan, seperti tingkat paparan melalui sekolah atau tempat bermain, dapat mempercepat penyebaran.
Tim peneliti Gupta kini sedang mengumpulkan sampel darah dan jaringan limfatik anak untuk analisis laboratorium lebih lanjut, dengan harapan menemukan mekanisme spesifik yang memicu kerentanan ini.
Gejala dan Tingkat Keparahan
Hingga kini, varian Cicada belum menunjukkan pola gejala yang berbeda secara signifikan dari varian Covid‑19 lain. Gejala yang paling umum tetap meliputi demam, batuk, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, kelelahan, nyeri otot, sesak napas, dan diare. Profesor Paul Hunter, ahli epidemiologi dari University of East Anglia, menegaskan bahwa tidak ada bukti bahwa varian ini menyebabkan komplikasi yang lebih berat atau tingkat mortalitas yang lebih tinggi.
Langkah Pengawasan dan Tindakan Kesehatan Publik
WHO dan CDC menekankan pentingnya peningkatan pengujian, terutama di wilayah dengan tingkat vaksinasi yang masih rendah. Vaksin yang ada saat ini, termasuk formula bivalent yang menargetkan varian Omicron, masih dianggap memberikan perlindungan signifikan terhadap penyakit parah dan rawat inap.
Pemerintah di beberapa negara telah memperkuat protokol surveilans air limbah, memperluas program pengujian di sekolah, dan meningkatkan kampanye edukasi bagi orang tua tentang pentingnya vaksinasi booster bagi anak-anak berusia 5‑11 tahun.
Proyeksi Masa Depan
Para ilmuwan memperkirakan bahwa varian BA.3.2 dapat beralih menjadi dominan jika tidak terkendali, mengingat tingkat penularannya yang cukup tinggi. Namun, evolusi virus selalu bersifat dinamis; varian baru dapat muncul atau varian yang ada dapat menurun seiring dengan akumulasi kekebalan kolektif.
Selama beberapa bulan ke depan, pemantauan genetik melalui jaringan sekunder dan analisis epidemiologi akan menjadi kunci untuk menilai apakah Cicada akan menimbulkan gelombang baru atau tetap berada pada level endemik yang dapat dikelola.
Dengan kombinasi strategi vaksinasi, pengujian yang meluas, dan kebijakan kesehatan berbasis data, harapan komunitas medis adalah menahan potensi dampak varian ini, khususnya pada populasi anak-anak yang paling rentan.













