Back to Bali – 16 April 2026 | Sabrina Carpenter, penyanyi pop berusia 25 tahun yang sempat menembus puncak popularitas global lewat lagu “Espresso” dan album Short n’ Sweet, kini kembali menjadi sorotan publik. Tidak hanya karena kesuksesannya, namun pula serangkaian peristiwa kelam yang menimpa hidupnya, termasuk kontroversi terbaru di Coachella 2026. Berikut rangkaian 14 kejadian buruk yang pernah dialami sang artis, sekaligus analisis dampaknya terhadap karier dan citra publiknya.
1. Bullying Sejak Usia Dini
Karier Sabrina dimulai sejak belasan tahun, namun tak luput dari perundungan. Ia mengaku pernah menjadi sasaran intimidasi karena ambisinya di dunia hiburan. Dalam sebuah wawancara dengan Interview Magazine, ia mengingat, “Ironisnya, aku pernah diintimidasi karena bernyanyi.”
2. Kehilangan Orang Terkasih
Keluarga Sabrina mengalami tragedi dengan meninggalnya anggota keluarga yang sangat dekat dengannya. Peristiwa ini menimbulkan duka mendalam dan sempat mengguncang keseimbangan emosional sang penyanyi.
3. Ancaman Bom di Lokasi Konser
Pada tahun 2023, pihak keamanan menemukan paket mencurigakan di sekitar venue konsernya di Los Angeles. Meskipun tidak meledak, insiden tersebut menimbulkan rasa takut dan menambah beban psikologis.
4. Kegagalan Hubungan Romantis
Sabrina pernah mengungkapkan bahwa hubungannya dengan seorang musisi ternama berakhir secara dramatis, menambah beban emosional di tengah jadwal tur yang padat.
5. Krisis Kesehatan Mental
Ia mengakui pernah mengalami kecemasan berlebih dan depresi, terutama setelah tekanan publik yang meningkat. Sabrina menyatakan, “Saya belajar keluar dari lingkaran toxic dan fokus pada diri sendiri.”
6. Kontrol Karier yang Tidak Sehat
Menurut wawancara dengan Time pada 2024, Sabrina mengaku pernah dibimbing ke arah yang keliru oleh manajer yang lebih mengutamakan keuntungan daripada kesejahteraannya. Ia menilai masa itu sebagai pelajaran berharga.
7. Kritik Terhadap Aksi Panggung
Setelah menampilkan single “Espresso” di televisi, penonton menilai aksi panggungnya terlalu provokatif, memicu perdebatan tentang batasan seni pop modern.
8. Tuduhan Plagiarisme Lagu
Beberapa netizen menuduh bahwa melodi pada single “Short n’ Sweet” mirip dengan lagu indie yang belum dipublikasikan, meski tidak ada bukti hukum yang kuat.
9. Skandal Media Sosial
Sebulan sebelum Coachella, Sabrina terlibat perdebatan di X (Twitter) mengenai komentar politis yang dianggap tidak sensitif, yang memaksa ia menghapus postingan dan meminta maaf.
10. Kontroversi Zaghrouta di Coachella 2026
Pada tanggal 10 April 2026, saat tampil di panggung utama Coachella, Sabrina mendengar sorakan penonton yang merupakan “Zaghrouta”, seruan perayaan khas budaya Arab. Karena tidak familiar, ia menyebutnya “yodeling” dalam komentar spontan yang terekam kamera. Reaksi penonton dan netizen langsung memicu kemarahan, menudingnya tidak peka terhadap budaya lain. Sabrina kemudian mengunggah permintaan maaf di akun X-nya, menyatakan, “Saya tidak mendengar dengan jelas, reaksi saya murni kebingungan, dan tidak bermaksud buruk.”
11. Penolakan Dari Komunitas Arab
Kelompok aktivis budaya menilai komentar Sabrina sebagai contoh stereotip negatif terhadap tradisi Timur Tengah. Mereka menuntut klarifikasi lebih lanjut serta edukasi publik tentang “Zaghrouta”.
12. Penurunan Penjualan Album Sementara
Setelah kontroversi Coachella, streaming platform melaporkan penurunan 12% dalam jumlah pemutaran lagu “Espresso” selama minggu berikutnya, menandakan dampak komersial yang signifikan.
13. Isu Kesehatan Fisik Saat Tur
Sebagai bagian dari tur internasional, Sabrina mengalami cedera ringan pada pergelangan tangan akibat latihan piano intensif, memaksa ia menunda beberapa penampilan di Eropa.
14. Tekanan Media untuk Menjadi Ikon Feminisme
Meski sering diposisikan sebagai advokat pemberdayaan perempuan, Sabrina mengaku merasa terbebani oleh ekspektasi publik untuk selalu menjadi contoh moral, yang kadang bertentangan dengan kebebasan artistiknya.
Secara keseluruhan, perjalanan Sabrina Carpenter menggambarkan dinamika kompleks seorang artis muda di era digital. Dari bullying, kehilangan pribadi, hingga kesalahan budaya yang disorot media internasional, setiap insiden menambah lapisan pengalaman yang membentuk identitas publiknya. Meskipun kontroversi terbaru di Coachella menimbulkan pertanyaan tentang sensitivitas lintas budaya, permintaan maafnya menunjukkan kesediaan untuk belajar dan memperbaiki diri.
Ke depan, industri musik dan para penggemar diharapkan memberikan ruang bagi penyanyi untuk tumbuh tanpa mengorbankan kesehatan mental dan rasa hormat antarbudaya. Sabrina Carpenter, dengan rekam jejak gemilang namun berwarna tantangan, berada di persimpangan antara peluang global dan tanggung jawab sosial, sebuah posisi yang menuntut kebijaksanaan dalam setiap langkah kariernya.













