Back to Bali – 14 April 2026 | Investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menjadi sorotan utama di Bursa Efek Indonesia setelah serangkaian aksi beli saham yang memicu pergerakan harga signifikan. Sebagai figur yang sering disamakan dengan Warren Buffett versi Indonesia, langkah-langkah strategisnya tidak hanya memengaruhi emiten individual, tetapi juga menimbulkan dinamika pada sektor-sektor kunci, termasuk media, tekstil, dan agribisnis.
Dalam beberapa minggu terakhir, Lo Kheng Hong meningkatkan kepemilikan pada PT Global Mediacom Tbk (BMTR), perusahaan media milik Hary Tanoesoedibjo. Kenaikan posisi saham ini bertepatan dengan rumor kuat mengenai rencana merger antara BMTR dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN). Analisis internal pasar menunjukkan bahwa potensi penggabungan dua raksasa media tersebut dapat menciptakan sinergi pendapatan iklan yang signifikan, serta memperluas jaringan distribusi konten digital. Lo Kheng Hong menilai bahwa aksi borong saham BMTR merupakan posisi strategis untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan pasca‑merger.
Strategi Portofolio dan Pilihan Emiten
Selain BMRT, portofolio Lo Kheng Hong mencakup sejumlah saham yang menempati posisi top gainers pada sesi perdagangan terbaru. Di antara saham-saham tersebut terdapat Goto Japan Travel Ltd (GJTL), ANJT (Anugerah Jaya Tbk), NISP (Nusantara Infrastructure), dan DILD (Dian Indonesia). Kinerja masing‑masing saham menunjukkan kenaikan harga yang tajam, mengindikasikan bahwa pilihan Lo Kheng Hong selaras dengan tren bullish pada sektor infrastruktur dan travel.
Bergerak lebih jauh, Lo Kheng Hong juga diketahui memiliki kepentingan pada saham milik grup Salim, termasuk perusahaan yang beroperasi di bidang agribisnis dan makanan. Hubungan tak langsung antara Anthoni Salim dan Lo Kheng Hong mencuat ketika sejumlah saham yang berada dalam portofolio Salim mengalami lonjakan beli bersamaan dengan aksi Lo Kheng Hong. Meskipun tidak ada konfirmasi resmi mengenai kolaborasi langsung, spekulasi pasar menilai adanya sinergi potensial antara jaringan distribusi produk Salim dan strategi investasi Lo Kheng Hong yang berfokus pada sektor konsumen.
Isu Delisting Sritex dan Implikasi bagi Investor
Salah satu isu yang menambah ketegangan di pasar modal adalah pembicaraan mengenai kemungkinan delisting PT Sritex Tbk (SRIL). Rumor delisting muncul setelah munculnya tekanan regulasi dan penurunan likuiditas saham. Bagi investor yang memegang saham Sritex, termasuk Lo Kheng Hong, keputusan ini menjadi titik penting. Jika Sritex resmi dikeluarkan dari bursa, investor harus menilai kembali nilai portofolio mereka dan mencari alternatif penempatan modal yang sejalan dengan profil risiko.
Delisting berpotensi mengakibatkan kerugian kapitalisasi pasar, namun sekaligus membuka peluang bagi investor institusional untuk melakukan penyesuaian posisi pada sektor tekstil yang lebih stabil. Lo Kheng Hong diperkirakan akan memantau situasi ini secara ketat, mengingat rekam jejaknya dalam mengelola risiko portofolio secara dinamis.
Reaksi Pasar dan Prediksi IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan mengalami tekanan ringan dalam beberapa minggu ke depan, terutama karena kekhawatiran makroekonomi global dan fluktuasi nilai tukar. Meskipun demikian, saham-saham dalam portofolio Lo Kheng Hong menunjukkan daya tahan yang kuat, dengan beberapa di antaranya mencatatkan kenaikan harga di atas 10% dalam rentang waktu singkat.
Para analis pasar menilai bahwa aksi beli besar-besaran Lo Kheng Hong pada saham-saham tertentu dapat menjadi sinyal bullish bagi investor ritel. Pada saat yang sama, kehadiran tokoh seperti Anthoni Salim di arena bisnis menambah dimensi politik ekonomi yang memengaruhi keputusan investasi.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, aktivitas Lo Kheng Hong dalam beberapa bulan terakhir menegaskan perannya sebagai salah satu pemain utama di pasar modal Indonesia. Dari strategi borong saham BMTR menjelang potensi merger dengan MNCN, hingga keterkaitannya dengan grup Salim dan dinamika delisting Sritex, setiap langkahnya menjadi acuan bagi pelaku pasar lain. Dengan latak investasi yang terdiversifikasi dan kemampuan membaca tren sektoral, Lo Kheng Hong diprediksi akan terus menjadi katalisator utama dalam pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia.













