Back to Bali – 01 Mei 2026 | Insiden yang terjadi pada laga Liga 1 antara Dewa United dan Persikabo 1973 menjadi sorotan utama dunia sepakbola Indonesia setelah dua pemain muda, Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis, melancarkan tendangan yang menyerupai gerakan kungfu kepada lawan. Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi berat berupa larangan bermain selama satu tahun, sementara klub Dewa United secara resmi menuntut keadilan atas keputusan tersebut.
Rangkaian Kejadian di Lapangan
Pada menit ke-28 pertandingan, Fadly Alberto yang bertugas sebagai gelandang menyerang melakukan aksi keras terhadap pemain lawan. Rakha Nurkholis, yang berada di posisi bek kanan, kemudian melanjutkan aksi dengan tendangan memutar yang menimbulkan luka pada pergelangan kaki lawan. Kedua tindakan tersebut langsung menimbulkan protes keras dari ofisial pertandingan dan menimbulkan kegelisahan di tribun penonton.
Wasit mengeluarkan kartu merah langsung kepada Fadly, sementara Rakha menerima kartu kuning kedua yang otomatis berujung pada kartu merah. Kedua pemain pun harus meninggalkan lapangan dan menunggu proses selanjutnya dari otoritas kompetisi.
Proses Penilaian Komdis PSSI
Setelah insiden, Komdis PSSI mengadakan rapat khusus untuk menilai tindakan kedua pemain. Menurut peraturan disiplin yang berlaku, aksi yang menimbulkan potensi bahaya fisik yang serius dapat dikenai sanksi paling berat, yaitu larangan bermain satu tahun atau lebih. Dalam putusan yang dikeluarkan pada tanggal 27 April 2024, Komdis menegaskan bahwa tindakan Fadly dan Rakha melanggar Etika Bermain Fair Play dan menodai nama baik kompetisi.
Komdis menambahkan bahwa tindakan tersebut tidak dapat dimaafkan dengan sekadar peringatan karena dampaknya meluas, termasuk potensi cedera serius pada pemain lain serta menurunkan citra kompetisi di mata publik dan sponsor.
Reaksi Dewa United
Manajemen Dewa United, yang mengakui keseriusan pelanggaran, mengajukan pernyataan resmi menuntut keadilan. Klub menegaskan bahwa pemain muda mereka memang melakukan kesalahan, namun hukuman setahun dirasa tidak proporsional mengingat usia dan potensi perkembangan mereka. “Kami menghargai keputusan Komdis, namun kami berharap ada ruang untuk pertimbangan khusus, mengingat kedua pemain masih berada pada fase pembinaan,” ujar Direktur Operasional Dewa United dalam konferensi pers.
Selain itu, Dewa United meminta adanya program rehabilitasi disiplin yang melibatkan edukasi tentang kontrol emosi dan teknik bermain yang aman, alih-alih sekadar pengekangan waktu bermain.
Implikasi bagi Pemain dan Tim
Larangan bermain selama satu tahun berarti Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis tidak dapat tampil di kompetisi resmi yang diselenggarakan oleh PSSI, termasuk Liga 1, Piala Indonesia, maupun kompetisi junior yang berada di bawah naungan federasi. Dampaknya tidak hanya pada karier mereka, tetapi juga pada struktur skuad Dewa United yang kini harus mencari pengganti dalam posisi gelandang serang dan bek kanan.
Menurut analisis internal tim, kehilangan dua pemain muda yang tengah dalam proses pengembangan dapat mengganggu dinamika taktik tim. Dewa United diperkirakan akan mengintegrasikan pemain cadangan serta melakukan transfer tambahan pada bursa transfer berikutnya.
Respons Publik dan Media Sosial
Kasus ini memicu perdebatan sengit di media sosial. Sebagian netizen menilai hukuman terlalu keras, mengingat insiden terjadi dalam intensitas pertandingan yang tinggi. Namun, sebagian lainnya menilai bahwa tindakan tegas diperlukan untuk memberikan contoh bahwa kekerasan dalam sepakbola tidak akan ditoleransi.
Pengamat sepakbola menambahkan bahwa kasus ini menjadi momentum penting bagi PSSI untuk meninjau kembali regulasi disiplin, khususnya dalam hal penilaian intensitas pelanggaran dan faktor usia pemain.
Dengan tekanan publik dan permintaan keadilan dari Dewa United, kemungkinan besar akan muncul banding atau revisi sanksi dalam waktu dekat. Namun, hingga keputusan akhir diumumkan, kedua pemain harus menjalani proses rehabilitasi fisik dan mental di luar lapangan.
Kasus tendangan kungfu ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh ekosistem sepakbola Indonesia, menegaskan pentingnya kontrol emosi, disiplin, dan penegakan aturan yang konsisten demi menjaga integritas kompetisi.













