Ray Rangkuti Bentak Prabowo: ‘Indonesia Gelap’ Bikin Sensitif, Ini Dampaknya!

Back to Bali – 01 Mei 2026 | Jakarta, 30 April 2026 – Pernyataan kontroversial Prabowo Subianto yang menyebut Indonesia sebagai “gelap” dan menambahkan sindiran..

2 minutes

Read Time

Ray Rangkuti Bentak Prabowo: 'Indonesia Gelap' Bikin Sensitif, Ini Dampaknya!

Back to Bali – 01 Mei 2026 | Jakarta, 30 April 2026 – Pernyataan kontroversial Prabowo Subianto yang menyebut Indonesia sebagai “gelap” dan menambahkan sindiran “kabur aja ke Yaman” memicu gelombang kritik tajam dari kalangan media, akademisi, dan tokoh publik. Salah satu suara paling keras datang dari jurnalis senior Ray Rangkuti, yang menuduh Prabowo melakukan serangan personal dan menguji batas toleransi politik di Tanah Air.

Latar Belakang Pernyataan Prabowo

Pada sebuah konferensi pers politik minggu lalu, Prabowo Subianto menegaskan bahwa situasi keamanan dan kebebasan pers di Indonesia masih “gelap”. Ia menambahkan, “Kalau tidak ada perubahan, lebih baik kabur saja ke Yaman”. Pernyataan ini segera menjadi bahan perbincangan luas di media sosial dan menjadi sorotan utama di ruang parlemen.

Reaksi Ray Rangkuti dan Pengamat

Ray Rangkuti, yang dikenal kritis terhadap retorika politikus, langsung menanggapi melalui sebuah kolom opini. Ia menilai bahwa kata “gelap” bukan sekadar kritik kebijakan, melainkan upaya menjelekkan citra negara untuk kepentingan politik pribadi. Rangkuti menulis, “Ketika seorang pemimpin menggelapkan bangsa, ia tidak lagi melindungi rakyat, melainkan menciptakan narasi yang menakut‑nakan untuk menutupi kegagalan.”

Selain Rangkuti, beberapa analis politik menyoroti pola serupa dalam retorika Prabowo. Mereka menyebutkan bahwa penggunaan istilah “gelap” berpotensi menimbulkan kepanikan dan memperkuat citra otoriter. Salah satu pakar komunikasi politik, M Qodari, menilai bahwa substansi kritik Prabowo terletak pada upaya mengalihkan perhatian publik dari isu‑isu ekonomi dan kebijakan luar negeri yang tengah dihadapi pemerintah.

Analisis Psikologis di Balik Dendam Prabowo

Berbagai pengamat psikologi politik mencoba mengupas motivasi di balik pernyataan keras Prabowo. Mereka mengidentifikasi lima lapisan psikologis: (1) rasa frustrasi atas penurunan popularitas, (2) kebutuhan untuk menegaskan otoritas, (3) penggunaan bahasa provokatif sebagai strategi mobilisasi basis, (4) keinginan menginternalisasi kegagalan sebagai serangan pribadi, dan (5) upaya menciptakan narasi lawan politik sebagai musuh bersama. Semua lapisan ini, menurut mereka, menambah intensitas konflik verbal antara Prabowo dan kritikus seperti Ray Rangkuti.

Dampak Politik dan Media

Kontroversi ini tidak hanya beredar di dunia maya, melainkan juga mempengaruhi dinamika politik di DPR. Beberapa anggota komisi menyampaikan keprihatinan atas pernyataan yang dianggap dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi negara. Di sisi lain, pendukung Prabowo menilai bahwa kritik tersebut berlebihan dan merupakan upaya media untuk melemahkan posisi politiknya menjelang pemilihan umum 2029.

Media mainstream, termasuk portal berita terbesar, menampilkan rangkaian opini yang beragam. Sebagian menyoroti pentingnya kebebasan pers dan menolak retorika yang mengancam, sementara yang lain menekankan bahwa setiap pemimpin berhak menyuarakan keprihatinan mereka secara terbuka, selama tidak melanggar norma kesopanan publik.

Secara umum, episode ini memperlihatkan betapa sensitifnya istilah “Indonesia gelap” dalam konteks politik saat ini. Reaksi keras Ray Rangkuti menunjukkan bahwa kritik media tidak lagi sekadar menilai kebijakan, melainkan menguji batas toleransi retorika politikus di era digital.

Dengan tekanan yang terus meningkat, Prabowo diperkirakan akan menyesuaikan bahasanya dalam beberapa hari mendatang. Sementara itu, Ray Rangkuti berjanji akan terus mengawal kebebasan pers dan menolak segala bentuk penyamaran narasi gelap yang dapat menodai citra Indonesia di mata dunia.

About the Author

Zillah Willabella Avatar