Daftar 10 Luka yang Disebut Keluarga Ada di Tubuh Zahra Lantong, Tante Korban: Kami Lihat Sendiri

Back to Bali – 16 April 2026 | Jakarta – Keluarga dekat korban, Zahra Lantong, mengungkapkan secara detail sepuluh luka yang ditemukan pada tubuhnya setelah..

3 minutes

Read Time

Daftar 10 Luka yang Disebut Keluarga Ada di Tubuh Zahra Lantong, Tante Korban: Kami Lihat Sendiri

Back to Bali – 16 April 2026 | Jakarta – Keluarga dekat korban, Zahra Lantong, mengungkapkan secara detail sepuluh luka yang ditemukan pada tubuhnya setelah ditemukan tewas di rumah Ngronggo, Kediri, pada Rabu (15/4/2026). Menurut saksi mata dan anggota keluarga yang berada di lokasi, luka‑luka tersebut tampak konsisten dengan tanda‑tanda penganiayaan berat yang berlangsung selama beberapa hari.

Polisi setempat telah mengamankan tiga orang anggota keluarga korban, yakni ibu kandung, ayah tiri, dan nenek, untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Sementara itu, tim forensik sedang menunggu hasil visum untuk memastikan penyebab kematian serta kronologi luka yang dialami Zahra.

Daftar sepuluh luka yang diidentifikasi

  1. Luka memar pada pelipis kiri – terlihat berupa memar berwarna ungu tua, menandakan benturan keras.
  2. Luka memar pada perut bagian atas – terdapat bengkak dan memar luas, mengindikasikan tekanan atau pukulan berulang.
  3. Bekas lebam pada lengan kanan – pola lebam melingkar, seolah‑olah dipukul dengan benda keras.
  4. Bekas sundutan rokok pada pergelangan tangan kiri – bekas terbakar berwarna merah gelap, menandakan penggunaan rokok sebagai alat penyiksaan.
  5. Luka memar pada punggung bawah – area luas dengan perubahan warna kulit, biasanya muncul setelah terjatuh atau dipukul keras.
  6. Bekas goresan pada lutut kanan – goresan memanjang yang tampak segar, kemungkinan akibat gesekan dengan permukaan keras.
  7. Luka lebam pada paha kiri – memar berukuran besar yang menandakan benturan kuat pada bagian tubuh yang besar.
  8. Bekas bekas luka bakar pada pergelangan kaki kanan – bercak merah kehitaman, menunjukkan paparan panas atau api selama penyiksaan.
  9. Luka memar pada bahu kiri – memar berwarna biru kehitaman, mengindikasikan pukulan berulang pada bahu.
  10. Bekas goresan pada dagu – goresan tipis namun dalam, menandakan tindakan menekan atau menggores wajah secara sengaja.

Keluarga Zahra, terutama sang tante yang berada di dekat lokasi kejadian, menegaskan bahwa mereka melihat semua luka tersebut secara langsung ketika tubuh korban pertama kali dibawa ke rumah sakit. “Kami melihat sendiri, setiap memar, setiap bekas sundutan rokok. Ini bukan kecelakaan biasa,” ujar tante korban dengan nada bergetar.

Warga sekitar melaporkan suasana sore hari ketika kejadian terjadi sangat sepi, dengan hujan deras menambah kesan suram. Tidak ada suara tangisan atau teriakan yang terdengar sebelum korban ditemukan tak bernyawa. “Saat kami masuk, sudah tidak ada napas. Kami tidak pernah mendengar ada keributan,” kata seorang tetangga, Ririn.

Pihak kepolisian menegaskan bahwa penyelidikan masih dalam tahap awal. Kepala Satreskrim Polres Kediri, AKP Achmad Elyasarif Martadinata, menyatakan bahwa semua bukti fisik, termasuk foto luka, telah dikumpulkan untuk dianalisis. “Kami belum dapat mengungkap motif pasti, namun pola luka mengarah pada kekerasan berulang dalam lingkungan rumah,” ujarnya.

Selama proses penyidikan, tiga anggota keluarga yang ditahan akan menjalani pemeriksaan intensif. Polisi juga menambah tim forensik untuk melakukan autopsi menyeluruh, guna memastikan apakah luka‑luka tersebut berkontribusi langsung pada kematian atau hanya merupakan tanda kekerasan sebelumnya.

Kasus ini menambah daftar panjang kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Timur. Aktivis hak anak menyerukan peningkatan pengawasan dan perlindungan bagi anak‑anak yang berada dalam situasi berisiko, serta penegakan hukum yang lebih tegas bagi pelaku.

Jika hasil visum dan penyelidikan mengonfirmasi dugaan KDRT, pihak berwenang diharapkan dapat mengajukan tuntutan pidana sesuai dengan Undang‑Undang Perlindungan Anak. Masyarakat pun diimbau untuk tetap waspada dan melaporkan setiap tanda‑tanda kekerasan yang mencurigakan.

Kasus Zahra Lantong kini menjadi sorotan publik, menuntut transparansi dan keadilan bagi korban serta keluarganya. Penyelidikan masih berlangsung, dan perkembangan selanjutnya akan terus dipantau oleh media serta lembaga terkait.

About the Author

Zillah Willabella Avatar