Dari Bungkus Tempe ke Baitullah: Tabungan 30 Tahun yang Mengubah Hidup Seorang Penjual Es Keliling

Back to Bali – 23 April 2026 | Ketika banyak orang menganggap impian menunaikan ibadah haji hanya dapat dicapai lewat tabungan di bank atau bantuan..

3 minutes

Read Time

Dari Bungkus Tempe ke Baitullah: Tabungan 30 Tahun yang Mengubah Hidup Seorang Penjual Es Keliling

Back to Bali – 23 April 2026 | Ketika banyak orang menganggap impian menunaikan ibadah haji hanya dapat dicapai lewat tabungan di bank atau bantuan pemerintah, kisah Mukti Ali, seorang penjual es keliling asal Jombang, Jawa Timur, membuktikan bahwa ketekunan dan kreativitas dalam menabung dapat menembus batas ekonomi. Selama tiga dekade, ia menyimpan uang hasil penjualan dalam wadah‑wadah sederhana—mulai dari kaleng biskuit hingga bungkus tempe—hingga akhirnya dapat melangkah ke Tanah Suci bersama sang istri, Anik.

Latar Belakang

Mukti Ali (54) memulai kariernya sebagai penarik becak. Karena pendapatan yang tidak menentu dan menurunnya jumlah penumpang, ia beralih menjadi penjual es campur keliling. Setiap pagi, ia menempuh beberapa kilometer dengan gerobak kayu, mengunjungi desa‑desa di sekitar Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang. Penghasilan yang didapatkan memang minim, namun tekadnya untuk menabung sejak muda tidak pernah surut.

Strategi Menabung yang Unik

Berbeda dengan kebanyakan orang yang menabung di lembaga keuangan, Mukti dan Anik memilih metode yang lebih “rumahan”. Setiap kali pulang dengan uang hasil penjualan, istrinya menyiapkan beberapa wadah bekas: kaleng biskuit, kantong plastik, bahkan bungkus tempe yang biasanya dibuang. Uang koin dan pecahan kecil dimasukkan secara bertahap. Selama 23 tahun, mereka mengumpulkan uang secara konsisten tanpa tergoda untuk menghabiskannya pada kebutuhan seketika.

Metode ini memiliki beberapa keunggulan:

  • Keterjangkauan: Tidak memerlukan biaya administrasi atau rekening bank.
  • Kedisiplinan: Setiap penambahan uang harus dilakukan secara manual, yang menumbuhkan kesadaran akan nilai uang.
  • Motivasi visual: Menyaksikan wadah yang semakin penuh memberikan dorongan psikologis untuk terus menabung.

Perjalanan Menuju Haji

Pada tahun 2012, setelah menabung cukup, pasangan ini berhasil mendaftar untuk memperoleh porsi haji. Proses pendaftaran memakan waktu, karena antrean haji di Indonesia biasanya memakan puluhan tahun. Selama menunggu, mereka tidak berhenti menabung. Uang yang terkumpul digunakan untuk menutupi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH), termasuk tiket pesawat, akomodasi, dan perlengkapan ibadah.

Pada akhirnya, pada musim haji 2026, Mukti dan Anik berangkat bersama rombongan haji dari Jombang. Kegembiraan mereka tak terbendung; mereka menjadi contoh nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang spiritual bila diiringi tekad dan strategi menabung yang tepat.

Makna Sosial dan Ekonomi

Kisah ini menyentuh hati banyak warga Jombang dan provinsi Jawa Timur. Di tengah tantangan ekonomi pasca‑pandemi, banyak keluarga yang mencari cara alternatif menabung. Penggunaan kembali kemasan makanan sebagai “celengan” memberikan inspirasi tentang pentingnya daur ulang serta mengurangi limbah plastik.

Selain itu, keberhasilan Mukti menembus batas ekonomi tradisional menegaskan perlunya dukungan kebijakan yang mempermudah akses masyarakat informal ke layanan keuangan. Program edukasi literasi keuangan yang menekankan pentingnya menabung, meski dalam bentuk sederhana, dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga secara signifikan.

Inspirasi Bagi Generasi Muda

Generasi muda kini dapat mengambil pelajaran dari tiga poin utama:

  1. Disiplin menabung: Menetapkan target jangka panjang dan menyisihkan sebagian pendapatan secara rutin.
  2. Kreativitas dalam menyimpan: Memanfaatkan barang bekas sebagai wadah menabung, mengurangi sampah sekaligus menumbuhkan rasa memiliki.
  3. Kolaborasi pasangan: Kerjasama antara suami dan istri dalam mengelola keuangan rumah tangga meningkatkan peluang tercapainya tujuan bersama.

Keberhasilan mereka juga menjadi bukti bahwa impian spiritual seperti menunaikan haji dapat dicapai tanpa mengorbankan kebutuhan pokok, asalkan ada perencanaan yang matang.

Dengan menapaki langkah-langkah kecil namun konsisten, Mukti Ali mengubah kaleng biskuit menjadi simbol harapan, dan kini ia berdiri di hadapan Ka’bah, menutup satu bab panjang dalam hidupnya yang dimulai dari jualan es keliling. Cerita ini menegaskan bahwa nilai manfaat sebuah tabungan tidak hanya diukur dari jumlah uang yang terkumpul, melainkan dari perubahan kualitas hidup dan inspirasi yang dapat ditularkan kepada orang lain.

About the Author

Pontus Pontus Avatar