Back to Bali – 06 Mei 2026 | Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Utara, Erni Sitorus, kembali menjadi sorotan publik setelah munculnya dugaan keterlibatan politikus tersebut dalam kasus yang melibatkan Wakil Ketua DPRD Deliserdang, Bobby Hidayat. Kasus ini menimbulkan pertanyaan mengenai hubungan kerja sama di dalam lingkaran legislatif provinsi serta menyoroti aset pribadi Erni yang dilaporkan bernilai sekitar dua miliar empat ratus juta rupiah.
Latar Belakang Kasus
Menurut informasi yang beredar, penyelidikan kepolisian mengidentifikasi Bobby Hidayat sebagai tersangka utama dalam dugaan korupsi dana alokasi khusus (DAK) yang melibatkan proyek infrastruktur di Deliserdang. Selama proses penyidikan, sejumlah dokumen mengaitkan nama Erni Sitorus sebagai pihak yang memberikan arahan strategis kepada Bobby, yang kemudian memicu spekulasi publik tentang peran sebenarnya.
Aset Erni Sitorus
Data keuangan yang dirilis oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperlihatkan bahwa total aset Erni Sitorus mencapai Rp2,4 miliar. Rincian aset mencakup rumah tinggal di Medan, kendaraan pribadi, serta sejumlah investasi di sektor properti. Nilai total tersebut berada di atas rata-rata kekayaan anggota DPRD Sumut, menimbulkan pertanyaan tentang sumber dana yang diperoleh.
Reaksi Masyarakat di Media Sosial
Seiring berjalannya penyelidikan, jaringan media sosial dipenuhi komentar publik yang menilai “hubungan” antara Erni dan Bobby. Banyak netizen menuduh adanya kolusi politik, sementara sebagian lainnya menolak spekulasi tersebut sebagai fitnah tanpa bukti kuat. Berikut beberapa komentar yang mencuat:
- “Kalau memang ada hubungannya, kenapa sampai sampai ke tingkat tersangka?” – pengguna Twitter @politicwatcher
- “Jangan cepat menilai, tunggu hasil penyelidikan resmi dulu.” – pengguna Facebook @satuIndonesia
- “Aset Erni terlalu tinggi, pasti ada yang tidak beres.” – pengguna Instagram @analisis_berita
Penanganan Hukum dan Politikal
Pihak kepolisian menyatakan bahwa proses hukum masih berlangsung dan belum ada keputusan final terkait peran Erni Sitorus. Sementara itu, fraksi-partai di DPRD Sumut menolak tudingan yang belum terbukti, menekankan pentingnya asas praduga tak bersalah.
Di tingkat provinsi, Gubernur Sumut menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menindak tegas setiap indikasi korupsi, tanpa pandang bulu. “Kami akan memastikan proses hukum berjalan transparan dan akuntabel,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers.
Implikasi Politik
Kasus ini berpotensi mengguncang dinamika politik di Sumatera Utara. Jika terbukti, Erni Sitorus dapat kehilangan jabatan sekaligus menurunkan kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif. Selain itu, hubungan internal antaranggota DPRD dapat menjadi tegang, memicu pergeseran aliansi politik menjelang pemilihan berikutnya.
Para analis politik memperkirakan bahwa skandal ini dapat menjadi titik balik bagi upaya reformasi birokrasi di Sumut, terutama dalam hal transparansi pengelolaan dana publik. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa proses hukum harus dijalankan secara independen agar tidak dijadikan alat politik.
Dalam beberapa minggu ke depan, mata publik akan terus memantau perkembangan kasus ini, baik melalui laporan resmi kepolisian maupun pernyataan resmi DPRD Sumut. Sementara itu, Erni Sitorus belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan yang melingkupi dirinya.
Kasus ini menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap pengelolaan aset pejabat publik serta perlunya mekanisme yang kuat untuk mencegah potensi penyalahgunaan wewenang di tingkat daerah.













