Back to Bali – 06 Mei 2026 | Jakarta, 5 Mei 2026 – Trisha Eungelica, putri perempuan Ferdy Sambo, mengukir prestasi penting dengan melangsungkan sumpah dokter pada hari Jumat (4/5/2026). Upacara yang diadakan di sebuah gedung serba guna di pusat kota ini berlangsung sederhana, hanya dihadiri oleh nenek Trisha dan adik laki‑lakinya. Meski kehadiran keluarga inti terbatas, momen tersebut tetap menjadi sorotan publik karena nama ayah Trisha, mantan Kepala Divisi Reserse Kriminal (Dreskrimsus) Polri, Ferdy Sambo, secara resmi disebut dalam prosesi.
Proses Sumpah Dokter yang Mengharukan
Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan pembacaan doa bersama, diikuti oleh sambutan singkat dari dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Setelah itu, Trisha berdiri di depan podium dan mengucapkan sumpah profesi dokter yang berisi komitmen untuk mengabdi kepada masyarakat, menjunjung tinggi etika medis, serta melindungi rahasia pasien. Sumpah tersebut diikuti dengan penandatanganan buku prosesi oleh para pejabat fakultas.
Setelah menyelesaikan sumpah, Trisha diberikan segel resmi yang menandakan kelulusan sebagai dokter. Segel tersebut kemudian diserahkan kepada neneknya, Ibu Maria Kristi, yang menangis haru saat menerima simbol kebanggaan keluarga. Adik Trisha, Dimas Sambo, yang berusia 22 tahun dan masih menempuh pendidikan sarjana ekonomi, juga berada di sampingnya, menambah suasana kebersamaan yang hangat.
Nama Ferdy Sambo Disebut dalam Prosesi
Walaupun Ferdy Sambo tidak hadir secara fisik, namanya tetap disebutkan dalam sambutan dekan sebagai bagian dari latar belakang keluarga Trisha. Penyebutan tersebut menimbulkan spekulasi luas di media sosial. Beberapa pihak menilai bahwa penyebutan nama mantan pejabat tinggi yang pernah terjerat kasus korupsi dan pelanggaran hukum merupakan upaya mengembalikan citra keluarga, sementara yang lain berpendapat bahwa hal itu merupakan pengakuan faktual atas identitas ayah Trisha.
Selama prosesi, dekan Fakultas Kedokteran menegaskan bahwa proses kelulusan Trisha bersifat independen dan berdasarkan prestasi akademik serta kompetensi klinis. “Kami menilai setiap mahasiswa secara objektif, tanpa memandang latar belakang keluarga. Trisha telah melewati semua ujian klinis, ujian kompetensi, dan magang yang ketat,” ujar dekan dalam pernyataannya.
Kehadiran Keluarga yang Terbatas: Mengapa Nenek dan Adik Saja?
Keputusan untuk membatasi undangan keluarga menjadi nenek dan adik Trisha dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, keberlangsungan kasus hukum yang masih menggantung pada Ferdy Sambo membuat pihak kepolisian dan keluarga menghindari sorotan media yang berlebihan. Kedua, Trisha sendiri menginginkan suasana yang tenang dan tidak terbebani oleh tekanan eksternal.
Dalam wawancara singkat setelah prosesi, Trisha mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada neneknya yang selalu mendukung perjuangannya sejak kecil. “Nenek adalah sumber kekuatan saya. Tanpa beliau, mungkin saya tidak akan sampai pada titik ini,” ujarnya dengan mata berkaca‑kaca.
Reaksi Publik dan Media
Berita tentang sumpah dokter Trisha cepat menyebar di platform media sosial. Banyak netizen yang memberikan selamat serta mengapresiasi pencapaian Trisha sebagai dokter muda. Namun, tidak sedikit pula yang menyoroti nama Ferdy Sambo, menanyakan apakah keberadaan ayahnya akan memengaruhi karier medis Trisha di masa depan.
Beberapa komentar menekankan pentingnya memisahkan prestasi individu dengan catatan kriminal anggota keluarga. “Trisha harus dinilai dari kompetensinya, bukan dari apa yang pernah dilakukan ayahnya,” tulis salah satu pengguna Twitter.
Di sisi lain, terdapat pula komentar yang mengkritik pemerintah karena belum menyelesaikan proses hukum terkait kasus Ferdy Sambo, menganggap bahwa sorotan media pada keluarga tersebut masih terlalu berlebihan.
Secara keseluruhan, respons publik cenderung bersifat dualistik: ada dukungan penuh terhadap Trisha sebagai dokter baru, dan ada rasa curiga yang masih melekat pada nama keluarganya.
Dengan demikian, Trisha Eungelica kini resmi bergabung dalam barisan tenaga medis Indonesia. Ia akan memulai kariernya sebagai dokter umum di sebuah rumah sakit pemerintah di Jakarta, di mana ia berencana mengabdikan diri pada layanan kesehatan masyarakat, terutama di bidang kesehatan ibu dan anak. Ke depannya, Trisha berharap dapat membuktikan kompetensinya secara konsisten, sekaligus menegaskan bahwa identitas pribadi tidak dapat disamakan dengan tindakan orang lain.
Kesimpulannya, meski nama ayahnya masih menjadi sorotan, Trisha berhasil menapaki langkah penting dalam karier profesionalnya dengan dukungan terbatas namun kuat dari nenek dan adiknya. Perjalanan Trisha ke depan akan menjadi indikator penting bagaimana publik menilai kemampuan individu terlepas dari latar belakang keluarga yang kontroversial.













