Back to Bali – 28 April 2026 | Baru-baru ini, sebuah tim peneliti dari Universitas Hokkaido, Jepang, mengumumkan temuan luar biasa yang mengubah cara kita memandang rantai makanan laut pada era Kapur Akhir. Fosil rahang gurita purba yang berukuran besar mengindikasikan keberadaan makhluk bertubuh lunak sepanjang hampir 20 meter, menjadikannya predator puncak yang menyaingi reptil laut raksasa pada masa yang sama.
Penemuan Fosil Rahang yang Menakjubkan
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada 23 April 2026 memfokuskan pada fosil rahang gurita kuno, bagian tubuh yang lebih mudah terawetkan dibandingkan mantel lunak. Dengan memanfaatkan teknik tomografi pengikisan beresolusi tinggi dan analisis berbasis kecerdasan buatan, tim berhasil mengidentifikasi fosil rahang yang tersembunyi dalam batuan di dua lokasi: sebuah situs di Jepang dan sebuah formasi batuan di Pulau Vancouver, Kanada.
Fosil tersebut berusia antara 100 hingga 72 juta tahun, menandai periode Kapur Akhir ketika perairan laut relatif tenang, memungkinkan detail mikroskopis pada rahang terjaga dengan baik. Dari bentuk, ukuran, serta pola keausan, para ilmuwan menyimpulkan bahwa hewan ini termasuk dalam kelompok gurita bersirip yang telah punah, dikenal sebagai Cirrata.
Ukuran dan Kekuatan Gigitan
Analisis ukuran rahang menunjukkan bahwa panjang total gurita ini dapat mencapai hampir 19‑20 meter, melampaui ukuran beberapa reptil laut besar seperti mosasaurus dan pliosaurus. Lebih mengherankan lagi, jejak keausan pada ujung rahang mencapai sekitar 10 persen, menandakan penggunaan intensif dalam menghancurkan mangsa berkerangka keras.
Goresan, retakan, serta permukaan mengilap pada rahang mengindikasikan kekuatan gigitan yang luar biasa, memungkinkan hewan ini memecahkan cangkang keras seperti ammonit, kerang, dan bahkan kepingan tulang laut. Ini menegaskan peranannya sebagai predator agresif, bukan sekadar pemulung pasif.
Implikasi Evolusi dan Kecerdasan
Salah satu temuan menarik adalah ketidakseimbangan keausan antara sisi kiri dan kanan rahang. Pola ini mengisyaratkan adanya lateralitas, yakni kecenderungan menggunakan satu sisi tubuh lebih dominan, sebuah perilaku yang pada hewan modern sering dikaitkan dengan proses neurologis kompleks. Hal ini membuka kemungkinan bahwa gurita purba sudah menunjukkan tingkatan kecerdasan dan perilaku motorik yang maju, jauh lebih tinggi dari asumsi sebelumnya.
Selain itu, penemuan ini memaksa para ilmuwan untuk menurunkan catatan tertua gurita bersirip sekitar 15 juta tahun, dan catatan gurita secara umum menjadi setidaknya 100 juta tahun. Dengan kata lain, gurita telah menjadi bagian integral ekosistem laut sejak masa dinosaurus, beradaptasi dan berevolusi selama puluhan juta tahun.
Revisi Paradigma Rantai Makanan Laut Purba
Sebelumnya, para ahli menganggap bahwa puncak rantai makanan laut pada era Kapur didominasi oleh vertebrata seperti reptil laut besar dan ikan pemangsa. Penemuan gurita raksasa menantang pandangan tersebut, menunjukkan bahwa invertebrata juga mampu naik ke puncak rantai makanan melalui strategi berburu yang kuat dan adaptasi morfologis yang unik.
Keberadaan predator lunak sebesar ini juga menimbulkan pertanyaan tentang dinamika ekosistem laut purba: bagaimana interaksi antara gurita raksasa dengan pemangsa lain, apa peran mereka dalam mengontrol populasi organisme keras, dan bagaimana perubahan iklim laut pada masa Kapur memengaruhi kelangsungan hidup mereka.
Masa Depan Penelitian Paleontologi Digital
Tim peneliti menegaskan bahwa kombinasi pencarian fosil digital dan teknologi AI membuka peluang menemukan lebih banyak fosil tersembunyi. Metode ini memungkinkan rekonstruksi ekosistem laut purba dengan detail yang belum pernah tercapai, memberikan gambaran lebih jelas tentang jaringan makanan, kompetisi, dan evolusi spesies laut.
Dengan temuan ini, dunia ilmiah dihadapkan pada tantangan baru: menelusuri jejak makhluk lunak yang jarang terfosilkan, memahami peran mereka dalam sejarah bumi, dan mengintegrasikan data baru ke dalam model evolusi laut. Penemuan gurita raksasa 19 meter tidak hanya menambah kekaguman terhadap keanekaragaman hayati masa lalu, tetapi juga mengingatkan kita akan kompleksitas kehidupan yang mampu beradaptasi di lingkungan ekstrem.
Penemuan ini diharapkan menjadi titik tolak bagi penelitian lebih lanjut, menginspirasi generasi ilmuwan muda untuk mengeksplorasi misteri laut purba yang masih tersembunyi di dalam batuan bumi.













