Back to Bali – 15 Juni 2026 |
Jakarta, Pada bulan Mei 2026, KAI Logistik mencatatkan kinerja angkutan barang dengan volume 1.658.622 ton, meningkat 10% dibandingkan periode bulan sebelumnya. Kinerja ini didorong oleh kinerja angkutan kereta kontainer yang menunjukkan pertumbuhan konsisten. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, layanan KA Kontainer telah mengangkut 1.193.688 ton barang atau setara dengan hampir 60 ribu perjalanan truk, mencerminkan semakin meningkatnya pemanfaatan moda kereta api sebagai solusi logistik yang efisien dan berkelanjutan.
Yuskal Setiawan, Direktur Utama KAI Logistik, mengungkapkan bahwa layanan KA Kontainer mencatat kenaikan 8% secara tahunan pada 2025 dibandingkan 2024, melanjutkan tren pertumbuhan positif sebagai salah satu layanan unggulan. Pada 2026, KAI Logistik menargetkan pertumbuhan yang lebih besar melalui penguatan layanan dan kapasitas angkut kereta api kontainer.
Tren peningkatan volume semakin terlihat memasuki triwulan II 2026, dengan capaian tertinggi pada Mei sebesar 267.390 ton atau meningkat 20% dibandingkan awal tahun 2026. Untuk mengakomodasi pertumbuhan permintaan tersebut, KAI Logistik melakukan akselerasi kapasitas melalui penambahan dua rangkaian KA Kontainer.
Peningkatan pemanfaatan moda kereta api untuk angkutan barang juga menciptakan efek multiplier bagi perekonomian. Distribusi logistik yang lebih andal akan memperkuat kelancaran pasokan bahan baku dan barang jadi bagi berbagai sektor industri, menjaga stabilitas rantai pasok, serta meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar domestik maupun global.
Dalam konteks tersebut, kereta api memiliki posisi strategis sebagai tulang punggung angkutan barang berkapasitas besar yang mampu mendukung konektivitas antarwilayah sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional.
Ke depan, tantangan logistik tidak lagi berbicara mengenai kecepatan pengiriman, tetapi juga menitikberatkan pada aspek tanggung jawab terhadap lingkungan dan infrastruktur. Peralihan sebagian angkutan barang ke moda kereta api merupakan investasi jangka panjang bagi ekonomi nasional karena mampu meningkatkan efisiensi rantai pasok, mengurangi biaya eksternal akibat kemacetan dan kerusakan jalan, serta mendukung pencapaian target pembangunan rendah karbon Indonesia.













