Mental Baja Hannibal Mejbri: Tak Gentar Hadapi Raksasa, Tunisia Bertekad Bikin Kejutan di Piala Dunia 2026

Back to Bali – 15 Juni 2026 | MONTERREY, Meksiko – Mentalitas baja yang terbentuk dari kerasnya kehidupan di pinggiran kota Paris mewarnai perjalanan karier Hannibal Mejbri. Gelandang muda Tunisia ini menegaskan bahwa ia dan timnasnya tidak gentar menghadapi lawan siapapun di Piala Dunia 2026, termasuk Swedia, Jepang, dan Belanda yang tergabung di Grup F.…

3 minutes

Read Time

Mental Baja Hannibal Mejbri: Tak Gentar Hadapi Raksasa, Tunisia Bertekad Bikin Kejutan di Piala Dunia 2026

Back to Bali – 15 Juni 2026 | MONTERREY, Meksiko – Mentalitas baja yang terbentuk dari kerasnya kehidupan di pinggiran kota Paris mewarnai perjalanan karier Hannibal Mejbri. Gelandang muda Tunisia ini menegaskan bahwa ia dan timnasnya tidak gentar menghadapi lawan siapapun di Piala Dunia 2026, termasuk Swedia, Jepang, dan Belanda yang tergabung di Grup F. Mejbri bertekad membawa Tunisia membuat kejutan di turnamen akbar tersebut.

“Saya dan Tunisia tidak takut pada siapapun,” ujar Mejbri dengan nada tegas kepada The Straits Times jelang turnamen. Pernyataan ini dilontarkan meski Tunisia yang berperingkat 45 dunia akan memulai kampanyenya melawan Swedia yang berperingkat lebih tinggi pada 14 Juni di Estadio Monterrey, Meksiko.

Filosofi tak kenal takut Mejbri bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Ia mengaku hal itu tertanam sejak kecil di lingkungan kelas pekerja di Paris, tempat ia belajar aturan bertahan hidup sebelum terjun ke dunia sepak bola profesional. “Saya tumbuh di daerah di mana Anda tidak perlu takut pada siapapun. Untuk dihormati, Anda harus berani dan menjadi diri sendiri. Saya tumbuh seperti ini. Saya tahu kualitas saya,” jelasnya.

Permainan sepak bola jalanan yang keras dan kompetitif di bawah blok apartemen tempatnya tinggal menjadi fondasi utama. “Saya tumbuh bermain sepak bola di bawah blok perumahan saya, dan ketika Anda bermain setiap hari, melawan orang tua, anak muda, Anda harus dalam kondisi terbaik, dan jika Anda ingin terus bermain, Anda harus menjadi yang terbaik, jadi begitulah cara Anda dipaksa untuk berkembang,” kenangnya.

Lahir dari imigran Tunisia di Paris, Mejbri menghabiskan masa kecilnya di arrondissment ke-20, sebuah distrik yang terkenal dengan keragaman budayanya. Di sana, sepak bola menjadi bahasa universal yang menyatukan berbagai komunitas. Mejbri kerap bermain sepak bola hingga larut malam di bawah naungan blok apartemen yang dijuluki ‘La Banane’ (Si Pisang) karena bentuknya yang melengkung.

Bakatnya mulai terasah sejak usia enam tahun ketika bergabung dengan akademi Paris FC. Setelah tujuh tahun di sana, ia sempat berpindah ke Boulogne-Billancourt sebelum akhirnya direkrut oleh akademi klub Ligue 1, AS Monaco, pada tahun 2018. Setahun kemudian, Manchester United kepincut dan memboyongnya ke Old Trafford.

Di level internasional, Mejbri menjadi sosok krusial bagi Tunisia, terutama dalam peran nomor 10. Meski demikian, ia tidak ragu mengkritik manajemen sepak bola Tunisia pasca tersingkir di babak 16 besar Piala Afrika 2025. Ia menyerukan “perombakan total” karena merasa negaranya tertinggal dari negara lain, yang berujung pada pergantian pelatih.

Namun, fokus kini tertuju pada Piala Dunia 2026. Pertandingan pembuka melawan Swedia menjadi ujian pertama bagi Tunisia. Sayangnya, dalam laga tersebut, Tunisia harus mengakui keunggulan Swedia dengan skor telak 5-1. Yasin Ayari menjadi bintang lapangan dengan mencetak dua gol, sementara Alexander Isak, Viktor Gyokeres, dan Mattias Svanberg turut menyumbang gol untuk Swedia. Satu-satunya gol balasan Tunisia dicetak oleh Omar Rekik di penghujung babak pertama, memanfaatkan umpan silang indah dari Hannibal Mejbri.

Dalam pertandingan tersebut, hampir semua upaya serangan Tunisia mengalir melalui Mejbri. Ia sempat berhasil membongkar pertahanan Swedia dengan sebuah umpan terukur yang berhasil dikonversi menjadi gol oleh Rekik. Namun, pertahanan Tunisia yang rapuh di babak kedua akhirnya takluk oleh serangan bertubi-tubi timnas Swedia. Kesalahan Ellyes Skhiri di tepi kotak penalti berujung pada gol ketiga Swedia yang dicetak Viktor Gyokeres. Mattias Svanberg dan Yasin Ayari kemudian melengkapi kemenangan telak Swedia.

Meski harus menelan kekalahan pahit di laga pembuka, semangat juang Mejbri dan timnas Tunisia tidak boleh diremehkan. Pengalaman masa kecil yang membentuknya menjadi pribadi yang tak kenal takut akan menjadi modal berharga dalam menghadapi dua laga sisa grup yang diprediksi akan semakin berat. Tunisia bertekad untuk terus berjuang dan memberikan perlawanan terbaik, berharap dapat memberikan kejutan yang tidak terduga di panggung dunia.

About the Author

Kanya Virtudes Virtudes Avatar