Mossad Ungkap Direksi Baru: Roman Gofman, Penjaga Harapan Netanyahu untuk Menggulingkan Rezim Iran

Back to Bali – 15 April 2026 | Jerusalem – Pemerintahan Benjamin Netanyahu kini menatap masa depan keamanan nasional dengan menugaskan Roman Gofman sebagai Direktur..

3 minutes

Read Time

Mossad Ungkap Direksi Baru: Roman Gofman, Penjaga Harapan Netanyahu untuk Menggulingkan Rezim Iran

Back to Bali – 15 April 2026 | Jerusalem – Pemerintahan Benjamin Netanyahu kini menatap masa depan keamanan nasional dengan menugaskan Roman Gofman sebagai Direktur Mossad yang baru. Penunjukan ini terjadi di tengah spekulasi internasional mengenai kemampuan Israel untuk menggulingkan rezim Iran, sebuah ambisi yang sejak lama menjadi bagian penting dari kebijakan luar negeri Netanyahu.

Pengangkatan Roman Gofman dan Latar Belakangnya

Roman Gofman, yang sebelumnya dikenal sebagai tangan kanan Netanyahu dalam bidang intelijen, resmi dijadwalkan mengambil alih kepemimpinan Mossad pada bulan Juni mendatang untuk masa jabatan lima tahun. Gofman menggantikan David Barnea, yang juga memegang keyakinan serupa mengenai potensi serangan militer besar-besaran terhadap Iran.

Meski tidak memiliki rekam jejak panjang dalam dunia intelijen, Gofman dipilih karena loyalitasnya kepada Netanyahu dan pandangannya yang optimis terhadap kemampuan Israel untuk memicu perubahan rezim di Tehran. Pada konferensi pers, seorang pejabat tinggi keamanan Israel menyatakan, “Mossad percaya bahwa perubahan rezim adalah hasil yang mungkin terjadi dan mereka dapat mewujudkannya,” mengindikasikan dukungan penuh terhadap strategi baru ini.

Kegagalan Prediksi dan Realitas di Lapangan

Namun, prediksi tersebut tidak berbanding lurus dengan realitas di medan perang. Sejak serangan pertama yang menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, struktur pemerintahan Iran tetap bertahan kuat. Lebih dari 40 hari pertempuran intensif, tidak muncul tanda-tanda kejatuhan pemerintahan di Tehran.

Militer Israel (IDF) secara terbuka mengkritik janji-janji Mossad yang dianggap terlalu optimis. Seorang sumber dari pihak keamanan internal menegaskan, “Mossad membuat serangkaian janji yang tidak ditepati,” menyoroti perbedaan pendekatan antara intelijen dan militer. IDF lebih memilih strategi pelemahan sistematis daripada harapan revolusi instan.

Strategi Netanyahu: Politik dan Militer dalam Satu Panggung

Strategi yang diajukan kepada Netanyahu melibatkan serangkaian operasi intelijen masif, termasuk upaya membunuh tokoh kunci di Iran untuk memicu pemberontakan rakyat. Rencana ini, yang dipelopori Barnea sebelumnya, melibatkan kolaborasi dengan Amerika Serikat pada akhir Februari lalu.

Meski demikian, analisis dari media internasional menunjukkan bahwa Netanyahu menghadapi tantangan politik domestik yang signifikan. Pada saat yang sama, Israel harus menyeimbangkan hubungannya dengan sekutu tradisional seperti Turki, di mana Presiden Erdogan dan Netanyahu tengah terlibat perseteruan yang memanas, serta menanggapi tekanan dari Amerika Serikat yang berada di tengah-tengah konflik kepentingan antara Israel dan Turki.

Dampak Regional: Keterkaitan dengan Pemimpin Eropa

Keputusan Israel untuk memperkuat kepemimpinan Mossad juga memengaruhi dinamika politik Eropa. Kegagalan Viktor Orbán di pemilihan akhir-akhir ini menjadi pukulan tambahan bagi Netanyahu, yang selama ini mengandalkan dukungan pemimpin kanan Eropa untuk menguatkan posisinya di panggung internasional. Dengan berkurangnya dukungan tersebut, Netanyahu harus mencari alternatif strategi diplomatik untuk mempertahankan aliansi strategisnya.

Reaksi Internasional dan Prospek Kedepan

Berbagai pengamat menilai bahwa keberhasilan atau kegagalan Mossad di bawah Gofman akan menjadi indikator utama kelangsungan kebijakan luar negeri Israel di era pasca‑Perang. Sementara Amerika Serikat tetap menjadi mitra utama, tekanan dari komunitas internasional yang menolak intervensi militer di Iran semakin menguat.

Secara keseluruhan, penunjukan Roman Gofman menandai titik balik dalam upaya Netanyahu untuk mengukir kemenangan politik melalui kebijakan keamanan yang agresif. Namun, perbedaan pandangan antara Mossad dan IDF, serta tantangan politik domestik dan internasional, menambah kompleksitas situasi.

Ke depan, dunia akan menunggu apakah strategi baru ini mampu mengubah dinamika kekuasaan di Timur Tengah atau justru memperpanjang konflik yang telah melibatkan banyak pihak. Apa pun hasilnya, keputusan ini menegaskan bahwa keamanan dan politik di Israel kini tidak dapat dipisahkan, dan setiap langkah akan mengundang sorotan tajam dari seluruh dunia.

About the Author

Zillah Willabella Avatar