Pemimpin Pintar? Tokoh Adat Baduy Serukan Berantas Korupsi dan Lindungi Alam

Back to Bali – 25 April 2026 | Setiap tahun, tradisi Seba Baduy menjadi panggung penting bagi masyarakat Baduy untuk menyampaikan aspirasi langsung kepada pemerintah..

3 minutes

Read Time

Pemimpin Pintar? Tokoh Adat Baduy Serukan Berantas Korupsi dan Lindungi Alam

Back to Bali – 25 April 2026 | Setiap tahun, tradisi Seba Baduy menjadi panggung penting bagi masyarakat Baduy untuk menyampaikan aspirasi langsung kepada pemerintah daerah. Pada edisi tahun 2026, pertemuan yang digelar di Pendopo Bupati Lebak dan dilanjutkan di Pendopo Gubernur Banten tidak hanya menyoroti kepedulian lingkungan, tetapi juga menegaskan tuntutan agar para pemimpin negara menjadi lebih pintar dalam memberantas korupsi.

Suara Baduy yang Tegas

Acara dimulai dengan pertemuan warga Baduy bersama Bupati Lebak, Hasbi Asyidiki Jayabaya, serta sejumlah pejabat terkait. Di tengah suasana yang sarat nilai budaya, Jaro Tangungan 12, Saidi Putra, menyampaikan pesan kuat mengenai pentingnya melindungi alam. Ia menekankan bahwa “penetapan penguatan pelestarian khususnya kepada yang cinta kepada alam, kami menitipkan mudah‑mudah‑mudahnya yang ada di muka bumi mohon dipikirkan, di pelosok manapun yang disebut larangan, di darat dan di air.”

Saidi menyoroti dampak limbah industri dan rumah tangga yang mencemari aliran sungai, mengingatkan bahwa air merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk. “Air sumber kehidupan, semua membutuhkan air bersih. Limbah‑limbah jangan dibuang ke sungai,” ujarnya.

Pesan Pintar dalam Bentuk Pantun

Tak hanya menyoroti masalah lingkungan, Saidi juga menyisipkan pesan politik melalui sebuah pantun tradisional: “Ke Malingping lewat Cikeper, ke Rangkas beli roti. Jadi pemimpin harus pintar, harus bisa berantas korupsi.” Pantun tersebut menjadi simbol harapan Baduy agar kepemimpinan Indonesia tidak hanya cerdas secara administratif, tetapi juga berintegritas tinggi.

Penekanan pada kata “pintar” ini menarik karena sejalan dengan beberapa inisiatif pemerintah yang menggunakan istilah yang sama. Di sektor pendidikan, Kementerian Agama meluncurkan program “Pelatihan Pintar” 2026, yang dirancang berbasis kurikulum cinta. Meskipun rincian lengkap belum dapat diakses publik, program tersebut disebutkan sebagai upaya meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan melalui modul‑modul interaktif yang menekankan nilai moral dan keilmuan.

Implikasi Politik dan Lingkungan

Penggabungan dua isu – pemberantasan korupsi dan pelestarian lingkungan – dalam satu pesan Baduy menandakan bahwa masyarakat adat semakin menyadari keterkaitan keduanya. Korupsi yang merajalela dapat menghambat alokasi dana untuk program konservasi, sementara kerusakan lingkungan dapat memperburuk kondisi sosial‑ekonomi yang pada gilirannya memicu praktik korupsi.

Bupati Lebak, Hasbi Jayabaya, menanggapi hal tersebut dengan menekankan bahwa Seba Baduy bukan sekadar ritual tahunan, melainkan forum strategis bagi pemerintah untuk mendengarkan aspirasi rakyat. “Melalui tradisi Seba Baduy saya bersama ketua panitia kepala dinas pariwisata memahami bahwa Seba Baduy bukan hanya sekedar seremoni tapi mengajarkan kepada kita betapa pentingnya menjaga alam,” ujarnya. Ia menambahkan, “Pesan yang disampaikan oleh Abah Saidi sebagai perwakilan ataupun ketua adat menyampaikan Gunung jangan dilebur, Lebak jangan dirusak. Artinya kita sama-sama menjaga lingkungan hidup.”

Tuntutan Konkret

  • Penghentian pembuangan limbah industri dan rumah tangga ke sungai.
  • Peningkatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap praktik korupsi di level daerah.
  • Implementasi program pendidikan “Pintar” yang menekankan integritas dan nilai moral.
  • Pengembangan mekanisme partisipatif antara pemerintah dan masyarakat adat dalam perencanaan kebijakan lingkungan.

Dengan menekankan pentingnya kepemimpinan yang pintar, masyarakat Baduy menegaskan harapan mereka bahwa Indonesia dapat menapaki jalur pembangunan yang bersih, transparan, dan berkelanjutan. Pesan-pesan tersebut tidak hanya menjadi catatan pada hari pertemuan, melainkan panggilan aksi bagi seluruh pemangku kepentingan.

Jika aspirasi Baduy berhasil diakomodasi, tidak mengherankan jika inisiatif serupa akan muncul di wilayah lain, menjadikan tradisi adat sebagai katalisator reformasi politik dan lingkungan di seluruh nusantara.

About the Author

Kanya Virtudes Virtudes Avatar