Back to Bali – 28 April 2026 | Sabastian Sawe, pelari asal Kenya berusia 31 tahun, mencatat sejarah baru pada Minggu lalu dengan menaklukkan London Marathon dalam waktu 1 jam 59 menit 30 detik, menjadikannya salah satu dari sedikit pelari yang menembus ambang batas dua jam pada kompetisi resmi. Prestasi ini tidak hanya menorehkan rekor baru pada lintasan klasik London, tetapi juga menyoroti peran penting teknologi sepatu “super shoe” dalam meningkatkan performa atletik.
Rekor Sub‑2 Jam yang Menjadi Sorotan Global
Sawe menyalip rekor sebelumnya yang dipegang oleh Kelvin Kiptum (2:01:25) dengan margin hampir dua menit. Di sampingnya, pelari Ethiopia Yomif Kejelcha menempati posisi kedua dengan catatan 1:59:40, menjadikannya hanya atlet kedua di dunia yang menyelesaikan maraton dalam waktu kurang dari dua jam pada kompetisi terbuka. Pada kategori putri, Tigist Assefa dari Ethiopia juga memperbaharui rekor dunia dengan waktu 2:15:41, menambah deretan prestasi luar biasa pada hari yang sama.
Sepatu yang Memainkan Peran Kunci: Adidas Adizero Adios Pro Evo 3
Semua tiga pelari yang menorehkan rekor tersebut mengenakan model terbaru dari Adidas, yaitu Adizero Adios Pro Evo 3. Sepatu ini diluncurkan pada 25 April, hanya dua hari sebelum pelari-pelari elit menurunkan rekor di London. Evo 3 merupakan iterasi ketiga dari rangkaian Adios Pro, dan dirancang khusus bersama Sawe, Kejelcha, serta Assefa selama tiga tahun terakhir.
Beratnya hanya 99 gram, menjadikannya sepatu “super shoe” pertama yang berhasil menembus batas seratus gram. Untuk memberi perspektif, berat tersebut lebih ringan daripada sebuah apel ukuran sedang, sebuah pisang, atau bahkan sebatang sabun. Teknologi yang diusung tidak lagi mengandalkan plat karbon tradisional; melainkan sebuah lapisan karbon yang membungkus seluruh midsole, meningkatkan ekonomi lari sekaligus menurunkan berat keseluruhan.
- Berat: 99 gram
- Teknologi: Carbon wrap di midsole, bukan plat
- Tujuan: Memaksimalkan efisiensi langkah dan mengurangi energi yang terbuang
- Harga ritel (perkiraan): £450 (sekitar Rp 9,5 juta)
Sawe sendiri menyatakan kepuasannya terhadap sepatu tersebut, menekankan bahwa ia merasa sepatu ini “sangat ringan dan stabil”, serta merupakan yang terbaik yang pernah ia pakai dalam kariernya. Patrick Nava, Wakil Presiden Running Adidas, menambahkan bahwa proses desain melibatkan pengukuran hingga ke skala nanogram, menegaskan betapa detail mikro dapat memengaruhi performa pada level elit.
Dampak pada Persaingan Sepatu Lari: Adidas vs Nike
Kemenangan Sawe menandai titik balik signifikan dalam persaingan antara Adidas dan Nike di pasar sepatu lari premium. Nike sebelumnya memegang dominasi pasar berkat seri Alphafly, yang menjadi pilihan Eliud Kipchoge pada upaya sub‑2 jam tahun 2019 serta Kelvin Kiptum pada rekor dunia 2023 di Chicago. Namun, keberhasilan Adidas dalam menciptakan sepatu yang lebih ringan dan tetap memberikan stabilitas tinggi menimbulkan pertanyaan baru mengenai masa depan dominasi Nike.
Meski demikian, harga tinggi Evo 3 menjadi hambatan bagi pelari amatir yang ingin merasakan teknologi tersebut. Adidas mengakui bahwa ketersediaan awal terbatas, namun mereka berencana meluncurkan produksi massal pada akhir tahun dengan harga yang tetap premium.
Relevansi Rekor dan Teknologi dalam Olahraga Modern
Prestasi Sawe, Kejelcha, dan Assefa menegaskan bahwa dalam era “marginal gains”, setiap gram dan setiap desain mikroskopis dapat menjadi pembeda antara kemenangan dan kegagalan. Penggunaan carbon wrap yang mengelilingi midsole menandai evolusi baru dalam desain sepatu lari, menggantikan konsep tradisional yang berfokus pada plat karbon tunggal.
Selain itu, pencapaian ini menambah narasi penting bahwa pencapaian sub‑2 jam kini bukan lagi sekadar eksperimentasi di kondisi terkendali, melainkan dapat tercapai pada kompetisi resmi dengan persyaratan standar. Hal ini membuka peluang bagi atlet lain untuk menargetkan pencapaian serupa, asalkan didukung oleh inovasi teknologi dan strategi pelatihan yang tepat.
Dengan catatan waktu yang menakjubkan serta dukungan sepatu berteknologi tinggi, Sabastian Sawe tidak hanya menorehkan sejarah pribadi, tetapi juga memperkuat posisi Adidas dalam “race to fit feet for record feats”. Persaingan antara dua raksasa olahraga ini diperkirakan akan semakin sengit, mengarah pada inovasi yang lebih radikal dan, tentu saja, rekor‑rekor baru yang menantang batas kemampuan manusia.
Keberhasilan ini juga menginspirasi komunitas lari global, menegaskan bahwa kombinasi antara dedikasi atlet, riset ilmiah, dan investasi dalam material dapat menghasilkan prestasi yang sebelumnya dianggap mustahil.













