Xi Jinping Dorong Pembacaan Buku “Benar” Sambil Siapkan Senjata Ekonomi di Era Perang Dagang Global

Back to Bali – 27 April 2026 | Presiden Republik Rakyat Tiongkok, Xi Jinping, kembali menegaskan agenda kebudayaan sekaligus strategi ekonomi dalam satu serangkaian pidato..

3 minutes

Read Time

Xi Jinping Dorong Pembacaan Buku “Benar” Sambil Siapkan Senjata Ekonomi di Era Perang Dagang Global

Back to Bali – 27 April 2026 | Presiden Republik Rakyat Tiongkok, Xi Jinping, kembali menegaskan agenda kebudayaan sekaligus strategi ekonomi dalam satu serangkaian pidato yang disiarkan secara nasional. Ia menekankan pentingnya warga Tiongkok membaca buku‑buku yang “sesuai dengan nilai-nilai sosialisme” sebagai upaya memperkuat kesadaran nasional dan menghindari pengaruh luar yang dianggap tidak konstruktif. Kebijakan ini tidak terlepas dari konteks geopolitik yang semakin menegangkan, terutama setelah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump melancarkan apa yang disebutnya sebagai perang ekonomi global.

Agenda Literasi Nasional

Dalam sebuah pertemuan dengan para akademisi dan penulis, Xi menegaskan bahwa “membaca buku yang tepat adalah senjata budaya paling ampuh”. Ia menginstruksikan kementerian pendidikan dan budaya untuk memperbanyak distribusi karya‑karya klasik Marxisme, literatur revolusioner, serta buku‑buku ilmiah yang mendukung inovasi teknologi. Program ini juga mencakup kampanye digital di platform‑platform media sosial resmi, dengan tujuan menjangkau generasi milenial yang lebih akrab dengan konten daring.

Strategi Ekonomi di Tengah Perang Dagang

Sementara itu, di arena ekonomi, China telah memperkuat “toolkit” ekonominya pasca penandatanganan gencatan perdagangan sementara dengan Amerika Serikat. Kebijakan tersebut meliputi penyesuaian tarif, subsidi untuk industri strategis, serta penggunaan mata uang digital yang sedang dikembangkan untuk memperluas pengaruh dalam transaksi lintas batas. Langkah‑langkah ini menunjukkan kesiapan Beijing untuk menanggapi setiap eskalasi kebijakan proteksionis dari Washington.

Ketika Donald Trump mengunjungi Tiongkok pada akhir 2023, ia tampak terjebak dalam dinamika perang ekonomi yang kompleks. Xi, yang telah mempersiapkan agenda kunjungan sejak lama, menempatkan diri sebagai mediator sekaligus penegak kepentingan nasional. Selama pertemuan, kedua belah pihak menandatangani kesepakatan gencatan senjata perdagangan yang mencakup pengurangan tarif pada beberapa barang pertanian AS, sementara China menegaskan komitmen untuk melindungi perusahaan domestik dari praktik dumping.

Ekspansi Alat Ekonomi China

Di balik kesepakatan tersebut, Tiongkok memperkuat sejumlah instrumen ekonomi yang jarang dibicarakan publik. Salah satunya adalah penggunaan kebijakan “pembayaran balik” (reverse repos) untuk mengendalikan likuiditas pasar domestik, yang dapat mempengaruhi nilai tukar yuan. Selain itu, pemerintah memperluas dana investasi strategis yang menargetkan sektor teknologi tinggi, energi terbarukan, dan infrastruktur digital. Kebijakan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada teknologi barat, tetapi juga meningkatkan daya saing produk ekspor China di pasar global.

Penggunaan data besar dan kecerdasan buatan dalam analisis pasar menjadi bagian integral dari strategi baru ini. Badan‑badan pengatur mengumpulkan informasi real‑time tentang aliran modal, sehingga dapat menyesuaikan kebijakan moneter secara lebih responsif. Langkah ini dianggap sebagai bentuk “senjata ekonomi” yang siap dikerahkan apabila ketegangan perdagangan kembali meningkat.

Dampak bagi Indonesia dan Kawasan Asia‑Pasifik

Bagi Indonesia, kebijakan Xi memiliki implikasi yang signifikan. Peningkatan permintaan barang manufaktur China dapat membuka peluang bagi pemasok bahan baku Indonesia, namun di sisi lain, persaingan dalam sektor teknologi dan energi terbarukan semakin ketat. Pemerintah Indonesia diperkirakan akan menyesuaikan strategi perdagangan luar negeri, termasuk memperkuat hubungan dengan negara‑negara ASEAN serta mengevaluasi perjanjian investasi bilateral dengan Beijing.

Selain itu, dorongan literasi yang diarahkan kepada “buku yang benar” juga dapat mempengaruhi persepsi publik di negara‑negara berkembang yang menjalin kerja sama pendidikan dengan Tiongkok. Program beasiswa dan pertukaran pelajar yang dikelola oleh lembaga‑lembaga kebudayaan China diprediksi akan menambah jumlah mahasiswa asing yang mengkonsumsi kurikulum yang selaras dengan narasi Beijing.

Kesimpulan

Gabungan antara agenda kebudayaan yang menekankan pembacaan buku yang sesuai dengan ideologi dan pengembangan toolkit ekonomi yang canggih menegaskan bahwa Xi Jinping menyiapkan China untuk menghadapi tantangan geopolitik sekaligus memanfaatkan peluang perdagangan. Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada hubungan China‑AS, tetapi juga menimbulkan efek domino bagi negara‑negara di kawasan Asia‑Pasifik, termasuk Indonesia. Dengan mengintegrasikan kekuatan budaya dan ekonomi, Xi berupaya memastikan bahwa Tiongkok tetap berada pada posisi strategis dalam peta politik dan ekonomi dunia.

About the Author

Kanya Virtudes Virtudes Avatar