Keluarga Jackson Menggempur Media: Taj Jackson Sambut Rilis Biopik “Michael” dengan Sindiran Pedas

Back to Bali – 23 April 2026 | Jelang peluncuran film biopik resmi tentang Michael Jackson yang berjudul “Michael” pada hari Jumat mendatang, ketegangan antara..

Keluarga Jackson Menggempur Media: Taj Jackson Sambut Rilis Biopik "Michael" dengan Sindiran Pedas

Back to Bali – 23 April 2026 | Jelang peluncuran film biopik resmi tentang Michael Jackson yang berjudul “Michael” pada hari Jumat mendatang, ketegangan antara keluarga sang raja pop dan pers semakin memuncak. Taj Jackson, keponakan Michael sekaligus putra Tito Jackson dari The Jackson 5, melontarkan serangkaian cuitan tajam di platform Twitter/X, menantang media yang selama ini dianggapnya mengendalikan narasi tentang kehidupan sang legenda.

Dalam unggahan yang viral, Taj menulis, “Media tidak lagi dapat mengontrol narasi siapa sebenarnya Michael Jackson. Publik akan menonton film ini… mereka yang akan memutuskan sendiri,” kemudian menutup dengan nada menggoda, “Dan kalian tidak akan tahan dengan itu.” Ia menambahkan, “Tidak sabar menunggu sampai beberapa kritikus harus menelan debu,” sambil mengakui niatnya untuk bersikap “petty” dalam menanggapi kritik yang mungkin muncul.

Biopik “Michael”: Dari Konsep hingga Kontroversi Produksi

Film ini disutradarai oleh Antoine Fuqua, seorang sutradara yang dikenal lewat aksi‑aksi intens dalam film‑film Hollywood. Produksi film ini juga melibatkan warisan Michael Jackson secara langsung, dengan estate sang artis berperan sebagai produser eksekutif. Cerita film menelusuri perjalanan Michael sejak usianya 10 tahun sebagai anggota The Jackson 5 hingga puncak popularitasnya pada era 1988, ketika ia berusia 30 tahun dan sedang menggelar tur megah untuk album “Bad”.

Awalnya, skenario direncanakan untuk melanjutkan kisah hingga menyentuh tuduhan pelecehan seksual pada tahun 1993 dan proses penyelidikan selanjutnya. Namun, tim hukum estate menemukan bahwa sebuah penyelesaian hukum dengan salah satu penggugat melarang penyebutan atau penggambaran peristiwa tersebut dalam film. Akibatnya, tim produksi harus menulis babak ketiga baru, melakukan reshoot selama 22 hari dengan biaya tambahan antara US$15 juta hingga US$20 juta.

Ekspektasi Box‑Office dan Respons Kritik Awal

Berbagai analis industri memperkirakan film ini akan membuka box‑office domestik Amerika dengan pendapatan antara US$65 juta hingga US$70 juta pada pekan pertama. Target total pendapatan global diproyeksikan mencapai US$700 juta, menempatkannya di antara film‑film blockbuster musik yang jarang terjadi. Namun, respons kritis masih beragam. Saat ini, Rotten Tomatoes menampilkan skor persetujuan sebesar 37 % berdasarkan ulasan kritikus, mengindikasikan potensi tantangan dalam penerimaan kritis meski popularitas nama Michael Jackson tetap tinggi.

Reaksi Keluarga dan Penggemar

Selain Taj, anggota keluarga lain juga mengungkapkan pendapatnya tentang film ini. LaToya Jackson menyatakan bahwa saudara perempuannya, Janet Jackson, menolak untuk digambarkan dalam film, namun ia berharap semua anggota keluarga dapat terlibat dalam produksi. Sementara itu, beberapa penggemar mengungkapkan antusiasme tinggi, menantikan bagaimana film ini akan menampilkan momen‑momen ikonik seperti penampilan “Thriller”, penggunaan sarung tangan kristal putih yang terkenal, serta dinamika keluarga yang kompleks.

Berita lain yang beredar terkait film ini mencakup rencana lelang sarung tangan putih ikonik Michael Jackson, yang diperkirakan akan menarik minat kolektor barang memorabilia musik dunia. Meskipun detail lelang belum tersedia, kehadiran barang tersebut dalam konteks rilis film menambah ekspektasi publik terhadap nostalgia dan penghormatan terhadap warisan sang artis.

Kontroversi Media dan Kebebasan Narasi

Taj Jackson menegaskan kembali bahwa kontrol narasi tidak lagi berada di tangan media, melainkan di tangan penonton. “Mereka tidak bisa mengendalikan apa yang orang lihat dan rasakan setelah menonton film ini,” ujarnya. Pernyataan ini menyingkap ketegangan lama antara keluarga Jackson yang merasa sering disalahpahami oleh pers, dan wartawan yang menilai mereka memiliki tanggung jawab mengkritisi setiap aspek kehidupan publik seorang idola.

Keberanian Taj dalam mengkritik media sekaligus menantang para kritikus dapat dilihat sebagai upaya melindungi warisan ayahnya sekaligus memperingatkan publik untuk menilai film dengan mata terbuka. Jika film ini berhasil meraih angka penonton tinggi, hal itu dapat memperkuat posisi keluarga dalam mengarahkan persepsi publik tentang Michael Jackson.

Dengan segala dinamika yang terjadi, film “Michael” tidak hanya menjadi sebuah karya sinematik, melainkan juga arena pertempuran naratif antara keluarga, media, dan penonton. Bagaimana hasilnya nanti, baik di box‑office maupun dalam benak penonton, akan menjadi catatan penting dalam sejarah biopik musik modern.

About the Author

Marshauwn Marshauwn Agatho Avatar