Back to Bali – 29 April 2026 | London, 29 April 2026 – Kunjungan kenegaraan Raja Charles III ke Amerika Serikat mencapai puncaknya pada Selasa (28/4/2026) ketika sang raja menyampaikan pidato pertama di hadapan Kongres Amerika Serikat, sekaligus mengadakan pertemuan pribadi dengan mantan Presiden Donald Trump. Kedua pertemuan ini menandai babak baru dalam hubungan “special relationship” antara Inggris dan Amerika Serikat di tengah gejolak geopolitik global.
Pertemuan Pribadi dengan Donald Trump
Raja Charles tiba di Washington, D.C., pada pagi hari dan langsung menuju Gedung Putih untuk bertemu dengan Donald Trump, mantan presiden yang kini menjadi tokoh berpengaruh dalam Partai Republik. Menurut saksi mata, perbincangan berlangsung dalam suasana santai namun serius, membahas isu‑isu strategis seperti keamanan energi, perdagangan pasca‑Brexit, dan langkah‑langkah bersama dalam menanggulangi ancaman siber.
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap “sekutu paling berharga” bagi Inggris, sementara Charles menekankan perlunya koordinasi yang lebih kuat dalam rangka menghadapi tantangan “masa ketidakpastian besar” yang melanda dunia. Pertemuan tersebut tidak dihadiri media, namun bocoran dari sumber dalam pemerintahan menunjukkan bahwa keduanya sepakat untuk memperkuat kerja sama intelijen serta mempercepat dialog bilateral mengenai krisis iklim.
Pidato Bersejarah di Kongres Amerika Serikat
Setelah pertemuan dengan Trump, Raja Charles melangkah ke Capitol Hill, menjadi raja Inggris kedua yang pernah berbicara di hadapan Kongres, menyusul Ratu Elizabeth II yang pernah menyampaikan sambutan pada 1991. Pidatonya menyoroti tiga pilar utama: persatuan NATO, dukungan terhadap Ukraina, dan kepedulian terhadap korban kejahatan sosial, termasuk referensi halus kepada kasus Jeffrey Epstein.
“Kekuatan kita terletak pada masyarakat yang dinamis, beragam, dan bebas, termasuk dalam mendukung para korban dari berbagai masalah yang secara tragis masih ada hingga hari ini,” ujar Charles. Pernyataan ini ditafsirkan sebagai pengakuan atas penderitaan korban Epstein, sebuah isu yang sempat menekan hubungan keluarga kerajaan dengan Amerika Serikat karena keterkaitan Pangeran Andrew.
Pidato tersebut memperoleh tepuk tangan meriah setiap kali Charles menyebut pentingnya solidaritas NATO dan komitmen Inggris untuk terus membantu Ukraina dalam melawan agresi Rusia. Ia menekankan bahwa aliansi trans‑Atlantik harus tetap kuat, terutama dalam menghadapi ancaman militer dan non‑militer yang semakin kompleks.
Agenda Lain Selama Kunjungan
- Resepsi megah di Kedutaan Besar Inggris di Washington, dihadiri ratusan diplomat, politisi, dan tokoh masyarakat.
- Ratu Camilla bertemu dengan aktivis hak perempuan dan korban kekerasan dalam rumah tangga, menegaskan dukungan kerajaan terhadap isu‑isu sosial di kedua negara.
- Tur singkat ke Museum Nasional Amerika, sebagai simbolik pertukaran budaya antara dua negara sahabat.
Reaksi Publik dan Politik
Di Amerika Serikat, respons publik terbagi. Sebagian kalangan konservatif memuji keberanian Charles untuk menyoroti isu‑isu keamanan dan aliansi militer, sementara kelompok progresif menyoroti referensi tentang Epstein sebagai langkah berani dalam mengakui luka lama. Di Inggris, para analis politik menilai kunjungan ini sebagai upaya memperkuat posisi monarki di panggung internasional serta memperbaiki citra kerajaan yang sempat ternoda oleh skandal keluarga.
Para legislator di Kongres, baik Demokrat maupun Republik, memberikan sambutan positif, menandai momen bersejarah yang jarang terjadi di antara kepala negara monarki dengan parlemen demokratis. Namun, beberapa anggota Kongres menuntut transparansi lebih lanjut mengenai hubungan keluarga kerajaan dengan tokoh‑tokoh kontroversial di Amerika.
Secara keseluruhan, kunjungan Raja Charles III ke Washington menandai titik balik dalam diplomasi Inggris‑Amerika. Pertemuan pribadi dengan Trump menegaskan kembali komitmen bilateral, sementara pidato di Kongres menyoroti peran strategis Inggris dalam aliansi NATO serta keseriusan kerajaan dalam mengakui isu‑isu sosial yang sensitif. Dengan langkah-langkah ini, harapan besar terletak pada kemampuan kedua negara untuk menavigasi tantangan global dengan solidaritas yang lebih kuat.













