Bahlil Lahadalia Peringatkan Potensi Kenaikan Harga Pertamax Jika Harga Minyak Dunia Tetap Tinggi

Back to Bali – 21 April 2026 | Jakarta, 20 April 2026 – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga..

3 minutes

Read Time

Bahlil Lahadalia Peringatkan Potensi Kenaikan Harga Pertamax Jika Harga Minyak Dunia Tetap Tinggi

Back to Bali – 21 April 2026 | Jakarta, 20 April 2026 – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax (RON 92) dapat mengalami penyesuaian ke arah kenaikan bila kondisi pasar global terus menekan harga minyak mentah. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, sekaligus menanggapi dinamika geopolitik dan fluktuasi harga minyak dunia yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

Menurut Bahlil, pemerintah memiliki wewenang penuh untuk menjamin stabilitas harga BBM bersubsidi, namun regulasi yang mengatur harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, lebih dipengaruhi oleh harga Indonesia Crude Price (ICP) dan harga minyak dunia. “Kita lihat penyesuaian, kalau harganya (pasar) turun, ya nggak naik. Tapi kalau harganya begini terus, mungkin pasti ada penyesuaian untuk naik,” ujarnya sambil menegaskan bahwa kebijakan penetapan harga subsidi tetap terbatas pada BBM bersubsidi.

Faktor Penyebab Potensi Kenaikan

Berbagai faktor menjadi pemicu utama kemungkinan kenaikan harga Pertamax. Pertama, perang yang berlangsung di Iran dan wilayah sekitarnya menambah ketidakpastian pasokan minyak dunia, mendorong harga minyak mentah naik secara signifikan. Kedua, rata‑rata harga ICP dunia yang masih berada di atas US$70 per barel, meski di bawah ambang US$100 yang menjadi batas kebijakan subsidi, menandakan tekanan biaya produksi yang cukup besar bagi produsen dalam negeri.

Bahlil menambahkan, selama rata‑rata harga ICP dunia tetap di bawah US$100 per barel, harga BBM bersubsidi tidak akan naik. Namun, bila harga ICP terus menguat dan melampaui ambang tersebut, pemerintah dapat mempertimbangkan penyesuaian harga nonsubsidi, termasuk Pertamax, untuk menyesuaikan biaya produksi dan distribusi.

Data Harga Terkini

Jenis BBM Harga (Rp/Liter) Keterangan
Pertamax (RON 92) 12.300 Harga subsidi tetap dipertahankan
Pertamax Green 12.900 Harga subsidi tetap dipertahankan
Pertamax Turbo (DKI Jakarta) 19.400 Naik dari 13.100 per 1 April 2026
Dexlite 23.600 Naik dari 14.200 per 1 April 2026
Pertamina Dex 23.900 Naik dari 14.500 per 1 April 2026

Data tersebut mencerminkan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi telah dimulai sejak awal April 2026, terutama pada varian premium yang paling sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dunia.

Reaksi Pasar dan Konsumen

Pengamat ekonomi menilai bahwa kenaikan harga Pertamax Turbo dan varian premium lainnya dapat memicu tekanan inflasi pada sektor transportasi dan logistik. “Jika harga bahan bakar naik, biaya operasional perusahaan transportasi juga akan meningkat, yang pada gilirannya dapat menambah beban harga barang bagi konsumen akhir,” ujar salah satu analis dari lembaga riset ekonomi terkemuka.

Di sisi lain, konsumen di tingkat ritel merasakan dampak langsung pada pengisian bahan bakar di SPBU. Sebuah survei singkat yang dilakukan di beberapa kota besar menunjukkan bahwa 68 % responden menganggap kenaikan harga BBM nonsubsidi sebagai beban tambahan dalam pengeluaran bulanan mereka.

Langkah Pemerintah Kedepan

Menanggapi situasi tersebut, Kementerian ESDM menyatakan akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia dan menyesuaikan kebijakan bila diperlukan. Bahlil menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas harga BBM subsidi selama harga ICP dunia berada di bawah US$100 per barel, sekaligus menyiapkan mekanisme penyesuaian harga nonsubsidi yang transparan dan terukur.

Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan penyesuaian harga bukanlah keputusan semata‑mata, melainkan respons terhadap kondisi pasar global yang dinamis. “Kami tidak ingin menimbulkan kepanikan, namun kami harus siap menghadapi realitas pasar yang berubah,” tuturnya.

Dengan latar belakang geopolitik yang masih bergejolak dan harga minyak dunia yang belum menunjukkan tren penurunan yang konsisten, kemungkinan kenaikan harga Pertamax tetap menjadi perhatian utama bagi pemerintah, pelaku industri, dan konsumen di seluruh Indonesia.

About the Author

Kanya Virtudes Virtudes Avatar