Back to Bali – 05 Mei 2026 | Jakarta, 2 Mei 2026 – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menyatakan keprihatinannya setelah tokoh senior politik dan akademisi Amien Rais menjadi sasaran hoaks yang beredar luas di media sosial. Hoaks tersebut mengaitkan nama Amien Rais dengan video yang menampilkan lagu berjudul “Aku Bukan Teddy”, yang kemudian disalahartikan sebagai pernyataan autentik terhadap Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Asal‑Usul Konten yang Menyulut Polemik
Video yang menjadi sumber kontroversi itu muncul di platform‑platform berbagi video dan di‑share secara masif pada awal pekan ini. Pada klip tersebut terdengar sebuah lagu dengan lirik “Aku Bukan Teddy”, sementara gambar yang dipadukan di latar berupa kolase foto-foto tokoh publik, termasuk sosok yang diperkirakan Titiek Soeharto. Namun, tidak ada bukti bahwa penyanyi dalam video itu adalah Ibu Titiek atau bahwa Amien Rais pernah mengomentari lagu tersebut.
Menurut Qodari, video tersebut merupakan hasil manipulasi digital yang menggabungkan elemen visual dan audio tanpa verifikasi faktual. “Dasar tudingan bahwa Pak Teddy adalah gay atau bahwa Amien Rais mengomentari hal itu hanyalah spekulasi yang tidak berlandaskan fakta,” ujar Qodari dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (2/5).
Peran Bakom dalam Menangkal Hoaks
Bakom, yang bertugas mengkoordinasikan komunikasi pemerintah, menegaskan pentingnya verifikasi sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi. Qodari menambahkan bahwa bahkan tokoh publik berpengalaman sekalipun dapat terjebak oleh konten yang tampak kredibel namun sebenarnya palsu.
“Jika saya melihat video Pak Amien Rais itu, yang saya prihatin adalah bahwa seorang akademisi terhormat menjadi korban hoaks. Ini menunjukkan betapa rentannya ruang digital terhadap manipulasi, terutama yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan,” jelasnya.
Teknologi AI dan Penyebaran Hoaks
Kasus ini menyoroti peran AI dalam menciptakan atau memperkuat konten palsu. Dengan kemampuan deepfake, suara, gambar, dan video dapat diubah sehingga sulit dibedakan dari yang asli. Qodari mencontohkan bahwa video “Aku Bukan Teddy” tampaknya memanfaatkan teknik penggabungan suara sintetis dan montase gambar yang di‑crop dari sumber yang tidak relevan.
Ia mengingatkan publik untuk selalu memeriksa sumber, mengandalkan lembaga verifikasi independen, dan tidak menyebarkan konten yang belum jelas kebenarannya. “Kita harus menjadi konsumen media yang cerdas. Jika ada keraguan, sebaiknya cek fakta dulu,” pungkasnya.
Reaksi Amien Rais dan Dampak Politik
Amien Rais sendiri belum memberikan pernyataan resmi mengenai video tersebut pada saat penulisan artikel ini. Namun, para pengamat politik menilai bahwa episode hoaks ini dapat menimbulkan gangguan pada agenda politiknya, mengingat posisi beliau yang masih aktif dalam diskusi kebijakan publik.
Di tengah pemilihan umum yang dijadwalkan pada akhir tahun, penyebaran informasi palsu dapat memengaruhi persepsi publik terhadap tokoh-tokoh senior. Oleh karena itu, peran institusi seperti Bakom menjadi krusial dalam menjaga integritas wacana politik.
Kasus “Aku Bukan Teddy” juga menegaskan pentingnya edukasi literasi digital bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama bagi mereka yang berusia lebih tua dan mungkin kurang familiar dengan teknologi manipulasi konten.
Dengan meningkatnya penggunaan AI dalam pembuatan konten, harapan Qodari dan tim Bakom adalah agar regulasi dan mekanisme penanggulangan hoaks dapat lebih cepat dan efektif, sehingga tidak lagi terjadi kasus serupa yang merugikan tokoh publik maupun publik secara umum.
Sejalan dengan itu, Bakom berkomitmen untuk meningkatkan koordinasi dengan platform digital, memperkuat tim verifikasi, dan meluncurkan kampanye edukasi literasi media yang menargetkan semua kalangan. Upaya ini diharapkan dapat menurunkan tingkat penyebaran hoaks dan melindungi reputasi tokoh‑tokoh publik Indonesia.













