Back to Bali – 06 Mei 2026 | Muara Angke, Jakarta – Harga solar yang terus menguat dalam beberapa minggu terakhir memaksa ratusan nelayan tradisional di Pelabuhan Muara Angke menahan diri untuk tidak berlayar. Kenaikan tarif bahan bakar ini menambah beban operasional yang sudah tipis, memaksa banyak keluarga nelayan mencari alternatif pendapatan atau menunda keberangkatan ke laut.
Dampak Lonjakan Harga Solar pada Operasional Nelayan
Menurut pengamatan lapangan, harga solar di stasiun pompa terdekat naik hampir 25 persen dibandingkan bulan lalu. Kenaikan ini berimbas langsung pada biaya bahan bakar per jam kapal, yang biasanya menghabiskan sekitar Rp 30.000 per liter. Bagi kapal kecil yang berdaya 10–15 GT, total pengeluaran bahan bakar per hari dapat melampaui Rp 600.000, jauh melebihi margin keuntungan yang biasanya hanya sebesar 10–15 persen dari penjualan hasil tangkapan.
Nelayan yang biasanya mengandalkan kapal motor berkapasitas kecil mengaku tidak mampu menutup biaya tambahan tersebut. “Kalau harga solar naik, kami harus memikirkan kembali apakah hasil tangkapan dapat menutupi biaya. Kadang-kadang, kami harus menunggu sampai harga ikan naik di pasar, tapi itu tidak selalu terjadi,” ujar Budi, ketua kelompok nelayan setempat.
Selain itu, penurunan frekuensi keberangkatan menyebabkan penurunan pasokan ikan segar di pasar tradisional sekitar wilayah Pantai Indah Kapuk dan Kelapa Gading. Pedagang pasar melaporkan penurunan volume penjualan sebesar 30 persen dalam tiga minggu terakhir, yang selanjutnya mempengaruhi harga jual ikan di pasar lokal.
- Kenaikan harga solar: +25% dalam sebulan terakhir.
- Biaya bahan bakar per kapal per hari: Rp 600.000 – Rp 800.000.
- Penurunan volume tangkapan: -40% dibandingkan bulan sebelumnya.
- Penurunan penjualan ikan di pasar tradisional: -30%.
Para nelayan juga mengeluhkan kurangnya kebijakan pemerintah yang responsif. Meskipun ada program subsidi bahan bakar, mekanisme distribusi dianggap lambat dan tidak merata. Banyak nelayan di Muara Angke yang belum menerima alokasi subsidi, sementara nelayan di daerah lain yang lebih terjangkau secara geografis sudah mendapat bantuan.
Upaya Mengatasi Krisis Bahan Bakar
Beberapa inisiatif lokal mulai muncul untuk mengurangi beban. Kelompok nelayan bersama LSM lingkungan mengusulkan penggunaan bahan bakar alternatif, seperti biodiesel yang diproduksi dari limbah kelapa sawit. Pilot project yang dijalankan di satu kapal nelayan menunjukkan potensi pengurangan biaya bahan bakar hingga 15 persen, sekaligus mengurangi emisi karbon.
Pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan menyiapkan program diskon khusus bagi kapal nelayan yang menggunakan bahan bakar bersubsidi. Namun, program tersebut masih dalam tahap perencanaan dan belum memiliki regulasi yang jelas.
Di sisi lain, para nelayan memperluas jaringan pasar dengan menjual ikan secara langsung ke konsumen melalui platform digital. Inisiatif ini memungkinkan mereka memperoleh margin keuntungan yang lebih tinggi tanpa perantara, sekaligus mengurangi ketergantungan pada transportasi berbahan bakar solar.
Dengan tekanan ekonomi yang terus meningkat, para nelayan menuntut dialog terbuka dengan pemerintah daerah dan pusat untuk meninjau kembali kebijakan subsidi bahan bakar serta mengoptimalkan distribusi bantuan. Mereka berharap kebijakan yang lebih adil dapat mengembalikan aktivitas perikanan ke jalurnya, sehingga pasokan ikan segar tetap terjaga bagi konsumen Jakarta.
Jika situasi harga solar tidak stabil, diperkirakan lebih banyak kapal nelayan akan menghentikan operasi mereka, yang pada gilirannya dapat memicu kelangkaan ikan di pasar dan menambah beban ekonomi bagi keluarga nelayan. Oleh karena itu, solusi jangka pendek maupun jangka panjang sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlanjutan sektor perikanan tradisional di Muara Angke.













