Back to Bali – 24 April 2026 | Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK‑SNBT) 2026 resmi digelar sejak 21 April hingga 30 April, dengan salah satu pusat pelaksanaannya berada di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) kampus Pondok Labu, Jakarta Selatan. Di tengah riuhnya sesi pertama, seorang peserta bernama Nurfitria Sandra, 19‑tahun, tampak keluar dari ruang ujian dengan ekspresi campur lega dan tegang.
Sandra mengaku tidak panik, namun tetap khawatir akan kemampuan menjawab soal‑soal yang dirasa paling menantang, terutama pada bagian Penalaran Kuantitatif (PK) dan Penalaran Matematika (PM). Ia menuturkan bahwa ini adalah kali kedua ia mengikuti UTBK; pada putaran sebelumnya ia tidak berhasil lolos.
Profil Sandra dan Persiapan
Menurut Sandra, persiapan menghadapi UTBK kali ini berlangsung intensif selama lima hingga enam bulan. “Sudah jauh sih, kalau bisa dibilang ya, enam bulan atau lima bulan,” ujarnya. Selama periode tersebut, ia menyeimbangkan antara belajar dan pekerjaan paruh waktu, termasuk menjadi barista di sebuah kafe serta menjaga toko hijab. “Aku kerja, waktu itu di kafe, terus juga jaga store hijab,” jelasnya.
Menjelang ujian, Sandra memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan agar dapat fokus sepenuhnya pada belajar. “Aku sempat me‑resign karena mau fokus belajar, supaya mendekati UTBK,” katanya.
Keputusan Beralih ke Teknik Pertambangan
Berbeda dengan percobaan sebelumnya yang mengincar jurusan hukum, Sandra kini menetapkan satu tujuan tunggal: masuk ke program Teknik Pertambangan di Institut Teknologi Bandung (ITB). “Aku ambil ITB, pertambangan. Cuma satu saja. Emang sudah mau banget di situ,” ujarnya dengan keyakinan.
Motivasi Sandra beralih ke bidang pertambangan didasari oleh ketertarikan pada praktik lapangan. “Kalau UTBK sebelumnya aku ngambil jurusan hukum, tapi sekarang lebih tertarik ke dunia lapangan. Mereka itu kan kalau pertambangan praktiknya terjun ke lapangan ya. Seru saja lihatnya,” ungkapnya.
Langkah Resign dan Dukungan Keluarga
Keluarga Sandra tidak memberikan tekanan dalam menentukan pilihan jurusan atau kampus. Orang tuanya justru menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada anaknya. “Kalau orang tua ngikut saja sih, karena kita yang menjalani. Jadi ya sudah ambil yang mau kamu,” katanya.
Sandra juga menegaskan bahwa jarak kampus tidak menjadi halangan. “Enggak masalah sih, namanya buat pendidikan apa saja diperjuangin,” tambahnya, menandakan kesiapan untuk pindah ke Bandung jika diterima.
Harapan dan Tantangan di Depan
Dengan hasil UTBK yang masih menunggu, Sandra berharap dapat lolos langsung ke ITB tanpa harus mengulang seleksi di tahun berikutnya. “Harapannya mudah‑mudahan tahun ini lolos. Amin, amin di ITB, amin supaya enggak ikutan UTBK lagi,” ucapnya penuh harap.
Jika Sandra berhasil masuk, ia berencana melanjutkan studi di bidang pertambangan yang menuntut kombinasi teori kuat dan pengalaman lapangan. Ia menyadari tantangan akademik yang ketat, namun yakin bahwa disiplin yang ia bangun selama masa persiapan, termasuk keputusan berani mengundurkan diri dari pekerjaan, akan menjadi modal utama.
Kasus Sandra mencerminkan pola baru di kalangan generasi muda: mengorbankan pekerjaan sementara untuk mengejar target pendidikan tinggi, sekaligus menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam keputusan karier. Keberanian Sandra untuk fokus pada satu jurusan impian sekaligus menyiapkan diri secara matang menjadi contoh inspiratif bagi calon peserta UTBK lainnya.













