Trisha Eungelica Resmi Sumpah Dokter: Nenek dan Adik Satu-satunya Penonton, Ferdy Sambo Muncul dalam Pidato

Back to Bali – 06 Mei 2026 | Jakarta, 5 Mei 2026 – Trisha Eungelica, putri bungsu mantan perwira tinggi Polri Ferdy Sambo, resmi menggelar..

3 minutes

Read Time

Trisha Eungelica Resmi Sumpah Dokter: Nenek dan Adik Satu-satunya Penonton, Ferdy Sambo Muncul dalam Pidato

Back to Bali – 06 Mei 2026 | Jakarta, 5 Mei 2026 – Trisha Eungelica, putri bungsu mantan perwira tinggi Polri Ferdy Sambo, resmi menggelar upacara sumpah dokter pada Sabtu (4/5) lalu. Upacara yang berlangsung sederhana ini hanya dihadiri oleh neneknya yang berusia 78 tahun dan adik laki‑lakinya yang berusia 22 tahun, menandai momen penting dalam karier medis Trisha setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran di Universitas Indonesia.

Acara berlangsung di sebuah aula kecil di Rumah Sakit Universitas, dengan suasana khidmat namun minim sorotan media. Pada kesempatan itu, Trisha menyampaikan rasa terima kasihnya kepada keluarga, dosen, serta rekan‑rekan sejawat yang telah mendukungnya selama menempuh pendidikan selama delapan tahun. Ia menegaskan komitmen untuk mengabdi kepada masyarakat, terutama dalam bidang kesehatan anak dan ibu.

Walaupun Ferdy Sambo tidak hadir secara fisik, namanya sempat disebut oleh Trisha dalam sambutan singkat. Ia menyebut ayahnya sebagai sosok yang selalu menginspirasi ketangguhan dan dedikasi, meski saat ini Ferdy tengah berada di dalam proses hukum terkait kasus pembunuhan berencana yang melibatkan mantan rekan kerjanya. “Ayah saya selalu mengajarkan nilai kejujuran dan tanggung jawab. Saya berharap dapat mengaplikasikan nilai‑nilai itu dalam praktek kedokteran,” ujar Trisha dengan suara bergetar.

Ferdy Sambo dan Penampilan Terakhir di Gereja

Beberapa minggu sebelum upacara Trisha, Ferdy Sambo muncul terakhir kali di depan publik saat ia memberikan khutbah singkat di sebuah gereja di Jakarta Selatan. Penampilan tersebut menjadi sorotan media karena sebelumnya ia jarang muncul di depan umum akibat penahanan dan proses persidangan. Dalam khutbahnya, Ferdy menekankan pentingnya pertobatan dan harapan akan masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.

Setelah khutbah, Ferdy sempat menuliskan surat pribadi untuk Trisha, yang kemudian dibacakan oleh neneknya pada upacara sumpah dokter. Surat tersebut berisi ungkapan kebanggaan dan harapan ayah kepada putrinya, serta janji untuk tetap mendukung secara moral meskipun tidak dapat hadir secara fisik. “Kau adalah cahaya yang akan menerangi banyak jiwa, Trisha. Jadilah dokter yang tidak hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga menguatkan hati,” tulis Ferdy dalam surat tersebut.

Penghargaan Kecil yang Penuh Makna

Selain kehadiran keluarga inti, upacara ini juga dimeriahkan dengan pemberian karangan bunga khas yang dirangkai oleh para perawat rumah sakit. Bunga mawar putih melambangkan kesucian profesi medis, sementara bunga melati menandakan harapan akan kesehatan bangsa. Semua elemen tersebut menambah kehangatan suasana meski tanpa sorotan publik yang meluas.

Berikut rangkaian acara singkat yang dilaporkan oleh panitia:

  • 08.00 – Pembukaan oleh Direktur Fakultas Kedokteran
  • 08.15 – Sambutan nenek Trisha
  • 08.30 – Penyampaian surat dari Ferdy Sambo
  • 08.45 – Sumpah dokter yang dipimpin Dekan Fakultas
  • 09.00 – Penyerahan simbolik stethoscope dan karangan bunga

Acara berakhir pada pukul 09.30 dengan foto keluarga yang diabadikan oleh tim dokumentasi internal rumah sakit.

Momen ini tidak hanya menandai kelulusan seorang dokter muda, tetapi juga menambah dimensi baru dalam narasi publik tentang keluarga Sambo. Meskipun Ferdy Sambo kini menjadi sosok yang kontroversial di mata publik, dukungan emosional yang ditunjukkan kepada putrinya melalui surat dan penyebutan namanya dalam upacara menunjukkan ikatan keluarga yang tetap kuat.

Para pengamat menilai bahwa peristiwa ini dapat menjadi titik balik dalam persepsi publik terhadap Ferdy Sambo. “Kehadiran ayah dalam bentuk surat dan doa memberi gambaran manusiawi di balik kasus hukum yang menjeratnya. Hal ini dapat menurunkan intensitas demonisasi, namun tidak mengubah fakta‑fakta hukum yang sedang berjalan,” ujar Dr. Arif Hidayat, pakar komunikasi politik.

Trisha, yang kini bergabung dengan unit gawat darurat di rumah sakit tersebut, menyatakan kesiapan untuk menghadapi tantangan dunia medis yang penuh tekanan. “Setiap hari saya akan berjuang menyelamatkan nyawa. Nama keluarga tidak lagi menjadi beban, melainkan motivasi untuk berkontribusi lebih,” tuturnya.

Dengan latar belakang keluarga yang penuh dinamika, perjalanan Trisha sebagai dokter muda diharapkan menjadi contoh ketangguhan generasi penerus. Sementara proses hukum Ferdy Sambo terus berjalan, dukungan moral keluarga tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kisah mereka.

About the Author

Bassey Bron Avatar