Back to Bali – 05 Mei 2026 | Sejak video singkat beredar di TikTok pada 4 Mei 2026, klip anak Jaden Bowen Yap, putra selebriti Denise Chariesta, yang menggigit anak lain bernama Briella Claire Humphries di sebuah playground menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Rekaman berdurasi kurang dari satu menit menampilkan kedua anak yang awalnya tampak ceria meluncur di perosotan, berlarian, dan menjelajahi berbagai mainan di area bermain sebuah mall. Saat mereka berada di bawah perosotan, Jaden tiba‑tiba mendekat, mengenggam pipi Briella, lalu menggigit bagian samping wajahnya. Briella langsung terkejut, meneteskan air mata, sementara orang tua mereka bergegas menenangkan suasana.
Reaksi orang tua dan netizen
Denise Chariesta, yang berada di samping Jaden, segera menghampiri dan berkata kepada anaknya dengan nada lembut, “no no”. Ia juga memeriksa kondisi Briella untuk memastikan tidak ada luka serius. Di sisi lain, ibu Briella, Niken Havana, juga melontarkan kata yang sama kepada Jaden dan membantu Briella bangkit kembali. Kedua ibu tampak panik namun berusaha menenangkan anak masing‑masing.
Setelah video menjadi viral, komentar netizen mengalir deras. Sebagian mengkritik cara Denise menegur anaknya yang dianggap terlalu lunak, menyarankan agar Jaden diminta meminta maaf secara eksplisit. Ada pula yang menilai insiden ini wajar terjadi pada anak usia satu hingga tiga tahun, sehingga tidak perlu dilebih‑lebihkan.
Pendapat pakar tentang perilaku menggigit pada anak
Psikolog klinis Aubyn Stahmer, Ph.D., dari Children’s Hospital di San Diego, menjelaskan bahwa menggigit merupakan salah satu bentuk ekspresi emosi pada anak balita. Pada rentang usia satu hingga tiga tahun, anak belum sepenuhnya menguasai kemampuan verbal untuk mengungkapkan frustrasi, marah, atau keinginan. Menggigit menjadi cara cepat untuk menarik perhatian atau mengekspresikan perasaan yang belum dapat diartikulasikan.
Stahmer menambahkan bahwa meskipun perilaku ini dapat dianggap kasar, penting bagi orang tua untuk tidak mengabaikannya. Pengawasan ketat, konsistensi dalam memberi batasan, dan pengajaran cara alternatif mengekspresikan diri—seperti menggunakan kata “maaf” atau “saya tidak suka”—adalah langkah kunci agar kebiasaan menggigit tidak berlanjut seiring pertumbuhan anak.
Tips mengatasi kebiasaan menggigit bagi orang tua
- Segera beri respons tegas namun tenang setiap kali anak menggigit, misalnya dengan mengatakan “Tidak boleh menggigit, itu menyakiti teman”.
- Ajak anak mengidentifikasi perasaan yang mendasari tindakan, seperti rasa takut, cemburu, atau keinginan mendapatkan perhatian.
- Latih anak untuk meminta maaf secara verbal setelah kejadian, sehingga ia belajar bertanggung jawab atas tindakannya.
- Berikan alternatif positif, seperti mengunyah mainan teether atau menggunakan kata‑kata untuk mengekspresikan emosi.
- Pastikan lingkungan bermain aman dan diawasi oleh orang dewasa, terutama pada area dengan banyak anak yang belum saling mengenal.
Pengawasan orang tua di playground
Video tersebut juga memperlihatkan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi anak di tempat umum. Baik Denise maupun Niken tampak selalu berada dalam jarak pandang anaknya, siap interveni saat diperlukan. Meskipun demikian, insiden menggigit tetap terjadi, menandakan bahwa pengawasan saja belum cukup tanpa adanya edukasi emosional yang konsisten.
Playground modern biasanya dilengkapi dengan tenaga keamanan dan pengawas, namun tanggung jawab utama tetap berada pada orang tua atau pengasuh yang mengenal karakteristik perilaku masing‑masing anak. Kesigapan dalam menanggapi situasi dapat meminimalisir potensi konflik dan membantu anak belajar mengontrol impuls.
Implikasi bagi perkembangan sosial anak
Insiden menggigit ini sekaligus menjadi cermin bagaimana anak-anak belajar berinteraksi sosial. Pada fase perkembangan awal, anak belajar batasan pribadi, empati, dan cara berkolaborasi. Pengalaman negatif seperti digigit dapat menjadi pelajaran penting bila ditangani dengan tepat—yaitu melalui dialog terbuka, penegakan batas, dan dukungan emosional.
Jika perilaku menggigit dibiarkan tanpa intervensi, ada risiko anak akan menganggap agresi fisik sebagai cara normal berkomunikasi, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi hubungan interpersonal di sekolah atau lingkungan sosial lainnya.
Dengan pendekatan yang sabar namun konsisten, orang tua dapat memanfaatkan momen ini untuk menumbuhkan keterampilan sosial yang lebih sehat pada anak, sekaligus mengedukasi anak lain tentang pentingnya menghormati batas pribadi.
Secara keseluruhan, video viral ini bukan sekadar tontonan menggemaskan, melainkan mengingatkan publik akan tantangan dalam membimbing anak usia balita melalui fase emosional yang intens. Pengawasan yang tepat, edukasi emosional, dan respons yang konsisten menjadi kunci utama agar kebiasaan menggigit tidak menjadi pola tetap dalam perilaku anak.













