Mbah Mardijiyono, Jemaah Haji Tertua 2026 di DIY-Jateng, Usianya Mencapai 103 Tahun!

Back to Bali – 19 April 2026 | Di tengah riuhnya persiapan Ibadah Haji 2026, nama Mbah Mardijiyono asal Bantul kembali menjadi sorotan. Pada usia..

3 minutes

Read Time

Mbah Mardijiyono, Jemaah Haji Tertua 2026 di DIY-Jateng, Usianya Mencapai 103 Tahun!

Back to Bali – 19 April 2026 | Di tengah riuhnya persiapan Ibadah Haji 2026, nama Mbah Mardijiyono asal Bantul kembali menjadi sorotan. Pada usia 103 tahun, lansia berusia lebih dari satu abad ini berhasil menunaikan rukun Islam kelima, menempati posisi teratas dalam deretan jemaah haji tertua yang berangkat dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng).

Keberanian dan tekad kuat Mbah Mardijiyono menginspirasi banyak kalangan, terutama generasi muda yang menyaksikan semangat beliau dalam menunaikan ibadah haji meski harus melewati tantangan usia yang tidak ringan. Sejak kecil, Mardijiyono telah menekuni nilai-nilai keagamaan yang ditanamkan oleh keluarganya, sebuah tradisi yang kemudian mengantarkannya ke Tanah Suci pada usia lebih dari seratus tahun.

Profil Singkat Mbah Mardijiyono

  • Nama lengkap: Mardijiyono
  • Tempat lahir: Bantul, DI Yogyakarta
  • Tanggal lahir: 1919
  • Usia saat berangkat haji: 103 tahun
  • Pekerjaan sebelum pensiun: Petani dan guru les bahasa Jawa

Berawal dari latar belakang pertanian, Mardijiyono menempuh pendidikan formal hingga menjadi seorang guru les bahasa Jawa di kampung halamannya. Meskipun tidak menempuh pendidikan tinggi, ia selalu menekankan pentingnya ilmu agama kepada murid-muridnya. Kebiasaan membaca Al‑Qur’an setiap pagi dan senantiasa mengajarkan nilai-nilai moral menjadikan beliau sosok teladan di masyarakat.

Persiapan Haji di Usia Lanjut

Menyiapkan perjalanan haji bagi seorang septuagenarian bukanlah perkara mudah. Namun, Mardijiyono melakukannya dengan bantuan keluarga, organisasi keagamaan setempat, serta tim medis yang memantau kondisi kesehatannya secara rutin. Pemeriksaan kesehatan lengkap meliputi tes jantung, fungsi paru, serta evaluasi mobilitas fisik. Dokter menyatakan bahwa meskipun memiliki tekanan darah tinggi, kondisi jantung Mardijiyono berada dalam batas aman untuk melakukan perjalanan jauh.

Selain aspek medis, persiapan logistik juga menjadi fokus utama. Keluarga Mardijiyono menyiapkan pakaian ihram yang khusus dirancang untuk ukuran tubuh lansia, serta memesan kursi khusus di pesawat yang memungkinkan mobilitas lebih baik. Tim pendampingan yang berpengalaman juga disiapkan untuk membantu selama proses ibadah, mulai dari tawaf hingga sa’i.

Deretan Jemaah Haji Tertua DIY‑Jateng 2026

Selain Mardijiyono, beberapa jemaah senior lainnya turut berangkat dalam rombongan yang sama. Berikut ini merupakan daftar singkat jemaah haji tertua yang berangkat dari DIY dan Jateng pada tahun 2026:

  1. Ny. Siti Aminah, 98 tahun, asal Semarang, Jawa Tengah.
  2. Bapak Hadi Susanto, 96 tahun, asal Sleman, DIY.
  3. Mbah Abdul, 95 tahun, asal Purworejo, Jawa Tengah.
  4. Ny. Rahayu, 94 tahun, asal Kulon Progo, DIY.

Keempat sosok tersebut, bersama Mardijiyono, menjadi contoh nyata bahwa semangat menunaikan ibadah haji tidak mengenal batas usia. Pemerintah Provinsi DIY dan Jawa Tengah, melalui Dinas Penyelenggaraan Haji, memberikan prioritas khusus bagi jemaah senior, termasuk fasilitas medis darurat serta pendampingan selama di tanah suci.

Reaksi Masyarakat dan Media

Kehadiran Mardijiyono di Tanah Suci mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Warga Bantul menggelar acara pertemuan singkat di balai desa untuk memberikan dukungan moral sekaligus menyampaikan doa. Di media sosial, unggahan mengenai keberanian Mardijiyono menyebar cepat, menimbulkan rasa kagum dan motivasi bagi banyak orang.

Para tokoh agama setempat menilai keberanian lansia tersebut sebagai bukti nyata bahwa keimanan yang kuat dapat mengatasi rintangan fisik. “Usia hanyalah angka. Ketulusan hati dan niat yang tulus kepada Allah akan selalu menemukan jalan,” ujar Ustadz Ahmad Saeful, ketua Majelis Taklim setempat.

Makna Spiritual dan Sosial

Keberangkatan Mardijiyono bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan simbol semangat kebersamaan dalam komunitas Muslim. Ia menjadi inspirasi bagi keluarga, sahabat, dan seluruh lapisan masyarakat untuk tidak menyerah pada keterbatasan fisik. Dalam pandangan banyak orang, pencapaian ini menegaskan bahwa nilai-nilai keagamaan dapat menuntun individu melewati segala rintangan, termasuk usia.

Selain itu, keberadaan jemaah senior seperti Mardijiyono juga menyoroti pentingnya kebijakan pemerintah dalam menyiapkan infrastruktur yang ramah lansia, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, khususnya selama musim haji yang padat.

Dengan menunaikan ibadah haji pada usia 103 tahun, Mbah Mardijiyono menuliskan sebuah babak baru dalam sejarah keagamaan Indonesia. Keberaniannya menjadi contoh konkret bahwa tekad, dukungan keluarga, serta kebijakan publik yang tepat dapat menjembatani impian spiritual, tak peduli berapa usia yang dimiliki.

Semoga perjalanan suci Mardijiyono menjadi cermin bagi generasi mendatang, mengajarkan bahwa kesabaran, ketekunan, dan keyakinan pada Allah selalu membuka pintu harapan, bahkan di usia yang paling tua sekalipun.

About the Author

Zillah Willabella Avatar